My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 62


__ADS_3

Nisa membalas chat Syam dengan sticker salam.


“Bagaimana tawaranku?” ketik Syam lagi.


Alih-alih membalas, Nisa justru menonaktifkan gawainya, lalu tidur.


Ya, pikirannya benar-benar kacau saat ini. Otaknya sedang tidak bisa bekerja dengan baik. Perasaannya abu-abu.


Saat ini, bermimpi jauh lebih menyenangkan baginya. Lelah batin membuatnya merasa lemas, tak ingin melakukan apa-apa, dan tidur adalah solusi yang paling tepat untuknya.


“Ini Nisa kenapa ya? Kalau nggak mau harusnya bilang nggak, malah nggak dibalas. Tapi katanya kalau perempuan diam itu berarti dia mau. Ok, anggap saja Nisa mau. Jadi nggak sabar pengen cepat-cepat tamat SMA.”


Syam senyum-senyum sendiri setelah menyimpulkan maksud dari respon Nisa. Diletakkannya gawainya, lalu tidur.


Di subuh hari.


Nisa kembali mengakifkan gawainya. Yup, pikirannya kembali jernih setelah melepas penat. Dibukanya aplikasi WAnya.


“Ini nih yang saya suka dari Syam. Dia itu nggak neko-neko. Nggak pernah maksa. Chatnya nggak dibalas ya dia legowo aja. Nggak kayak si Bear, apa-apa harus dituruti. Kalau nggak, dia bakal kebakaran jenggot. Tapi bagaimana pun, saya tidak boleh gegabah dalam bertindak.” Ia membatin.


“Saya tidak tahu akan seperti apa rumah tangga saya nanti dengan pak Ayyas. Terserah Allah saja maunya gimana. Kalau nantinya pak Ayyas meninggalkan saya demi bu Susan, itu berarti pak Ayyas bukan jodoh yang terbaik untuk saya. Terima kasih telah menyukai saya. Saya sangat salut dengan keberanian kamu. Tapi maaf, untuk saat ini saya belum bisa memutuskan apa-apa.”


Setelah membalas chat Syam, Nisa meletakkan gawainya ke posisi semula. Lanjut ke dapur untuk memasak. Dan bersiap-siap untuk ke sekolah setelahnya.


Pak Ayyas yang berada di kamar, langsung menggunakan kesempatan itu untuk memeriksa gawai Nisa. "Tidak ada yang mencurigakan."


Setelah puas memeriksa isi chat istrinya, pak Ayyas meletakkan kembali alat komunikasi cepat itu. Untung saja ia bergerak cepat, karena hanya beberapa detik setelahnya Nisa memasuki kamar.


“Kenapa kamu menatap saya seperti itu?” tanya pak Ayyas sewot.


“Apaan sih Pak? Masih pagi udah sensi gitu."


“Bukannya kamu sedang memasak tadi?”


“Iya, emang kenapa Pak?”


“Terus ngapain kamu di sini kalau lagi masak?”


“Mau ambil pembalut pak. Supaya nanti bisa langsung mandi setelah masak.”


“Tunggu apa lagi? Kamu kan sudah ambil pembalut. Cepat sana masak! Sudah pukul 6 ini. Jangan sampai kita terlambat ke sekolah.”


Setelah masak.

__ADS_1


Nisa langsung mandi dan bersiap-siap ke sekolah. Seperti biasa, mereka sarapan dulu sebelum berangkat ke sekolah.


Di sekolah.


Di jam pelajaran Seni Budaya, semua teman kelas Nisa ke ruang seni untuk latihan dance. Hanya Juliana dan Nisa yang tidak ikut bergabung.


“Sa, shalat dhuha yuk!” ajak Juliana.


“Saya lagi menstruasi Jul,” balas Nisa.


“Kalau gitu saya ke mushallah dulu ya,” pamit Juliana.


Juliana agak lama di mushallah. Ia tidak hanya shalat dhuha, tapi juga membaca Al-Qur’an selama beberapa menit.


Setelah kembali dari mushallah, ia langsung mendekati Nisa untuk memberitahu kronologi yang terjadi tadi malam.


“Nisa, saya minta maaf ya. Tadi malam saya terpaksa memberitahu Syam tentang pernikahan kamu dengan pak Ayyas. Dia mengancam akan masuk ke rumah mengaku sebagai pacar saya, kalau saya tidak menceritakan yang sebenarnya ke dia. So, willy nilly I told him the truth. Tapi tenang saja, dia sudah bersumpah di bawah Al-Qur’an kok untuk tidak memberitahu orang lain.”


“It is okay Jul. In syaa Allah Syam itu nggak ember. Btw, ternyata Syam beneran suka sama saya, hufftt. Kalau kamu di posisi saya, kamu bakal ngambil langkah apa Jul?” tanya Nisa tidak karuan.


“Saya juga bingung Sa. Kalau saya sih belum mikirin tentang cinta. Dulu memang sempat mikirin itu, pas belum tau kalau pak Ayyas itu suamimu ha ha ha. Sorry, sorry, malah ngakak. Kalau menurut kata hatimu bagaimana?” Juliana kembali serius.


“Setelah berpikir lama, saya merasa kalau saya itu cuman possessive ke Bear. Saya juga hanya sebatas kagum ke Syam, karena dia yang tadinya bad boy jadi serius gitu untuk belajar agama.”


“Kalau ke Ridwan?”


“Di antara mereka bertiga, hatimu lebih condong ke siapa?”


“Ke Bear lah, soalnya kami sudah resmi menikah. Akhir-akhir ini dia baik banget loh Jul. Tapi percuma, perasaanku juga sudah luntur. Sakit aja gitu menyadari kalau ternyata selama ini saya itu kayak ngemis cinta gitu ke dia. Dan sekarang, kalau dia mau nikah sama bu Susan kayaknya saya bakal baik-baik saja. Mending gitu kan Jul? Daripada jadi suami saya, tapi hatinya ke bu Susan. Ya percuma, mending saya jadi janda kan?”


“Saya juga bingung Sa. Atau gini aja, lupakan saja tentang cinta. Kita fokus kuliah saja di UPI. Kita ngekost bareng Sa. Pasti seru deh.”


“Iya Jul, planning saya juga gitu. Daripada mikirin cinta-cinta, mending fokus ke pendidikan. Masalah jodoh terserah Allah saja. Toh kalau pak Ayyas bukan jodoh saya, nanti juga bakal Allah pisahkan. Benci aja gitu terus-terusan galau karena cinta. Gaje banget dah.”


Percakapan tentang perasaan Nisa mereka akhiri saat teman kelas yang lain memasuki kelas.


“Uangku hilang,” ucap Ekki saat membuka tas untuk mengambil uangnya.


“Berapa?” tanya Atul.


“Lima puluh ribu,” ucap Ekki dengan raut muka sedih.


“Tadi yang tinggal di kelas siapa?” tanya Atul pada semua siswa yang ada di kelas.

__ADS_1


“Cuman Nisa sama Juliana yang tidak ikut ke ruang seni,” sahut Kiki.


“Kita lapor ke guru saja!” saran Atul.


“Iya. lapor ke guru saja,” sahut Kiki.


Juliana dan Nisa lalu dipanggil ke Ruang BK setelah Ekki melaporkan masalahnya ke guru.


“Katanya cuman kalian berdua yang berada di kelas tadi?” tanya pak Masri pada Juliana dan Nisa.


“Iya Pak,” jawab Juliana dan Nisa secara bersamaan.


“Apa saja yang kalian lakukan saat teman yang lain ke ruang seni?”


“Saya cuman duduk di kelas Pak,” jawab Nisa.


“Saya juga Pak,” sahut Juliana.


“Sekarang kalian jujur ke saya, siapa di antara kalian yang mengambil uang Ekki?”


“Saya tidak mengambil uang Ekki pak,” jawab Nisa cepat.


“Saya juga tidak Pak,” jawab Juliana juga.


“Lebih baik kalian mengaku sekarang. Atau kalian akan lebih malu setelah ketahuan nant.”


“Saya tidak akan mengakui sesuatu yang tidak saya lakukan Pak.” Nisa kukuh.


“Iya, kami tidak mencuri. Kami juga baru tahu kalau uang Ekki hilang,” tambah Juliana.


“Kalau begitu kita langsung ke kelas saja. Periksa tas kalian berdua.” Pak Masri lalu berdiri dari duduknya.


Mereka langsung berjalan ke kelas Nisa.


Pak Masri menggeledah tas Juliana, ada uang dua puluh ribu di dalamnya. Juliana merasa lega karena telah terbukti dia tidak bersalah.


Pak Masri kini beralih membuka tas Nisa. Sontak, semua tercengang melihat pak Masri mendapati uang lima puluh ribu di dalam tas Nisa.


“Ini uang siapa?” tanya pak Masri pada Nisa.


“Aduh, bagaimana saya akan mengatakannya. Itu kan uang dari Bear. Kalau saya bilang yang sebenarnya, yang lain pasti akan curiga akan hubungan saya dengan Bear. Tapi kalau saya diam, yang lain pasti mengira kalau saya yang mengambil uang Ekki.” Nisa membatin sejenak.


“Itu uang saya Pak. Tadi pagi saya pesan tomat ke ibunya Nisa. Kata ibunya, uangnya titip di Nisa saja. Tomatnya besok diantar Nisa ke sekolah,” bela Pak Ayyas.

__ADS_1


“Kalau begitu siapa yang mengambil uang Ekki? Sementara hanya mereka berdua tadi yang di kelas,” ucap Pak Masri kebingungan.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2