
Nisa mendapati pak Ayyas yang tengah berdiri di belakang Syam, suaminya tersebut menatap tajam ke arahnya.
Tatapan pak Ayyas seperti menggambarkan kecemburuan. Nisa hanya terdiam melihatnya.
Di satu sisi, Nisa selalu berusaha menjaga perasaan pak Ayyas. Ia selau merespon laki-laki lain seadanya karena menghargai pernikahannya dengan pak Ayyas.
Tapi di sisi lain, Nisa juga tidak sanggup kalau terus-terusan hanya dijadikan figuran dalam kisah pernikahan mereka.
Setelah membeli oleh-oleh, mereka kembali menaiki bus.
Selang beberapa jam. Bus berhenti di pekarangan sekolah.
Seperti biasa, Nisa akan pulang bersama pak Ayyas. Tentunya dengan berpura-pura terlebih dahulu.
“Yang tidak punya penjemput, boleh nebeng di mobil saya.” Pak Ayyas berkata seperti itu untuk menghindari kecurigaan yang lain akan hubungannya dengan Nisa.
“Nisa, ayo!” ajak Juliana.
“Bu Susan, ayo pulang!” ajak pak Bahar.
“Saya pulang sama pak Ayyas saja, Pak." Ia menolak dengan lembut.
Segera ia memasuki mobil pak Ayyas. Di dalam ternyata sudah ada Juliana dan Nisa yang duduk berdampingan.
“Padahal sudah ditawarin naik mobil pak Bahar. Malah join di sini juga. Hufttt,” keluh Nisa dalam hati.
“Nisa,” ucap Juliana memulai pembicaraan.
“Apa Jul?” tanya Nisa dengan perasaan tidak bersemangat. Bagaimana tidak, bu Susan selalu saja berusaha mendekati pak Ayyas.
“Apa yang unik dari ulat bulu?” tanya Juliana agak melantangkan suaranya agar terdengar oleh pak Ayyas dan bu Susan.
“Ulat bulu? Hemmm, suatu hari ia akan menjadi kupu-kupu yang cantik.”
“Tidak semua ulat bulu akan berakhir menjadi kupu-kupu Sa.”
“Iya sih, tapi setidaknya ulat bulu bisa mempertahankan diri dengan bulunya yang bikin gatal.”
Nisa menjawab dengan polos, tidak mengerti kalau Juliana sedang menegur bu Susan menggunakan majas.
“Mempertahankan diri dengan melukai yang lain maksudmu?”
__ADS_1
“Bukan melukai Jul, tapi bikin gatal.” Nisa ngegas.
“Sama aja Nisa. Terluka ataupun gatal, sama-sama merugikan.”
“Kalau gatal mah tinggal digaruk doang Jul. Repot amat dah.” Nisa mulai kesal dengan pembahasan Juliana yang dianggap unfaedah.
“Apa yang unik dari kepompong?” tanya Juliana lagi.
“Kepompong itu tabah. Demi menjadi kupu-kupu, ia harus berjuang dan bertahan di dalam kokon selama 12 hari.”
“Dan setelah itu ia akan menjadi kupu-kupu yang terbang dengan bebas,” Juliana menambahkan.
“Kupu-kupu memang terbang bebas Jul. Tapi ujung-ujungnya tetap ke bunga juga untuk mengambil serbuk sari.”
“Kau benar Sa, it means kupu-kupu tidak akan bertahan pada bunga yang tidak memiliki serbuk sari dong?”
“Ya iyalah Jul, yang dicari kan serbuk sarinya. Ngapain hinggap kalau nggak ada serbuk sarinya.”
“Iya Sa. Kupu-kupu memang harus move on ke bunga yang lain. Bunga yang bisa menyediakan serbuk sari untuknya.”
Nisa mulai mengerti arah pembicaraan Juliana.
“Ya iya lah Jul. Hanya kupu-kupu bodoh yang mau terus-terusan bertahan dengan bunga yang seperti itu. Kalau ada bunga yang lain, kenapa harus berfokus pada bunga yang tak mampu memberikan kupu-kupu kebahagiaan.”
Mereka kini tiba di depan rumah Juliana.
Juliana segera turun dari mobil pak Ayyas. “See you on Monday at school Nisa!” ucapnya lalu berjalan masuk ke rumahnya.
“See you Jul. Have a nice dream ya!” balas Nisa hangat pada sahabatnya itu.
Kini, hanya ada mereka bertiga di mobil. Bu Susan juga segera turun setelah tiba di depan kostnya.
“Ma kasih ya Kak,” ucapnya seperti sedang berbicara pada kekasihnya.
“Sama-sama,” balas pak Ayyas begitu ramah.
“Maju ke depan!” perintah Pak Ayyas seperginya bu Susan.
“Untuk apa Pak?” tanya Nisa kesal.
“Supaya kita bisa ngobrol.” Pak Ayyas seolah mengabaikan perasaan jengkel Nisa atas sikapnya barusan.
__ADS_1
“Saya lagi malas ngobrol Pak.”
“Terus yang tadi sama Juliana itu apa? Sampai bahas pelajaran biologi segala.”
“Beda orang, beda sikap. Btw, antar ke rumah saja. Besok kan libur, kangen mau ngumpul sama Wahdah dan Aisyah. Mau singgahin roti ini juga untuk kak Sinta.”
“Terus saya bagaimana?”
“Ya, bapak pulang saja ke rumah,” balas Nisa seperti tak ingin berada dekat dengan pak Ayyas.
“Apa kata orang tuamu kalau saya tidak ikutan nginap. Apalagi besok hari Ahad.”
“Terserah Bapak saja lah.” Nisa sedang tidak mood untuk beradu argumen dengan suami jahatnya itu.
Setelah beberapa menit, mereka tiba di rumah Nisa. Mengetuk pintu, lalu mengucapkan salam.
Ibu Nisa merasa begitu gembira, melihat anak dan menantunya yang berkunjung. Ia lalu mempersilakan mereka masuk.
“Ini oleh-oleh untuk ibu.” Pak Ayyas memberikan beberapa bungkus roti ke ibu Nisa.
“Kok ada roti Maros?” tanya bu Arni penasaran.
“Kami dari study tour di Makassar bu. Sekalian beli roti Maros juga.”
“Buat mama kamu ada kan?” tanya ibu Nisa lagi.
“Iya bu, ada kok.”
“Terima kasih ya nak, repot-repot gini.” Bu Arni merasa sangat senang atas sikap perhatian menantunya.
“Sudah kewajiban saya sebagai menantu untuk berbakti pada mertua bu.”
Ucapan manis pak Ayyas barusan membuat Nisa justru merasa jijik seketika. Kali ini, perasaan Nisa pada pak Ayyas benar-benar terkikis drastis.
“Aisyah sama Wahdah mana ma?” tanya Nisa ketika tak mendapati adik-adiknya di ruang tamu.
“Sudah tidur dari tadi. Oh ya kalian langsung istirahat saja di kamar. Pasti kalian lelah seharian di perjalanan.”
Nisa dan pak Ayyas lalu ke kamar. Nisa langsung membuka jendela kamar. Sudah lama ia tidak melihat langit malam di kamarnya itu. Bulan yang indah untuk perasaan yang gundah.
“Seperti bulan, sikap pak Ayyas begitu plin plan. Kadang, ia seperti bulan yang tertutupi awan. Mengabaikan perasaanku begitu saja. Kadang pula, ia seperti sabit yang cahaya nya hanya separuh. Seperti mencintaiku, tapi juga mencintai bu Susan. Kadang juga, ia seperti purnama. Memujiku, seolah aku lah satu-satunya perempuan yang terpatri di hatinya. Bahkan, kadang ia seperti bulan yang muncul di siang hari. Menawarkan bantuan tanpa ku minta.” Nisa bermonolog dalam hati.
__ADS_1
“Tutup jendelanya!
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak