
Pak Ayyas tidak menyapa mereka sama sekali. Ia lewat begitu saja.
“Pak Ayyas kenapa bisa ada di rumah kamu Sa?” tanya Syam begitu penasaran. Pertanyaan itu ia lontarkan setelah pak Ayyas tak lagi nampak di pelupuk netranya.
“Pak Ayyas itu omnya Nisa. Iya kan Nisa?” Juliana mencoba membantu Nisa.
“Aduh, kenapa Juliana bilang om sih? Bisa ketahuan sama Syam kalo gini,” batin Nisa.
“Oh, omnya toh.” Potong Syam sebelum Nisa menjawab pertanyaan Juliana.
“Ayo kita pulang Jul, ini sudah sore,” imbuhnya yang amat grogi atas keberadaan pak Ayyas di rumah itu.
Juliana yang juga merasa canggung langsung mengiyakan ucapan Syam. Padahal, ia sebenarnya masih ingin berlama-lama bercengkerama dengan Nisa.
Segera, mereka pamit pulang ke ibu Nisa.
“Kamu jangan terlalu akrab dengan laki-laki lain, sampai datang ke rumah. Ingat, kamu itu istri saya. Kamu harus jaga perasaan saya,” protes pak Ayyas.
“Syam kan hanya teman saya, tidak lebih dari itu. Saya ketemu dia juga karena dia yang datang sendiri, bukan saya yang panggil. Oh ya, terus yang Bapak lakukan selama ini dengan bu Susan itu apa? Apa pernah Bapak memikirkan perasaan saya sebagai istri?” balas Nisa.
Mereka menjadi hening setelah melontarkan argumen masing-masing. Sama-sama menyadari kalau melanjutkan pembicaraan hanya akan memperkeruh suasana.
“Kemasi barang-barangmu sekarang! Ingat janjimu kemarin,” tutur pak Ayyas beberapa menit setelah sesi diam-diaman tadi.
Setelah mengemasi barang-barang, mereka pamit ke ibu Nisa untuk segera kembali ke rumah.
“Pak Ayyas omnya Nisa. Waktu itu Nisa bilang dia sering ke rumah omnya. Terus katanya omnya gila. Pak Ayyas kan tidak gila, atau yang dimaksud itu om yang lain? Pasti ada yang tidak beres. Cincin yang Nisa pakai . . . Iya, bentuknya mirip dengan cincin yang dipakai pak Ayyas. Bedanya, punya Nisa terbuat dari emas, kalau punya pak Ayyas dari perak. Tepat sekali, Nisa jarang di rumah karena ia sering di rumah pak Ayyas, karena pak Ayyas sebenarnya adalah suaminya. Sial, baru kali ini gue suka sama cewek dan ternyata cewek yang gue suka adalah istri orang. Biasanya juga gue yang dikejar-kejar. Hufftt,” batin Syam.
__ADS_1
Ia kini dilanda rasa penasaran sekaligus rasa sedih. Setelah melakukan cocoklogi dari semua kejadian sebelumnya, ia semakin yakin kalau Nisa dan pak Ayyas adalah pasutri.
Segera, ia menghubungi kak Erna untuk meminta nomor Zulfitri. Setelah mendapatkan nomor Zulfitri, ia langsung meminta nomor Juliana.
Tanpa berlama-lama, Syam langsung menghubungi nomor Juliana yang dikasih Zulfitri tadi. Memastikan asumsinya tentang hubungan Nisa dan pak Ayyas memang benar.
“Hey Mak Lampir! Ada hubungan apa pak Ayyas dan Nisa? Mereka bukan sebatas om dan keponakan kan? Saya yakin kamu pasti menyembunyikan sesuatu selama ini,” ketik Syam.
“Mak Lampir? Siapa lagi kalau bukan Syam. Tapi darimana ya dia dapat nomorku?” batin Juliana.
“Apaan sih Syam. Bukannya ngucapin salam, malah ngatain orang. Udah gitu nuduh sembarangan lagi," balasnya.
“Jangan sok polos Jul! Kamu salah kalau berpikir kamu bisa membohongi saya. Tell me the truth, saya janji tidak akan bilang ke orang lain. Pak Ayyas sama Nisa suami istri kan?” desak Syam.
Juliana tidak menjawab chat Syam. Ia takut memberitahu Syam yang sebenarnya. Sahabat-sahabatnya saja tidak diberitahu, apalagi Syam yang bukan siapa-siapa.
Syam jadi tidak sabar ingin mengungkap kebenarannya. Segera, ia melajukan mobilnya ke rumah Juliana. Ya, hanya berbekal arahan yang diberitahukan Zulfitri.
“Assalamu ‘alaykum,” ucapnya setelah tiba di rumah yang ciri-cirinya sesuai dengan informasi yang Zulfitri berikan.
“Wa’alaykumussalam," balas Juliana.
"Suara laki-laki? Mungkin itu temannya kak Jabir, tapi kakak kan nggak di rumah. Hadeh, nyusahin aja nih temannya bertamu malam-malam gini,” tambahnya saat menuju pintu.
Jantungnya hampir copot setelah membuka pintu. Ia tidak menyangka, Syam begitu nekat mendatanginya hanya untuk menanyakan perkara hubungan Nisa dan pak Ayyas.
“Tell me the truth, atau saya masuk ke dalam dan ngaku-ngaku sebagai pacar kamu. Bayangkan Jul, apa yang akan orang tuamu katakan kalau tahu kamu ternyata punya pacar.” Syam sengaja menakut-nakuti Juliana agar mau diajak bekerjasama.
__ADS_1
“Eh. Enak aja mau masuk rumah orang seenaknya. Nggak boleh,” cegah Juliana.
“Then tell me the truth now!”
“Ok, tapi tunggu di sini dulu! Kamu nggak boleh masuk ke dalam.”
Juliana masuk ke kamar untuk mengambil Al-Qur’an. “Sekarang janji dulu di bawah Al-Qur’an ini kalau kamu tidak akan menceritakannya ke orang lain.”
Syam kemudian bersumpah di bawah Al-Qur’an.
“Now, listen to me coz gue nggak bakal ngomong dua kali. Nisa dan pak Ayyas memang suami istri. Mereka menikah karena dijodohkan, bukan atas dasar suka sama suka. Kamu pasti suka kan sama Nisa? Nggak perlu dijawab, gue udah tau jawabannya. I just wanna tell you kalau kamu itu beruntung karena pak Ayyas does not love Nisa, coz he likes bu Susan. Eits, jangan senang dulu! Nisa sudah pernah menolak lelaki lain karena diminta menunggu beberapa tahun untuk dihalalkan. So, kalau kamu benar-benar serius ke Nisa, jangan buat dia menunggu lama. Dia menginginkan hubungan yang serius. So, kalau tidak serius, mending lu mundur aja!”
Juliana berharap dengan mengatakan kebenarannya, Syam bisa membuat Nisa bahagia. Tidak bersedih terus karena ulah pak Ayyas.
“You may back now, gue takut kalau orang tua gue lihat lu di sini. Nanti lu dikira pacar gue lagi, bisa digantung gue karena dikira pacaran.”
“Tenang aja Jul, gue bakal balik kok. Thank you so much ya for your honesty.”
Hati Syam kini berbunga-bunga setelah mendengar penjelasan Juliana. “Yes, Nisa dan pak Ayyas memang suami istri, tapi pak Ayyas tidak cinta ke Nisa. Ada peluang dong buat gue untuk ngedeketin Nisa. Emang iya sih gue enggan nikah muda, tapi kalau sama Nisa... Of course I want.” Ia membatin kegirangan.
Sesampainya di rumah, ia bergegas mengirimkan pesan via WA ke Nisa.
“Assalamu ‘alaykum Nisa. Saya sudah tahu tentang hubungan kamu yang sebenarnya dengan pak Ayyas. Kamu tenang saja, saya janji tidak akan membeberkan tentang pernikahanmu itu ke orang lain. Maaf kalau ngomong gini, saya juga sudah tahu kalau pak Ayyas suka sama bu Susan. Uhibbuki fillah Nisa, saya serius suka sama kamu. Kalau kamu maunya menikah, setelah kita tamat sekolah nanti saya akan langsung melamar kamu. Kamu tidak perlu cemas masalah ekonomi setelah berumah tangga, meski masih sekolah, saya sudah mapan kok. Sudah beberapa tahun saya beternak lele, dan alhamdulillah, incomenya lumayan. Saya juga janji akan belajar agama dengan lebih giat, termasuk ilmu pra nikah juga. Supaya nanti, saya bisa jadi suami yang baik buat kamu. Dan In Syaa Allah akan menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita. Aamiin.”
“Jadi bener yang dibilang Zulfitri tempo hari, kirain cuma bercanda. Berani juga ya si Syam, kalau Ridwan suruh nunggu, ini malah udah siap nikah setelah tamat sekolah nanti. Maa Syaa Allah, jadi terharu. What should I do now? Terima, tapi saya kan sudah menikah. Mau ditolak, tapi si Bear kan sukanya sama bu Susan. Ngapain juga saya setia pada pernikahan ini? Toh, saya sendiri kan yang rugi. Katanya cinta bisa tumbuh karena terbiasa. Memang iya si Bear terbiasa bersama saya di rumah, tapi dia juga terbiasa bersama bu Susan di sekolah, apalagi bu Susan kan cinta pertamanya. Honestly, lelah banget tau berjuang sendirian. Rasanya tuh, saya yang ngemis-ngemis ke Bear. Well, setelah penilaian dance nanti saya tidak mau tinggal lagi sama si Bear. Saya juga berhak bahagia dengan orang yang benar-benar mencintai saya. Daripada bertahan dengan si Bear yang hatinya milik bu Susan, lebih baik sama Syam yang cintanya pasti.” Nisa membatin lama setelah membaca isi chat Syam.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1