My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 73


__ADS_3

Dari semua jenis cinta, cinta yang berbalaslah yang paling membahagiakan. Cinta, yang tentunya dibangun atas dasar saling mencintai karena Allah. Mengarungi rumah tangga bersama, senantiasa mengharapkan ridho-Nya semata.


Subuh kembali menyapa, Nisa menunggui Pak Ayyas kembali dari mesjid untuk diajari. Sepeda marvelous hitam siap untuk menemani subuh Pak Ayyas ke depannya.


“Susah,” keluh Pak Ayyas saat pertama kali mencoba mengayuh sepedanya.


“Jangan dikayuh dulu pak! Belajar keseimbangan saja dulu. Nanti kalau keseimbangannya sudah bagus, baru deh bapak belajar mengayuh.”


Dengan setia Nisa mendampingi Pak Ayyas belajar. Ia terus mengikut di belakangnya. Tapi tetap saja keluhan demi keluhan keluar dari mulut Pak Ayyas.


“Ok, cukup pak! Besok kita lanjut lagi.”


Mereka lalu kembali ke rumah sebelum tetangga bangun dan bisa saja memperhatikan mereka.


“Saya jadi malas belajar. Tidak ada ciri-ciri saya akan pintar.”


Pak Ayyas mengambil air lalu duduk untuk minum. Belajar bersepeda selama sejam membuatnya kehausan.


“Jangan menyerah dong pak! Ini kan perdana bapak belajar, wajarlah kalau belum bisa. Siapa bilang tidak ada ciri-ciri bapak bakal pintar? Bapak tuh sudah punya niat untuk belajar. Itu lebih dari cukup untuk menjadi ciri bapak akan pintar. Percaya deh pak, seminggu saja bapak belajar dengan serius. In Syaa Allah bapak bakal pintar, yang penting bapak tidak menyerah.”


“Semangat Ayyas, demi membahagiakan istrimu.” Pak Ayyas membatin.


Seperti biasa, agenda mereka adalah mandi, bersiap-siap, lalu berangkat ke sekolah bersama.


Di saat Nisa sedang menikmati sarapannya. Tiba-tiba gawainya berdering, pertanda ada chat yang masuk. Betul saja, itu adalah chat dari Lisna yang mengajak ia dan sahabat-sahabatnya untuk datang ke acara syukuran di rumahnya.

__ADS_1


Lisna memang teman kelas Nisa, tapi ia mengundang Nisa melalui WA karena tidak ke sekolah hari ini. Ia terlalu sibuk bantu-bantu di rumahnya.


Mudah bagi Lisna untuk izin tidak ke sekolah. Karena ibunya adalah salah satu guru Bahasa Indonesia di sekolah.


Sepulang sekolah, mereka langsung ke rumah Lisna. Tentunya Lisna menyambut mereka dengan hangat. Mengarahkan mereka ke tempat perjamuan.


“Kamu cantik sekali hari ini Zul,” puji Lisna ke Zulfitri.


“Ma kasih Lisna,” ucap Zulfitri tersipu.


“Nggak usah bangga Zul, cuman hari ini doang. Ha ha ha,” ledek Nisa.


“Iya nih, jangan kePDan Zul! Ha ha ha.” Dania menimpali ledekan Nisa.


Mereka semua akhirnya tertawa. Ketika sedang asyik menikmati makanan, seorang anak kecil tiba-tiba menghampiri mereka.


“Hah? Kamu salah orang dek. Yang kamu lihat itu pasti orang lain, bukan kakak.”


Nisa panik, ia tidak mengenali anak kecil itu. Tapi anak kecil itu mengaku ada fotonya di HP kakaknya.


“Adi, jangan ganggu tamu yang datang dek!” Syam berteriak sembari menghampiri adiknya.


Sedari tadi ia mencari adiknya yang tidak bisa tenang itu. Syam tidak menyangka akan ada Nisa di rumah Lisna.


“Syam? Ngapain kamu di sini?” tanya Juliana keheranan. “Lisna sepupu saya Jul.”

__ADS_1


“Kalian sepupuan? Tapi di sekolah, kalian seperti orang asing. Tidak pernah berinteraksi sama sekali,” ujar Juliana.


“Bagaimana mau berinteraksi. Orangnya dingin gitu,” ejek Lisna.


“Kak, saya mau ke toilet. Temani saya ya, saya takut ke toilet sendirian.” Adi menarik tangan Juliana.


“Hush, jangan begitu dek! Sini biar kakak yang temani kamu,” balas Syam.


“It is ok Syam. Biar saya yang antar adik kamu ke toilet,” jawab Juliana bersahabat.


Juliana memang sangat menyukai anak kecil. Setelah menemani Adi, mereka segera kembali ke tempat perjamuan. Syam keheranan melihat Juliana begitu akrab dengan adiknya. Juliana yang begitu galak padanya, justeru bersikap sebaliknya ke Adi.


Setelah menikmati makanannya, mereka semua kembali ke rumah masing-masing.


“Saya suka pertemanan Nisa. Mereka kocak sekali kalau lagi ngumpul,” ucap Syam setelah mereka pergi.


“Circle mereka memang seru Syam. Semoga salah satu dari mereka bisa jadi istri kamu nanti,” tukas Lisna.


“Aamiin, sebenarnya saya suka sama Nisa. Dia baik,” ujar Syam.


“Iya, Nisa memang baik. Btw, kata Adi kamu menyimpan foto Nisa di HPmu. Is that true?”


"He he cuman satu kok."


"Dasar! Nggak boleh gitu Syam!"

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2