
Setelah shalat subuh di mushallah, Nisa bergegas ke taman Rumah Sakit. Duduk di kursi taman sembari menikmati suasana pagi.
Bayu pagi membelai nakal kuntum-kuntum bunga di taman. Mengusik ketenangan embun yang menempel di balik daun.
Udara segar dari mulut daun menyatu dengan aroma obat-obatan di Rumah Sakit. Mengusik rungu Nisa yang haus akan aroma tumbuhan di pagi hari.
Sang fajar perlahan-lahan keluar dari peraduannya. Menebar senyum pada pohon-pohon yang dengan setia menantinya di tiap pagi.
Menyilaukan mata sembab Nisa. Setelah puas bercengkerama dengan suasana pagi, Nisa bergegas masuk ke ruangan tempat ayahnya dirawat.
Pemandangan tak sedap kembali menghantui Nisa. Ayah yang sangat dicintainya itu meminta menantunya untuk diwudhukan.
Ayahnya kini berbaring di pangkuan ibunya. Mata sayup itu terus mendongak. Memandangi langit-langit rumah sakit. Kalimat-kalimat Allah terus ia ucapkan.
Hingga, lelaki hebat itu kini telah berpulang ke haribaan Allah. Meninggalkan ketiga putrinya yang masih sangat butuh kasih sayangnya. Juga istri yang kini harus berjuang seorang diri membesarkan anak-anaknya.
Tangis memecah hening di ruangan itu. Segera ambulance Rumah Sakit mengantarkan jenazah ayah Nisa kembali ke rumah.
__ADS_1
Para tetangga mulai berdatangan untuk melayat. Bendera putih dikibarkan, pertanda salah satu empunya rumah telah berpulang ke rahmatullah.
Nisa, Aisyah, dan Pak Ayyas membacakan ayat-ayat Al-Qur’an untuk ayah Nisa. Sementara mertua dan ibunya mengurus kebutuhan jenazah ayahnya.
Teman sekolah Nisa berdatangan. Kecuali Juliana yang sedari kemarin berada di Pare untuk lomba Pidato Bahasa Inggris. Menggantikan Nisa yang tidak bisa berpartisipasi karena menjaga ayahnya.
Mereka melihat Pak Ayyas berada di rumah Nisa. Pak Ayyas menjelaskan kepada mereka kalau Nisa adalah keluarganya.
Nisa tak menyapa mereka sama sekali. Ia bahkan tak sanggup lagi menatap wajah orang lain.
Terlalu sakit perasaannya ditinggal ayahnya tercinta. Bayangan akan masa kecilnya bersama ayahnya menyisakan pilu yang teramat dalam bagi Nisa. Semua kenangan masa kecil hadir satu per satu di memorinya.
Tak akan ada lagi ayah yang senantiasa memotivasinya saat sedih. Tak akan ada lagi ayah yang memujinya atas prestasinya. Tak akan ada lagi ayah yang senantiasa menuntunnya ketika keliru. Ayahnya kini telah pergi jauh. Ia benar-benar telah pergi meninggalkannya. Tak akan pernah kembali lagi.
Tangis Nisa kembali pecah saat memandikan jenazah ayahnya. Untuk terakhir kali, ia menyentuh tubuh ayahnya yang kini mengurus karena digerogoti penyakit. Tubuh ayah yang selalu berkata kenyang meski masih lapar demi anak-anaknya.
Ayahnya kini dikafankan. Dimasukkan ke dalam keranda, diangkat ke mesjid untuk dishalatkan. Setelah itu, jenazah ayahnya dibawa ke makam untuk dikebumikan.
__ADS_1
Para pelayat berpulangan. Hanya tersisa keluarga Nisa dan keluarga Pak Ayyas. Mereka saling menguatkan.
“Temani terus istrimu ya sayang. Hibur dia! Dia sudah sangat terpukul dengan kepergian ayahnya. Jangan tambah lukanya dengan kelakuanmu,” saran Bu Tiara pada putranya sebelum kembali ke rumah.
“Iya ma. In Syaa Allah.”
Hari ini Nisa tidak pulang ke rumah. Ia ingin terus menemani ibunya yang amat terpukul atas kepergian ayahnya.
Pak Ayyas juga tak ingin pulang ke rumah tanpa Nisa. Sebagai seorang suami ia wajib menemani Nisa di saat-saat terpuruknya seperti sekarang ini. Berusaha sekeras mungkin untuk mengembalikan senyum manis di wajah istrinya.
Tak ada tawa, tak ada percakapan. Semua larut pada dukanya masing-masing. Terlebih, ibu Nisa.
Tulang punggung keluarganya telah pergi meninggalkannya. Mau tak mau ia harus menggantikan peran suaminya menjadi tulang punggung keluarga. Perannya kini bertambah, menjadi ibu sekaligus kepala rumah tangga.
Ada rasa sesak di hati Pak Ayyas, melihat istri yang biasanya begitu cerewet menjadi diam seribu bahasa. Ia hanya bisa menemaninya, berbagi duka yang sama.
Sesekali ia mengambil tisu untuk menyeka air mata Nisa. Nisa bahkan tak menatapnya sama sekali. Tatapannya kosong, air matanya terus mengalir, hingga tak terasa ia terlelap di bahu kekar suaminya.
__ADS_1
“Tidurlah Nisa, semuanya memang begitu melelahkan. Aku berjanji, akan terus menjagamu. Tak akan kubiarkan kau bersedih seperti ini lagi,” janji Pak Ayyas dalam hati.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭