My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 82


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Pak Ayyas tak pernah lagi ke rumah Nisa. Hujan yang tiba-tiba turun di malam hari membuatnya teringat pada Nisa.


Biasanya ketika hujan turun, tidurnya akan nyenyak karena memeluk Nisa hingga subuh.


Di tengah-tengah lamunannya, terdengar suara ketukan dari luar.


“Malam-malam begini, siapa yang datang sih? Padahal kan sedang hujan, bikin takut saja.”


Pak Ayyas memberanikan diri untuk keluar. Sebelum membuka pintu, ia mengintip di jendela terlebih dahulu. Memastikan siapa sebenarnya yang bertamu malam-malam begini di rumahnya.


Akhirnya ia merasa lega setelah mengintip dari balik tirai jendelanya. Ternyata orang tuanya yang berkunjung malam-malam.


Masalah ketakutannya selesai, tapi masalah baru akhirnya muncul. Ketika ia yang tidak pernah menceritakan masalah rumah tangganya ke orang tua merasa khawatir kalau mereka mencari Nisa.


“Harus jawab apa kalau mereka mencari Nisa nanti?” Pak Ayyas membatin saat membukakan pintu untuk kedua orang tuanya.


“Astaghfirullah, kenapa rumah kamu berantakan begini? Belum juga punya anak, rumahmu sudah berantakan seperti kapal pecah saja.”


Pak Ayyas membiarkan ibunya mengoceh terus. Dengan sabar ia mendengarkan ocehan-ocehan ibunya. Hingga saat ibunya diam, ia langsung minta izin ke dapur untuk membuatkan mereka minuman hangat. Maklum, mereka kedinginan setelah diguyur hujan tadi.


“Ada apa yah ma datang malam-malam gini?” tanya Pak Ayyas setelah menyajikan minuman pada orang tuanya.


“Tidak ada apa-apa sayang. Mama sama papa singgah karena ingin berteduh saja. Hujannya deras soalnya. Istri kamu sudah tidur ya? Dari tadi tidak ke luar kamar.”


“Nisa ada di rumah mamanya ma,” jawab Pak Ayyas singkat.


“Terus kenapa kamu di sini? Kamu dampingi istri kamu dong! Kalau dia ke rumah mertuamu, kamu ikut juga. Gimana sih kamu jadi suami. Tidak becus gini.”


Bu Tiara sedikit geram melihat sikap acuh anaknya pada istrinya.


“Dengar dulu penjelasan Ayyas ma! Ayyas tidak ikut tinggal sama Nisa karena permintaan Nisa sendiri. Soalnya Nisa tidak bisa fokus belajar kalau ada saya di dekatnya.”


“Tidak bisa fokus? Kamu apakan dia sampai tidak bisa fokus? Mama kan sudah bilang jangan diapa-apain dulu! Nanti saja kalau sudah tamat sekolah. Suka bandel sih kamu,” ucap Bu Tiara sembari mencubit Pak Ayyas seperti sedang mencubit anak kecil.


“Aduh, ampun ma. Ayyas janji tidak akan mengganggu Nisa lagi sebelum dia tamat sekolah.”


Bu Tiara akhirnya melepaskan cubitannya setelah anaknya meminta ampun.

__ADS_1


“Tapi bukannya dulu dia tetap bisa belajar kalau ada kamu ya? Kenapa sekarang jadi tidak bisa fokus kalau ada kamu?” tanya Bu Tiara keheranan.


“Kali ini persiapan Ujian Nasional ma. Jadi fokusnya beda dari belajar biasanya,” sela Pak Subroto.


“Ujian Nasional? Alhamdulillah kalau begitu, berarti sebentar lagi mama akan punya cucu dong. Mama senang sekali.” Ada semburat kebahagiaan di wajah ibu Pak Ayyas.


“Papa juga sudah tidak sabar ingin punya cucu ma. Papa pengen sekali kayak kepsek-kepsek yang lain, yang kalau ke sekolah sambil bawa cucu.”


“Bagaimana ini? Baru saja ingin bercerai, mama sama papa malah tidak sabar ingin punya cucu. Ide nyeleneh Nisa untuk pura-pura hamil tempo hari sepertinya menarik untuk dilakukan. Mana mau dia saya sentuh setelah ucapan saya barusan. Disuruh pura-pura hamil saja, belum tentu Nisa mau. Kalaupun dia mau, masa iya saya mengakui anak orang sebagai anak kandung saya sendiri. Duh, Ayyas, Ayyas. Lain kali kalau marah mending diam saja. Kalau sudah begini, jadi repot sendiri kan.”


Pak Ayyas membatin kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa mengontrol ucapannya.


“Kalau perlu kasih dia resep jamu kuat mu pa! Biar istrinya cepat hamil.”


“Ha ha, tenang saja ma. Nanti bapak kasih resepnya. Oh ya, hujan sudah reda. Kita pulang yuk ma!”


“Iya pa. Kami pulang dulu yah sayang. Ingat, kasih kami cucu yang banyak. Assalamu ‘alaykum.”


“Wa ‘alaykumussalam warahmatullah ma.”


Pak Ayyas mengunci pintu, lalu ke kamar untuk tidur.


Semua guru memperlihatkan nilai masing-masing mata pelajaran kepada siswa sebelum nilai itu ditulis di rapor. Sehingga jika ada nilai yang dirasa tidak sesuai oleh siswa, siswa bisa komplain ke guru. Hal itu juga dilakukan oleh Pak Ayyas.


Semua teman kelas Nisa merasa senang karena nilai Pendidikan Agama Islamnya sangat memuaskan. Hanya Nisa yang merasa dirugikan dengan nilai yang Pak Ayyas berikan padanya. Nilainya tidak mengalami kenaikan sama sekali. Padahal ia rajin mengerjakan tugas, nilai ulangannya juga selalu bagus. Ia juga tidak pernah bersikap yang tidak baik di kelas.


“Jahat banget sih si Bear. Mentang-mentang dia benci sama saya. Nilai saya dibikin tetap gini. Padahal progress saya jauh lebih baik daripada yang lain.” Nisa membatin sedih.


“Saya mau komplain pak,” kirim Nisa ke nomor WA Pak Ayyas.


“Langsung ke kantor saja. Ingat ya ucapan kamu tadi malam. Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kamu sendiri kan yang minta saya untuk jauhi kamu,” balas Pak Ayyas.


“Saya tidak bisa komplain kalau ada orang lain. Apalagi di ruang guru, guru-guru yang lain akan memperhatikan kita. Saya mau bicara empat mata. Dimana kita bisa ketemu?”


“Kamu malu ya kalau yang lain tahu kamu suka marah-marah. Baiklah, kita ketemu di rumah saja kalau kamu malu bicara di kantor.”


“Jam berapa kita bisa ketemu nanti?”

__ADS_1


“Pulang sekolah kita pulang bareng. Ada hal penting juga yang mau saya bicarakan ke kamu.”


Nisa tidak membalas pesan Pak Ayyas lagi. “Sesuatu yang penting? Mungkin tentang surat cerai,” batinnya.


Sepulang sekolah, Nisa memasuki mobil Pak Ayyas saat parkiran terlihat sepi. Suasananya terasa begitu canggung di perjalanan. Sesampainya di rumah, mereka membuka sepatu dan langsung masuk ke rumah. Nisa mengikuti Pak Ayyas ke ruang keluarga.


“Tidak salah kita bicara di ruang keluarga? Bukannya kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi ya? Seharusnya kita ngobrolnya di ruang tamu saja.”


“Banyak bacot sekali kamu Nisa. Cepat katakan apa masalahmu sampai harus bicara empat mata gini.”


“Saya tidak terima dengan nilai Agama saya yang tidak mengalami peningkatan pak. Masa nilai saya tetap seperti semester lalu sih pak. Bapak jangan menilai secara subjektif dong!”


“Oh, kenaikan nilai ya. Saya bisa menaikkan nilai kamu, tapi tentu saja ada syaratnya.”


“To the point saja pak, apa syaratnya?”


“Kamu harus pura-pura hamil anak kita.”


“Kita kan sudah memutuskan untuk bercerai tadi malam. Kenapa harus ada drama pura-pura hamil lagi sih?”


“Jangan amnesia dong Nisa! Berapa kali harus saya katakan kalau nenek dan orang tua saya sangat menginginkan cucu darimu. Terserah kamu saja, kalau kamu menginginkan nilaimu meningkat maka kamu harus pura-pura hamil.”


“Saya tidak mau, dengan berpura-pura hamil sama saja saya sedang membohongi nenek, ibu, dan bapak kamu.”


“Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau berpura-pura hamil. Saya siap kok untuk buat kamu hamil beneran.”


“Asli, bapak ini kayak psikopat. Tadi malam mengata-ngatai saya dan hari ini dengan seenak jidat bapak berkata seperti itu ke saya. Memang cuman RSJ yang bisa nyembuhin bapak.”


“Tidak perlu banyak bicara Nisa! Jadi, kamu mau atau tidak?”


“Baiklah saya akan pura-pura hamil, selain dari kenaikan nilai saya juga punya syarat yang lain.”


“Apa itu?”


“Saya akan pura-pura hamil kalau bapak bisa menjamin saya tetap bisa kuliah setelah tamat sekolah nanti.”


“Ok, saya setuju. Mulai sekarang kita adalah partner untuk misi ini.”

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2