
“Guys, kita voting saja untuk pemilihan ketua tingkat. So yang berminat silakan mengajukan diri,” ucap Ninda.
Ada tiga orang yang berminat, di antaranya Firman, Darren, dan Dini. Suara terbanyak jatuh kepada Firman. Selain jago IT, Firman juga memiliki banyak prestasi yang membuatnya sangat layak untuk dipilih menjadi keti.
Karena dianggap cerdas, yang lain langsung menunjuk Ninda untuk menjadi waketi. Dengan senang hati Ninda menerimanya.
Setelah pemilihan keti selesai, beberapa mahasiswa keluar ruangan untuk menghirup udara segar. Nisa dan Juliana berjalan ke depan papan pengumuman.
Terdapat info tentang pendaftaran terbuka untuk mahasiswa yang ingin bergabung di Himpunan. Di pamflet tersebut juga tertulis bahwa wawancaranya akan diadakan besok.
“Ikut yuk Sa! Seru nih jadi anggota Himpunan,” ajak Juliana.
“Malas Jul. Saya lebih suka menulis novel di kost daripada berkecimpung di Himpunan.”
“Saranku lebih baik kamu join di Himpunan. Atau tidak, kamu akan didiskriminasi sepanjang kuliah di sini oleh senior karena tidak mengikuti pengkaderan Himpunan.” Fikri menyarankan.
Nisa yang tadinya tak ingin bergabung di Himpunan akhirnya berubah pikiran. Ia langsung menyetujui permintaan Juliana tadi.
***
Keesokan harinya mereka berangkat ke kampus untuk mengikuti tes wawancaranya. Ruangan untuk wawancara terbagi atas dua. Di dalam setiap ruangan ada tiga senior yang bertugas untuk mewawancarai pendaftar.
“Kenapa ada kak Adam dan kak Ira di sini? Apa mereka dari jurusan Bahasa Inggris juga? Demi apa saya diwawancarai oleh ketua BEM dan wakilnya sekaligus. Haduh, nambah beban pikiran aja nih mereka.” Nisa bermonolog dalam hati ketika memasuki ruangan wawancara.
Meski seringkali mendapat tekanan dari pertanyaan-pertanyaan Ira, Nisa tetap mengikuti tes wawancaranya dengan sangat baik.
Adam, Ira, dan Rahmat terkagum-kagum pada Nisa karena menjawab pertanyaan mereka menggunakan full English. Berbeda dari kebanyakan pendaftar sebelumnya yang masih combine dengan bahasa Indonesia.
Wawancara selesai, Nisa keluar ruangan. Menunggu Juliana selesai wawancara. Ia merasa lega saat melihat Juliana keluar ruangan dengan ekspresi sangat senang.
“Pasti wawancaranya lancar ya. Buat kamu jadi senyum-senyum gitu.”
“Iya Sa. Kamu bagaimana?”
“You know what, ternyata kak Adam dan kak Ira senior kita Jul.”
“Hah? Masa sih? Maksud kamu kak Ira sama kak Adam adalah mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris juga?”
“Yup, they are.”
__ADS_1
“Wow, amazing. Mereka ikut mewawancarai, it means nanti malam bakal ikut mengkader juga. Aduh, mereka kan galak Sa. Bakal dihukum terus kita.”
“Berdoa yuk Jul,” ucap Nisa. “Hah? Berdoa untuk apa Sa?”
“Berdoa supaya nanti malam mereka berdua sibuk, jadi tidak bisa ikut mengkader Jul. Mumpung hujan nih, berdoa di waktu hujan kan mustajab.”
“Semoga nanti malam kak Ira dan kak Adam sibuk. Aamiin.” Nisa ikut mengaminkan doa Juliana.
“Aamiin,” sahut seseorang di belakang mereka.
“Ini kan suaranya kak Adam. Gawat,” batin Nisa.
Juliana dan Nisa langsung berbalik. Benar saja di belakang mereka ada Adam yang tengah melotot menatap mereka berdua.
“Berdoa di waktu hujan memang mustajab. Tapi sayang sekali, nanti malam saya dan Ira tidak sibuk sama sekali.”
“I..i..iya kak. Sampai jumpa nanti malam kak,” ucap Juliana.
Mereka berdua melangkah cepat meninggalkan Adam.
“Gawat Sa. Untung saja cuman kak Adam yang dengar. Gak kebayang kalau tadi ada kak Ira juga di sana. Hufttt,” keluh Juliana.
“Semoga saja kak Adam tidak menceritakannya ke kak Ira.”
“Kepada seluruh peserta, diharapkan agar fokus mendengarkan materi. Karena setelahnya kalian akan ditanya mengenai materi yang telah diberikan. Yang tidak bisa menjawab tanggung sendiri konsekuensinya,” ucap Ira.
Materi mulai dibawakan oleh Adam. Tepat pada pukul 9 malam, ia mengakhiri materinya. Panitia pengkaderan yang lain mengambil alih sesi tanya jawab itu karena Adam dan Ira akan menjaga di posko terakhir.
Dengan mudah Nisa dan Juliana menjawab pertanyaan terkait materi yang dibawakan oleh Adam tadi. Posko-posko yang ada juga mudah dilalui. Yang paling sulit adalah di posko terakhir, karena dijaga oleh Adam dan Ira. Mental mahasiswa baru benar-benar diuji di posko mereka. Bahkan mahasiswa cerdas seperti Nisa juga mengeluh.
“Sekarang kamu teriak bilang SAYA JELEK.” Ira memerintahkan Juliana.
“SAYA JELEK,” ucap Juliana dengan lantang.
“Bagus, kamu boleh kembali ke aula.”
“Bilang I LOVE YOU ke saya,” perintah Adam ke Nisa.
“I LOVE YOU KE SAYA,” teriak Nisa.
__ADS_1
“Maksud kamu apa? Kamu pura-pura goblok ya? Beraninya kamu menentang saya. Maksud saya kamu teriak bilang I LOVE YOU ADAM. Sekarang!” bentak Adam.
Nisa diam saja, tak ingin mengucapkan kata yang diperintahkan oleh Adam.
“Sok hebat juga ya kamu. Mentang-mentang wawancaramu bagus tadi siang, kamu merasa paling wow sekarang. Turun!” Adam membentak Nisa untuk turun ke laut.
Nisa sebenarnya sangat takut melihat air laut. Ia masih sangat trauma kala mengingat dirinya pernah tenggelam di sungai saat mencari kerang bersama Pak Ayyas.
“Maju lagi, jangan di pinggir saja. Manja sekali.”
Air laut sudah setara dengan lehernya, tapi Adam terus memintanya untuk maju terus. Sekali melangkah, Nisa kini tenggelam. Saat tenggelam, yang terbayang-bayang di pikirannya adalah Pak Ayyas yang pernah menolongnya.
Juliana yang memperhatikan Nisa dihukum tanpa pikir panjang langsung terjun ke laut untuk menolong Nisa. Ia kemudian membawa Nisa naik. Adam merasa sangat bersalah atas sikap otoriternya barusan. Ia meminta maaf berkali-kali, tapi Nisa tidak menanggapi.
Semua peserta kini sudah berada kembali di aula. Panitia membagikan sertifikat kepada peserta. Mereka pulang dengan perasaan bahagia karena sudah resmi diterima sebagai anggota Himpunan.
***
Waktu terus berlalu, hingga tak terasa ternyata sudah lima bulan Nisa menjadi mahasiswa.
“Sa, ikut lomba Karya Tulis Ilmiah yuk di Dies Natalis kampus nanti!” ajak Juliana.
“Malas Jul. Jangankan buat karya ilmiah, buat makalah saja saya bingung. Tema karya ilmiah pembahasannya selalu berat.
“Temanya itu Peran Mahasiswa Menjawab Tantangan MEA dalam Mewujudkan Generasi yang Berbudaya dan Berkarakter.”
“Tuh kan, temanya beneran berat Jul. Jangankan tentang Asean, tentang Indonesia saja saya bingung. Ha ha ha.”
“Don’t worry Sa, kata Mrs. Rania yang mau join nanti akan diarahkan cara buatnya.”
“Kalau begitu kita coba saja dulu Jul.”
“Nah gitu dong. Baru gentle.”
Juliana dan Nisa mendatangi perumahan Mrs. Rania untuk dibimbing pembuatan KTInya. Dengan penuh kesabaran Mrs. Rania membimbing mereka berdua dalam menyelesaikan KTInya. Hingga mengantarkan mereka masuk ke babak 10 besar.
Tim yang masuk ke babak 10 besar kemudian diminta untuk berkumpul di auditorium kampus. Begitu seterusnya hingga tersisa dua tim untuk bersaing.
Ternyata Adam dan Ira juga ikut lomba yang sama. Jadi ada dua perwakilan dari jurusan Pendidikan Bahasa Inggris yang ikut lomba KTInya.
__ADS_1
Intensitas bertemu di lomba KTI ini, membuat Nisa dan Adam baikan. Mereka bahkan menjadi semakin akrab. Adam yang tadinya terkesan begitu galak di mata mereka berdua, ternyata orangnya sangat baik.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak