
Setelah menikah, Nisa tak langsung tinggal bersama pak Ayyas yang kini telah resmi menjadi suaminya. Ia masih tinggal beberapa hari bersama keluarganya setelah pernikahan tersebut.
Saat Nisa dan keluarganya makan malam, ibunya bercerita tentang pak Ayyas.
"Katanya pak Ayyas pernah dekat dengan seorang perempuan cantik bernama Susan."
“Susan Pratama?” tanya Nisa penasaran. Ia yang tadinya fokus makan, berhenti sejenak.
“Mama juga kurang tahu nama lengkapnya. Yang ibu tahu katanya dia tinggal di Bone."
“Di sekolah juga ada guru yang namanya Susan asal Bone. Guru Agama Nisa waktu di kelas satu bu,” timpalnya.
"Mungkin cuman kebetulan saja namanya sama. Sudah lanjutkan makannya," ucapnya guna mencairkan suasana.
Tapi tetap saja, Nisa sudah terlanjur yakin kalau perempuan yang dimaksud ibunya pasti bu Susan. Secara, background pendidikan pak Ayyas dan bu Susan sama. Mereka sama-sama mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam di universitas yang sama juga dulu.
Nisa kembali melahap makanannya. Setelah selesai, ia bergegas ke kamar. Di kamar ia mengeluarkan uneg-unegnya.
“Pantas saja si Bear mendaftar jadi guru di sekolah. Ternyata niat cinlok toh sama pujaan hatinya,” umpat Nisa.
__ADS_1
Ia sebenarnya tak menyukai pak Ayyas. Bahkan sampai sekarang, ia masih menamainya Bear. Si binatang berbulu agak gelap nan besar.
Tapi setelah menikah ia malah menjadi posesif. Baginya pak Ayyas hanyalah miliknya seorang. Entah akan seperti apa perasaannya kalau ia tahu perasaan pak Ayyas yang sesungguhnya terhadapnya. Tak ada cinta sama sekali.
“Dia mencintai siapapun itu hak dia. Lagipula selama ini aku kan membencinya. Gosh, kenapa aku bodoh gini sih? Ya kali posesif ke lelaki yang sangat dewasa seperti si Bear.” Ia bertengkar dengan logikanya sendiri.
"Mending tidur dulu deh. Mungkin aku kek gini efek lelah batin dinikahkan mendadak sama si Bear yang super duper menyebalkan itu." Tak lama, Nisa pun terlelap.
***
Malam berganti siang, siang berganti sore. Semuanya dilalui Nisa dengan bahagia. Terlebih suasana di sore ini. Nisa duduk di balkon rumah, sembari menikmati suasana terbenamnya matahari.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati senja, ibunya malah memanggilnya untuk ikut ke bawah. Nisa bergegas mendatangi ibunya.
Sesampainya di bawah, terlihat pak Ayyas beserta ibunya tengah menunggu di ruang tamu. Nisa langsung menghampiri mereka, menyalami mertuanya sembari tersenyum.
Tanpa basa-basi ibu pak Ayyas mulai bicara. Nisa mendengarkan dengan seksama. Nisa dibuat kaget saat mertuanya itu memintanya untuk segera tinggal serumah dengan pak Ayyas. Tanpa perlu menunggu sampai bulan depan.
Mendengar itu, ibu Nisa langsung mengungkap kalau anaknya masih belum tahu banyak hal. Memasak saja makanannya masih sering hambar. Ibu pak Ayyas ternyata tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali.
__ADS_1
“Namanya juga masih muda say, nanti kalau sudah tinggal bersama suaminya perlahan dia pasti akan mahir dengan sendirinya. Lagipula si Ayyas jago masak kok. Kalau masalah takut bisa mengurus suami dengan baik, kamu tidak usah khawatir say. Si Ayyas kan pernah ngekost waktu kuliah dulu. Jadi kalau masalah mengurus kebutuhan sendiri dia bisa kok.”
“Kalau masalah itu bagaimana?” tanya ibu Nisa sedikit malu.
“Ha ha ha. Arni, Arni, kalau masalah itu kamu tidak perlu takut. Pokoknya Ayyas tidak boleh menyentuh Nisa sampai Nisa lulus sekolah,” jawab bu Tiara cekikikan.
Ayah dan ibu Nisa langsung saja mengiyakan, tanpa bertanya terlebih dulu apakah Nisa setuju atau tidak.
Nisa merasa sangat bodoh. Ia ingin menyanggah, tapi juga terlalu takut kalau ayah dan ibunya akan merasa malu dengan tindakannya nanti. Walhasil, dia hanya diam saja.
Nisa memang sudah sedikit menyukai pak Ayyas. Tapi ia juga malu untuk tinggal hanya berdua dengan lelaki yang pernah sangat dibencinya itu.
Setelah mendengar permintaan besannya, ibu Nisa segera membantu anaknya mengemas barang.
Semua barang sudah dikemas. Nisa, pak Ayyas, dan bu Tiara menaiki mobil. Sebelum pulang ke rumah pribadinya, terlebih dahulu pak Ayyas mengantar ibunya ke rumah.
Tak lama setelah itu, mereka akhirnya tiba di rumah yang akan mereka tinggali berdua. Pak Ayyas kemudian membawakan koper Nisa ke dalam rumah. Dengan perasaan canggung mereka memasuki rumah bersama.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1