My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Jangan Akrab!


__ADS_3

“Itu sepupu dari ayah saya kak.”


“Oh, ganteng ya. Btw terima kasih ya Nisa. Sampaikan pada Syam ucapan terima kasihku.”


“Iya kak, sama-sama. In Syaa Allah nanti saya sampaikan.”


“Saya permisi dulu ya kak. Assalamu ‘alaykum," pamit Nisa. “Wa’alaykumsalam warahmatullah dek.”


Tanpa berlama-lama Nisa langsung menghampiri Pak Ayyas. Mereka kembali dengan langkah yang lebih cepat dari sebelumnya.


Setelah tiba di rumah, mereka langsung mandi dan bergabung dengan keluarga Nisa yang sedari tadi menunggu mereka di meja makan.


Agar terlihat so sweet di hadapan keluarganya, Nisa mengambilkan Pak Ayyas makanan. Padahal jika di rumah, ambilnya sendiri-sendiri. Orang tua Nisa merasa begitu senang melihat keharmonisan antara anak dan menantunya.


Setelah makan Nisa dan Pak Ayyas ke ruang keluarga.


“Tadaaa,” ucap Nisa sembari memperlihatkan sisa permen karet pemberian Syam ke Wahdah dan Aisyah yang tengah duduk santai di depan TV. Mereka tampak begitu asyik menonton serial kartun Nussa & Rara.


“Loh bukannya kakak melarang kita membeli permen karet. Kenapa jadi kakak yang nawarin?” tanya Aisyah.


“Iya, dulu kakak ngelarang kalian beli permen karet. Tapi sekarang tidak lagi, dengan catatan harus hati-hati. Jangan sampai tertelan ya! Lagian mubazir kalau dibuang."


Aisyah dan Wahdah lalu mengambil permen karet yang ditawarkan Nisa. Tak terkecuali Pak Ayyas.


“Kak Nisa, ajarin Wahdah juga buat gelembung seperti itu.”


“Sini, biar om saja yang ngajarin kamu!”

__ADS_1


Pak Ayyas mendekat ke tempat Wahdah duduk. Ia mulai mempraktekkan cara membuat gelembung dari permen karet. Sementara Nisa menjelaskan langkah-langkahnya.


“Bentuk bola dulu! Bagus, sekarang ratakan permennya seperti om Ayyas! Ok, tiup! Keluarkan lidahmu dek! Sudah bisa.”


“Yeee, berhasil kak Nisa.” Wahdah begitu girang.


Pak Ayyas terus meniup permen karetnya. Menjadi begitu besar, membuat balonnya meletus sampai ke hidungnya.


“Ha ha, om lucu deh.” Wahdah tertawa kegirangan melihat Pak Ayyas belepotan karena permen karet yang ditiupnya meletus.


“Kita tidak salah pilih menantu ma.”


“Iya, pa. Dia tidak hanya menyayangi Nisa, sopan pada mertua, tapi juga sayang sama anak kecil. Jadi tidak sabar pengen punya cucu.”


“Iya ma, papa juga.”


Saat sore tiba, Nisa dan Pak Ayyas pamit pulang.


“Om, sering-sering ke rumah ya!” ucap Wahdah. “Iya, In Syaa Allah kalau om tidak sibuk. Om akan sering-sering nginap di sini sama kak Nisa.”


Hanya sehari, Pak Ayyas dan Wahdah sudah begitu akrab. Ia merasa sangat senang, karena selama ini dia tidak memiliki adik. Begitu pula dengan Wahdah, tidak memiliki kakak laki-laki.


“Ini apa ma?” tanya Nisa pada ibunya yang memberikan bungkusan.


“Mama sengaja masak banyak tadi. Supaya nanti kamu tidak perlu masak lagi di rumah.”


“Terima kasih ya ma.”

__ADS_1


“Sama-sama sayang, baik-baik ya sama suamimu!” saran ibu Nisa. “Iya ma.”


“Bimbing Nisa ya nak! Kalau dia berbuat salah, tolong diajar baik-baik. Jangan sampai main tangan ya!”


“Iya pak, In Syaa Allah.”


“Hati-hati,” ucap ibu Nisa pada Nisa dan Pak Ayyas yang sudah berada di dalam mobil.


Nisa dan Pak Ayyas kembali ke rumah. Setelah shalat isya mereka makan bersama. Lalu kembali ke kamar untuk melepas lelah.


Nisa mematikan lampu kamar, tapi tidak langsung tidur.


“Pak, saya ingin bicara.” Nisa memulai pembicaraan. “Ngomong aja langsung!” dari suaranya Pak Ayyas sepertinya begitu lelah. Seharian ini, ia menemani Wahdah bermain lari-larian.


“Tanpa mengurangi rasa hormat saya ke bapak, saya minta bapak jangan terlalu akrab dengan Wahdah!”


“Kenapa?” Pak Ayyas yang tadinya ngantuk berat, seketika terbelalak.


“Wahdah kalau sudah akrab dengan orang, akan sangat sulit untuk dipisahkan.”


“Terus?” Pak Ayyas tidak mengerti arah pembicaraan Nisa kemana.


“Kalau nanti bapak nikah sama Bu Susan kasihan Wahdah.”


Pak Ayyas hanya terdiam, ia tidak tahu harus merespon apa. Nisa juga tidak melanjutkan ucapannya.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2