
“Bangun pak! Sudah adzan tuh.”
Pak Ayyas masih begitu lelap, pelukan istrinya terasa begitu nyaman. Membuatnya merasa enggan untuk bangun. Nisa mengeraskan suaranya, membangunkan Pak Ayyas untuk kedua kalinya.
“Astaghfirullah.” Pak Ayyas tersentak kaget.
“Cepat bangun pak! Sudah adzan itu.”
Pak Ayyas segera bangun. Dengan tubuh yang masih oleng ia melangkah ke mesjid untuk melaksanakan shalat subuh secara berjamaah.
Sepulangnya dari mesjid ia kembali belajar bersepeda, tentunya dengan didampingi Nisa.
“Saya tidak bisa mengayuhnya Nisa. Susah sekali,” keluh Pak Ayyas.
“Kaki bapak jangan dinaikkan secara bersamaan ke pedal! Kaki kanan dulu. Nanti kalau kaki kanan sudah di atas pedal. Gowes pakai kaki kanan, baru deh bapak naikkan lagi kaki kirinya.” Nisa mengajari Pak Ayyas dengan telaten.
Sudah lama berlatih, tapi Pak Ayyas belum bisa menggowes sepedanya. Hal itu membuat Pak Ayyas emosi, hingga membanting sepedanya.
“Saya tidak mau belajar lagi!” ucap Pak Ayyas kesal.
Sepedanya ia biarkan begitu saja di jalanan. Tidak dibawa pulang ke rumah.
“Astaghfirullah, cobaan apa lagi ini ya Allah? Mengapa di saat Pak Ayyas mengatakan cintanya ke saya, Engkau malah menunjukkan semua sikap buruknya?Ampuni hamba jika ini semua terjadi karena dosa-dosa hamba. Jika memang Pak Ayyas bukan jodoh yang terbaik untuk hamba, maka jangan biarkan hamba berlama-lama bertahan pada hubungan yang toxic ini ya Allah.”
Luka semalam dan amarah Pak Ayyas barusan, membuat perasaan Nisa menjadi semakin kacau. Ketakutan akan diselingkuhi dan kemungkinan akan dikasari oleh Pak Ayyas membuatnya menangis tersedu-sedu.
Setelah puas menumpahkan semua luka di hatinya. Ia mengendarai sepeda itu pulang. Di kamar tak ada Pak Ayyas, ia sedang mandi.
Kesempatan itu digunakan Nisa untuk membuka chat Pak Ayyas dengan Bu Susan di WA.
“Saya belum yakin pak. Pulang sekolah besok, kita ketemu di mushallah. Untuk membahasnya lebih lanjut,” baca Nisa. Kemudian meletakkan kembali gawai Pak Ayyas.
“Saya kira si Bear adalah lelaki yang senantiasa
mendambakan cinta Allah. Sehingga takut untuk bermaksiat. Tapi ternyata saya hanya terlalu beharap selama ini. Setelah saya memberi dia kesempatan untuk menjauhi Bu Susan, dia malah diam-diam ketemuan di belakangku.”
Nisa membatin sedih. Lagi-lagi air mata mengalir di pipinya.
“Pak, saya mau bertanya dong.” Nisa memulai pembicaraan di ruang makan.
“Tanya saja, kenapa harus izin segala sih?”
__ADS_1
“Bapak tidak suka ya sama masakan saya?”
“Ha ha bicara apa kamu ini? Mana mungkin saya makan masakanmu dengan lahap setiap hari kalau saya tidak suka.”
“Satu lagi. Bapak tidak suka ya kalau saya tidak jago make up? Di rumah juga saya pakai daster terus.”
“Saya kan sudah pernah bilang kalau saya itu tipe lelaki yang suka dengan perempuan berwajah natural. Saya selalu merasa senang melihat kamu, pakai daster atau pakai pakaian yang lain sama saja. Kenapa kamu tiba-tiba tanyakan itu?”
“Cuman mau tau aja pak.”
Nisa cengengesan sejenak, lalu melanjutkan makannya. Setelah makan, mereka langsung berangkat ke sekolah.
“Pulang sekolah nanti, kamu pulang duluan saja ya. Ada tugas penting yang harus saya selesaikan di sekolah,” ucap Pak Ayyas di dalam mobil.
“Pulangnya barengan aja pak. Saya tunggu bapak sampai selesai.”
“Jangan! Kamu pulang duluan saja. Kasihan kamu kalau harus menunggu lama. Ini uang untuk ongkos angkot nanti.”
“Iya pak.” Nisa berusaha menampakkan senyumnya.
Sepulang sekolah Nisa langsung ke mushallah. Ia bersembunyi agar tidak dilihat Pak Ayyas dan Bu Susan. Nisa memasang telinga lebar-lebar, berusaha menguping pembicaraan mereka.
“Setelah mendengar semua penjelasan bapak, saya jadi yakin untuk menikah.”
“Nanti kita bahas tanggalnya pak. Yang jelasnya, setelah perpisahan siswa kelas tiga. Saya juga maunya yang sederhana saja pak. Tidak perlu mengundang banyak orang.”
“Terserah kamu saja yang mana baiknya. Saya mengikut saja,” balas Pak Ayyas dengan mantap.
Nisa tidak sanggup lagi mendengar percakapan mereka lebih jauh. Ia melangkah dengan cepat meninggalkan sekolah.
“Dia bilang masakan saya ok, penampilan saya juga ok. Tapi kenapa dia tega mengkhianati saya? Dia tega mengingkari janjinya sendiri. Katanya tidak akan dekat-dekat lagi dengan Bu Susan. Ternyata malah mau dinikahin. Ternyata memang benar ya, sebaik apapun istri melayani suami kalau wataknya memang suka selingkuh. Tetap saja suami akan selingkuh.” Nisa membatin sedih.
Sesampainya di rumah, Nisa meluapkan kekesalannya dengan menangis sejadi-jadinya.
“Dasar beruang jahat. Saya bersusah payah untuk menjadi perempuan yang berkualitas, supaya dia tidak dekat-dekat lagi dengan Bu Susan. Saya juga sudah mengerahkan segalanya demi menjadi istri yang baik baginya. Tapi tetap saja dia mengkhianati saya. Hu hu hu, jaaahattt.”
Ia menangis dengan lepas. Hingga tak terasa ia ketiduran. Lalu terbangun oleh bunyi ringtone gawainya. Ternyata ibunya menelpon.
Ibunya memintanya untuk tinggal di rumah karena tidak bisa mengurus akibat terkena cacar. Sedangkan Aisyah masih SMP. Belum bisa mengurus jualan seorang diri.
Tanpa pikir panjang Nisa langsung mengemas barangnya. Di saat bersamaan, Pak Ayyas juga sudah pulang dari sekolah.
__ADS_1
“Mau kemana bawa koper?” Pak Ayyas keheranan.
“Mau ke rumah. Mama sakit.”
“Sakit apa?” tanya Pak Ayyas khawatir.
“Cacar,” balas Nisa ketus sekali.
“Sini kopermu! Biar saya yang angkat.”
“Tidak usah pak. Saya bisa sendiri kok.”
Nisa kembali bersikap seperti dulu, berusaha untuk tidak bergantung pada Pak Ayyas. Kopernya ia angkat sendiri. Di mobil juga tidak mau duduk di depan.
“Kamu ada masalah apa sih Nisa? Dari tadi marah-marah terus,” keluh Pak Ayyas.
“Siapa yang marah-marah pak? Memang dari sononya suara saya nyaring gini. Btw, kenapa kita ke sini sih pak? Kita tuh mau ke rumah mama, bukan ke pasar. Gimana sih?”
“Sebentar saja Nisa. Saya mau beli ubi jalar untuk ibu.”
Pak Ayyas turun dari mobil. Memasuki pasar untuk membelikan mertuanya ubi jalar.
Beberapa menit kemudian ia kembali dengan membawa sekantong besar ubi jalar.
“Kenapa beli sebanyak ini sih pak?” protes Nisa.
“Ibu harus sering-sering makan ubi jalar. Karena salah satu khasiat dari ubi jalar adalah untuk menyembuhkan cacar.”
“Si Bear ini memang care ke semua orang. Dia care ke mama, bukan karena mama adalah mertuanya. Tapi emang karena dasarnya dia care aja gitu ke semua orang.” Nisa kembali membatin.
Malam ini Pak Ayyas ikut nginap di rumah Nisa.
“Hey, sudah malam. Belum mau tidur?”
“Tidur duluan saja pak! Saya belum mengantuk.”
“Ok, kalau begitu saya tidur duluan. Kamu jangan bergadang ya!” Nisa mengangguk saja.
Ia lalu mengambil buku prediksi UN untuk dipelajari. Tapi pikirannya tidak bisa fokus untuk belajar. Yang terbayang di pikirannya hanyalah momen ketika Pak Ayyas berbincang-bincang dengan Bu Susan di mushallah tadi siang.
“Si Bear berpaling karena apa ya? Apa karena saya tidak secantik Bu Susan? Atau mungkin karena saya tidak sedewasa Bu Susan. Saya juga suka marah-marah dan ngambek tiba-tiba. Sudahlah Nisa, biarkan saja mereka bersama. Toh kamu sudah melakukan yang terbaik untuk Bear. Cukup terima dan merasa nyaman dengan dirimu sendiri. Kamu sempurna kok di mata lelaki yang tepat.”
__ADS_1
Nisa membatin menyalahkan dirinya sendiri karena tidak berhasil membuat Pak Ayyas menetap.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak