
“Saya pura-pura hamil aja pak,” tawar Nisa.
“Ya ampun Nisa. Kamu kebanyakan nonton sinetron kayaknya. Bisa-bisanya kamu punya ide seperti itu, ha ha ha.”
Pak Ayyas tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Nisa.
“Saya tidak mau hamil pak.” Nisa menolak dengan tegas permintaan Pak Ayyas.
“Mau tidak mau, suka tidak suka, sukarela atau terpaksa, kamu tetap harus melahirkan cucu untuk nenek.”
“Pokoknya saya tidak mau pak. Saya masih sekolah, saya tidak boleh hamil.”
“Siapa juga yang minta kamu hamil sekarang. Nanti Nisa, setelah kamu lulus. Apa perlu kukasih kisi-kisinya sekarang?”
“Kisi-kisi ulangan Agama?” tanya Nisa kegirangan.
“Kisi-kisi first night with husband,” jawab Pak Ayyas.
Pak Ayyas dengan sengaja menampakkan wajah mesum ke Nisa. Seperti seekor harimau kelaparan bersiap-siap menerkam mangsanya.
“Ha ha ha first night kata bapak. Hello pak, sudah berapa purnama kita lalui bersama dan bapak masih bilang first night.”
Bukannya takut melihat ekspresi Pak Ayyas, Nisa malah tertawa terbahak-bahak.
“Ha ha ha, dasar anak bodoh. Asal kamu tahu saja Nisa, first night itu proses pembuatan anak.”
“Kalau begitu kita jangan melakukan first night.”
Nisa yang tadinya tertawa, tiba-tiba ketakutan setelah mendengar penjelasan Pak Ayyas.
“Tidak bisa sayang. Tepat di malam setelah kelulusanmu nanti, kita akan melakukannya.”
“Tidak mau, di hari kelulusan nanti saya akan tinggal di rumah mama.”
“Oh ya? Jadi kamu mau kita melakukannya di rumahmu? Tidak apa-apa, saya sih terserah kamu saja.”
“Ngelantur muluk ya bapak. Sana geser pak, saya mau tidur.”
“Gimana mau geser, ranjangnya sekecil ini.”
__ADS_1
Meski begitu Pak Ayyas tetap bergeser sedikit, supaya Nisa tidak bertambah emosi.
Seperti biasa, guling ia letakkan di tengah-tengah sebagai pembatas. Mereka lalu tidur setelahnya.
Hujan yang deras membuat Nisa merasa kedinginan. Tanpa sadar, guling pembatas antara ia dan Pak Ayyas ia pindahkan ke sisi kanannya untuk ia peluk.
Setelah beberapa jam tidur, tiba-tiba Nisa merasa kebelet. Ia lalu memutuskan untuk ke toilet. Tapi tertahan oleh tangan kekar Pak Ayyas yang melingkar erat di perutnya.
“Bear sialan, ternyata dia memeluk saya.” Nisa membatin kesal.
“Bangun pak! Lepasin tangan bapak! Saya kebelet ini.” Nisa berusaha membangunkan Pak Ayyas.
Dengan setengah sadar, Pak Ayyas melepaskan pelukannya. Nisa segera bangun untuk ke toilet.
Pak Ayyas yang terlanjur bangun melihat jam di gawainya. Waktu menunjukkan pukul empat tepat. Ia lalu mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat qiyamul lail.
Setelah buang air kecil, Nisa memutuskan untuk tidak tidur kembali. Kalau dia tidur lagi bangunnya bisa kesiangan. Jadi dia memutuskan untuk menunggui Pak Ayyas selesai shalat lail. Ia akan protes atas tindakan Pak Ayyas padanya.
“Salim,” ucap Pak Ayyas sembari menyodorkan punggung tangan kanannya ke Nisa.
Dengan muka kesal, Nisa menjabat plus mencium tangan Pak Ayyas.
“Pak, saya kan tidak mengizinkan bapak untuk memeluk saya. Kenapa bapak peluk?”
“Wuuu, alesan. Kenapa bukan gulingnya yang bapak ambil?” Nisa masih saja protes.
“Saya tidak tega membangunkan kamu. Tidurmu lelap sekali. Sering-sering mindahin gulingnya ya, ha ha ha.”
“Dasar beruang mesum!” umpat Nisa saking kesalnya.
Bukannya marah dikatain beruang, Pak Ayyas malah merasa sangat senang melihat Nisa marah-marah seperti itu.
Ia lalu mengambil mushaf di koper. Segera ia membaca surat Al-Baqarah ayat 223. Dengan sengaja ia melantangkan suaranya saat membaca artinya.
“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.”
Tak hanya sampai di situ, Pak Ayyas juga meminta Nisa untuk membuatkannya quotes di aplikasi Canva.
“Bapak mau bilang apa?” tanya Nisa ketus. Ia tahu betul kalau Pak Ayyas sengaja membaca surat tadi untuk memanas-manasinya.
__ADS_1
“Ketik ini,” ucap Pak Ayyas sembari memperlihatkan hadist ke Nisa.
“Sebutin pak!” Pak Ayyas lalu membaca kutipannya dengan agak lambat, supaya Nisa tidak kesulitan dalam mengetik.
“Apabila seorang suami mengajak istrinya ke tempat tidur lalu ia tidak mau, dalam kurung memenuhi ajakannya tutup kurung. Kemudian ia marah, maka seorang istri itu akan dilaknat malaikat sampai pagi harinya. Titik, apostrof. Dalam kurung H kapital, R kapital. Titik Albukhari dan Muslim. Tutup kurung, titik.”
“Sudah jadi pak. Sudah saya kirim ke WA bapak juga,” ucap Nisa dengan ekspresi datar.
“Terima kasih istriku sayang,” rayu Pak Ayyas. “Alay,” timpal Nisa.
“Kamu tuh lucu ya Nisa. Saya membantu Susan, kamu marah. Saya so sweet ke kamu, kamu marah juga. Sebenarnya kamu cinta gak sih sama saya? ”
“Apa pengabdian saya selama ini belum cukup untuk membuktikan kalau saya serius dengan pernikahan kita?” tanya Nisa serius.
“Saya tidak meragukan itu,” balas Pak Ayyas. “Terus masalahnya dimana pak?”
“Masalahnya itu kamu dirayu saja marah, disentuh apalagi. Lalu bagaimana kamu akan melayani saya, kalau hal kecil seperti itu saja membuat kamu marah?”
“Saya selalu berusaha untuk menjadi istri yang sempurna untuk bapak,” ucap Nisa dengan wajah tertunduk. Ia mulai menyadari kesalahannya.
“Kalau kamu memang berusaha untuk menjadi istri yang sempurna buat saya, tolong biasakan diri kamu untuk bisa disentuh. Saya ini lelaki normal Nisa. Umur saya juga sudah 33. Kebutuhan batin saya juga perlu dipenuhi. Saya ini suami kamu, halal bagi saya untuk menyentuh kamu kapan saja tanpa perlu meminta izin terlebih dahulu. Tidak apa-apa kalau kamu belum mau melakukannya sekarang. Tapi setelah lulus nanti, kamu harus siap untuk itu.”
“Saya tidak mau pak,” ucap Nisa dibarengi tangis.
“Kenapa? Kita kan suami istri?” tanya Pak Ayyas dengan nada kecewa.
“Karena bapak tidak benar-benar mencintai saya. Bapak berkata-kata manis hanya supaya saya mau melahirkan anak untuk bapak. Saya takut setelah melahirkan anak nanti, bapak akan menceraikan saya. Saya tidak mau hal itu terjadi pada saya pak.” Tangis Nisa semakin pecah.
“Hey, kenapa menangis sayang? Harus berapa kali saya katakan, kalau saya itu cinta sama kamu? Di awal menikah saya memang belum mencintai kamu. Tapi setelah tinggal bersama, saya tidak punya alasan lagi untuk tidak mencintai kamu Nisa. Saya cinta semua hal yang ada padamu istriku.”
“Saya tidak bisa percaya pada bapak. Sudah terlalu sering bapak mematahkan kepercayaan saya. Bapak selalu bilang bapak cinta sama saya. Tapi bapak juga selalu melempar perhatian ke Bu Susan.”
“Astaghfirullah, dengan cara apa lagi saya menunjukkan keseriusan saya Nisa? Selama ini saya hanya membantu Susan saja, tidak lebih.”
“Bu Susan juga cinta pertama bapak. Kata orang cinta pertama itu sulit dilupakan.”
“Sulit bukan berarti tidak bisa. Buktinya saya sudah berhasil melupakan Susan. Susan memang cinta pertama saya, tapi kamulah cinta terakhir saya Nisa. Sekarang saya tanya, apa pernah saya membohongi kamu? Tidak pernah kan?"
Nisa hanya mengangguk setuju, tak berkata apa-apa.
__ADS_1
“So, stop berpikir kalau saya membohongi kamu!” Pak Ayyas terus berusaha untuk meyakinkan Nisa.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak