My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Kamu Bukan Tuan


__ADS_3

“Saya sudah janji kalau saya akan mengajar Dania dan Fina pak,” jawab Nisa.


“Ya sudah kamu boleh mengganti anggota. Bagaimana pun janji harus ditepati,” kata Pak Anwar sembari melangkah ke arah Ridwan.


“Sa, lu bohong ya?” tanya Juliana keheranan. “Bohong apa?” tanya Nisa balik.


“Kapan kamu janji ke Fina dan Dania kalau kamu akan mengajar mereka?” tanya Juliana lagi.


“Tadi pagi,” jawab Nisa singkat. “Aku kok nggak ingat ya,” kata Juliana keheranan.


“Tadi pagi Saleha bilang kita akan belajar bersama. Aida sama Saleha. Zulfitri sama kamu. Kita akan mewujudkan belajar bersama ala Saleha. So Fina dan Dania harus sekelompok sama aku dong. Bukan coach yang lain,” Nisa menjelaskan.


“Kamu nggak takut Sa kalau Nurul dan Fatma tahu tentang ini?” tanya Saleha.


“Takut kenapa? Lagipula darimana mereka akan tahu? Terkecuali kalau kalian beri tahu yang sebenarnya,” jawab Nisa pada sahabatnya yang tampak khawatir itu.


“Mereka akan membenci kamu Sa,” jawab Saleha.


“Biarin aja mereka membenciku. Selama aku tidak mengusik mereka duluan. Lagipula itu hak ku untuk menghindari mereka. Jika bagi mereka aku hanya seorang babu, untuk apa aku memperlakukan mereka layaknya tuan? Ada banyak orang lain di luar sana yang lebih layak untuk dihargai dibanding mereka,” kata Nisa tanpa menghiraukan sekitar.


“Benar juga sih kata Nisa,” ujar Juliana.

__ADS_1


Sementara di arah sana, tampak Ridwan dan Pak Anwar sedang berbincang-bincang. Mungkin saja Nurul dan Fatma akan dikelompokkan dengan Ridwan.


“Baiklah kalian boleh pulang. Besok kita mulai belajar kelompoknya,” titah Pak Anwar.


Mereka pun pulang. Sesampainya di parkiran, Nisa melihat mobil Pak Ayyas masih terparkir rapi. Dengan perasaan terpaksa ia minta temannya untuk pulang duluan.


“Cepat naik sebelum ada yang lihat,” desak Pak Ayyas saat melihat ketiga teman Nisa sudah pergi.


Segera Nisa memasuki mobil. Ia tak menyangka Pak Ayyas akan menunggunya.


“Ngapain kamu dekat-dekat sama Ridwan?” tanya Pak Ayyas sedikit kesal.


“Bayar hutang. Mau ngapain lagi?” jawab Nisa ketus.


Tak seperti biasanya, setibanya di rumah Nisa langsung tidur. Tanpa mengganti seragam sekolahnya terlebih dahulu. Meluapkan kekesalan seperti di sekolah tadi, memang seringkali membuatnya menjadi sangat lelah. Hal itu bahkan lebih melelahkan baginya dari melakukan pekerjaan yang melibatkan fisik.


Nisa terbangun saat mendengar adzan asar berkumandang dari arah surau dekat rumahnya. Segera ia mengambil air wudhu, lalu melaksanakan shalat. Meski seringkali pikirannya kemana-mana saat sedang shalat.


Bukankah memang lebih baik shalat meski pikiran masih kemana-mana, daripada kemana-mana tapi tidak shalat. Lagipula shalat lima waktu itu kewajiban bagi setiap orang yang mengaku muslim. Maka jika seorang muslim tidak melaksanakan shalat lima waktu, ia akan berdosa.


Seperti biasa, saat Nisa kesal pada Pak Ayyas ia akan lebih banyak diam saat di rumah. Sejak beberapa hari ini, ia tak pernah sedikit pun berbicara pada Pak Ayyas.

__ADS_1


Keesokan harinya, Nisa kembali berangkat ke sekolah menggunakan angkot. Ia berangkat lebih dulu untuk menghindari ajakan Pak Ayyas.


Di sekolah, belajar kelompok berlangsung dengan sangat baik. Setelah selesai mengajar, Nisa dan sahabatnya menghampiri Ridwan yang rupanya belum selesai mengajar anggota kelompoknya. Karena ingin pulang bersama, mereka pun menunggui hingga kelas Ridwan selesai.


“Baiklah, sebelum mengakhiri pelajaran apakah ada yang ingin bertanya?” tanya Ridwan pada anggota kelompoknya.


Tiba-tiba saja, Kiki siswa yang paling kocak di kelasnya menanyakan tentang status Ridwan.


Tanpa pikir panjang Ridwan langsung menjawab pertanyaan itu.


“Siswa lah,” jawab Ridwan terkekeh.


“Beruntung sekali perempuan yang menjadi istri coach nanti. Ia memiliki suami yang cerdas dan alim seperti coach,” gombal Ekki.


Ridwan hanya terdiam atas pujian Ekki. Ia tak tahu harus menjawab apa.


“Masih ada pertanyaan?” tanyanya lagi.


“Coach, perempuan seperti apa yang coach sukai?” tanya Atul penasaran.


“Saya suka perempuan yang berotak kanan,” ucap Ridwan sembari melirik ke arah Nisa.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2