
“Sudah cerita ke Abdur kalau kamu hamil?” Meski menyebalkan ke orang lain, Mirna begitu peduli pada adiknya.
“Sudah kak. Tapi dia tidak mau tanggung jawab, katanya gugurkan saja. Tapi Iren takut kak, bahaya.” Perempuan belia ini menangis sesenggukan, menyesali perbuatannya.
“Kalau dia tidak mau bertanggungjawab, kita laporkan saja ke polisi.” Mata Mirna menyala akibat murka.
“Percuma kak. Ayahnya polisi, jadi kebal hukum. Malah kita yang akan dilaporkan balik dengan kasus pencemaran nama baik.”
Melapor ke polisi, percuma. Bercerita pada orang tua, tidak mungkin. Apalagi ke yang lain, sudah pasti barang mustahil. Mau tidak mau, mereka cuma bisa bungkam.
Hingga delapan bulan berlalu, dengan kondisi hamil Iren tetap ke sekolah. Badannya yang tinggi besar membuat kehamilannya tidak kentara.
Semenjak hamil, Iren yang biasanya mengenakan kerudung pendek berganti ke yang panjang. Agar menutupi perutnya tiap kali ke sekolah.
Perubahannya memang mengundang perhatian siswa lain. Tapi tak terlintas di pikiran mereka jika anak terkaya di sekolah ini berpenampilan alim karena sedang menutupi kehamilannya. Mereka berpikir Iren memang sudah hijrah.
Sayangnya, kehamilan Iren terbongkar dengan sendirinya. Kondisi yang lemah membuatnya pingsan saat mengikuti upacara. Ia diangkat ke ruang UKS. Tak kunjung sadarkan diri, guru membawanya ke rumah sakit.
Betapa terkejutnya sang guru saat dokter mengatakan bahwa Iren tengah hamil besar. Setelah siuman, Iren menanyakan kronologinya bisa masuk rumah sakit. Demi menjaga perasaan siswanya, bu Mirda berpura-pura tidak tahu tentang info kehamilan dari dokter.
Setelah agak baikan, bu Mirda beserta bu Misna mengantarnya pulang. Sesampainya di sekolah, guru cantik ini menyampaikan kondisi Iren yang sebenarnya pada kepala sekolah.
Dengan tegas kepala sekolah meminta bu Mirda untuk tutup mulut mengenai masalah yang menimpa Iren. Jika ketahuan pihak luar, citra sekolah akan menjadi buruk. Orang tua pasti enggan menyekolahkan anaknya di situ lagi.
Sesegera mungkin kepala sekolah mencari daftar nomor HP wali murid. Sudah ketemu, ia pun menghubungi ayah Iren. Dengan perasaan yang tidak karuan, pak Hilmi menceritakan kejadian barusan.
Pak Radit beserta istri sangat murka atas tindakan immoral Iren. Mereka yang berada di luar negeri terpaksa memutuskan untuk balik sementara ke Indonesia tanpa sepengetahuan kedua putrinya.
Keesokan harinya, Iren tetap ke sekolah seperti biasanya. Ia tak tahu kalau guru yang mengantar ke rumah sakit kemarin sudah tahu tentang kehamilannya.
***
__ADS_1
“Mamaaa, papaaa.” Iren segera mendekat ingin memeluk kedua orang tuanya sepulang sekolah.
Iren merasa sangat senang melihat kedua orang tuanya berada di rumah. Akhirnya setelah dua tahun di luar negeri, mereka balik juga.
“Kepala sekolah telah memberi tahu tentang kehamilanmu. Papa tidak menyangka akan seperti ini Ren. Kami bersusah payah mencari uang di luar negeri untuk membiayai kamu dan Mirna. Lalu inikah balasannya? Hamil di luar nikah, memalukan sekali.” Pak Radit meradang.
“Seharusnya aku tidak melahirkanmu ke dunia. Bisanya hanya mempermalukan orang tua.” Bu Filsa mengamuk sejadi-jadinya.
Betapa pedih hati Iren saat tahu orang tuanya kembali ke Indonesia bukan karena rindu. Melainkan oleh kabar kehamilannya.
Teringat kembali kejadian di rumah sakit dua hari lalu. Saat bu Mirda mengatakan Iren hanya kelelahan. Rupanya guru muda itu berpura-pura, karena tidak mungkin kepala sekolah bisa tahu begitu saja.
“Iren juga tidak pernah mau terlahir menjadi anak papa dan mama. Jangan sok heran dengan kelakuanku. Apa pernah kalian mengajarkan etika yang baik? Selama ini hanya sibuk mencari rupiah. Tapi anak sendiri diterlantarkan, kekurangan kasih sayang orang tua, memaksa kami bersikap dewasa di usia dini.”
“Dasar anak durhaka, beraninya menyalahkan orang tua. Seharusnya kamu minta maaf telah mencoreng nama baik kami. Susah-susah membiayai, bukannya berterima kasih malah protes.” Pak Radit menampar wajah anaknya dengan begitu keras.
“Terima kasih atas tamparannya.” Iren berlalu meninggalkan ayah dan ibunya dengan memegangi pipi yang masih amat merah nan perih.
Beruntung pak Ayyas dan Nisa melintas di situ. Mereka berdua menghampiri Iren. Nisa menarik Iren, mencegahnya terjun.
“Lepaskan! Jangan coba-coba menahanku!” ucapnya tanpa berbalik.
Iren terus meronta, sekuat tenaga melepaskan tangannya dari genggaman Nisa.
“Jangan bertindak gegabah Iren, sampai memutuskan bunuh diri. Apa kamu tidak takut dengan azab Allah?” Nisa menggertaknya.
Akhirnya Iren berbalik, mendengar namanya disebut. “Pak Ayyas, kak Nisa...” ujarnya dengan beruari air mata.
“Kamu ada masalah apa dek? Sini cerita ke kakak! Aku janji akan mendengarkan semua keluh kesahmu.”
Iren turun, kemudian memeluk Nisa sambil terisak. Tak menyangka, perempuan yang suaminya ingin ia rebut justru lebih peduli dibanding keluarga sendiri.
__ADS_1
Nisa mengajak Iren masuk ke mobil. “Mobilku bagaimana kak?”
“Tenang saja, masalah itu biar kak Tonny yang urus. Kamu ikut kami saja." Nisa mengarahkan suaminya ke tempat healing mereka.
Pak Ayyas melajukan mobil ke Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, tempat ia dan Nisa biasanya melepas stress.
Mereka disuguhkan rindangnya pohon-pohon besar khas hutan. Dengan kandungan phytoncides yang membentuk minyak esensial, pohon bisa mengurangi tingkat hormon stress kortisol.
Perasaan Iren perlahan membaik. Hingga di waktu sore, mereka bersiap mengantarnya pulang. Tapi Iren menolak tegas, Nisa meminta pak Ayyas ke kost Juliana saja.
Nisa menjelaskan semua yang terjadi di jembatan tadi, juga meminta tolong agar Juliana mau menampung Iren.
Anak ini bisa saja nginap di hotel manapun yang dikehendaki. Tapi tidak dilakukan, sebab orang tuanya akan mudah melacak keberadaannya.
***
“Sudah sore, tapi Iren belum pulang juga. Dia kemana sih ma?” Mirna belum tahu bahwa orang tua dan adiknya habis cekcok tadi siang.
“Tidak usah cemas berlebihan begitu!” ucap sang ayah dengan begitu entengnya.
“Berlebihan? Baru kali ini loh Iren bertindak begini pa.”
Mirna bolak-balik ruang keluarga lantaran cemas. Beberapa kali ia menghubungi adiknya, tapi tak aktif.
“Benarkah? Kamu berbicara seolah adikmu itu baik.”
“Maksud papa apa sih? Iren memang baik kok.”
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
Sekadar info, author punya novel baru berjudul Terlambat Menikah. Monggo dibaca bagi yang berkenan.
__ADS_1