My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Salah Paham


__ADS_3

Nisa benar-benar kesal, waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat di rumah malah digunakan untuk memeriksa tugas di sekolah. Mana tugas dari guru yang menyebalkan seperti pak Ayyas lagi. Bertambah lah rasa kesalnya.


Sementara Juliana dan Aida justru merasa senang dengan aktivitas itu. Terutama Juliana yang sedari dulu mendambakan future husband seperti pak Ayyas.


Dengan mengerjakan tugas dari pak Ayyas ia merasa memiliki peluang untuk lebih dekat dengan guru idolanya itu.


Sayangnya, setelah memberikan kunci jawaban yang benar, pak Ayyas malah berlalu begitu saja meninggalkan mereka bertiga di ruangannya.


“Nyebelin banget sih ni guru, bukannya membantu malah ninggalin begitu saja. Seharusnya kan dia yang memeriksa semua ini. Huh menjengkelkan pake banget. Tapi setidaknya saya membantu orang lain,” umpat Nisa dalam hati.


Selang beberapa menit, hal tak terduga pun terjadi. Tiba-tiba Pak Ayyas yang selalu nyebelin di mata Nisa datang ke ruangan itu dengan membawa beberapa bungkus makanan untuk Nisa dan teman-temannya.


Pak Ayyas meminta mereka untuk memakannya setelah selesai memeriksa. Tak lama setelah itu ia merasa kebelet ingin buang air kecil.


“Saya ke toilet dulu ya, kalian lanjutkan saja memeriksanya.”

__ADS_1


“Pak Ayyas baik ya,” kata Aida saat pak Ayyas sudah tidak nampak lagi di netra nya.


Juliana pun mengiyakan, Nisa juga mengiyakan meski hanya dalam hati. Ia memang selalu gengsi untuk mengakui kebaikan orang lain secara langsung.


“Tidak rugi juga aku membantu pak Ayyas, ternyata dia royal. Yesss, makan gratis. Mungkin ini yang disebut rezeki anak sholehah,” pikir Nisa.


Tak lama setelah itu akhirnya mereka selesai memeriksa. Nisa langsung membuka bungkusan yang ditawarkan pak Ayyas tadi dan meletakkannya di tengah.


Siomay pun dilahap mereka. Perut yang memang sudah keroncongan sedari tadi akhirnya terisi sudah. Cacing-cacing tak lagi bersahut-sahutan di perut mereka.


Tak lama setelah itu, adzan asar berkumandang. Bersumber dari mushallah sekolah.


Nisa dan teman-temannya bergegas ke mushallah. Berwudhu, lalu masuk ke mushallah untuk melaksanakan shalat asar.


Semakin bertambah rasa cinta Juliana pada pak Ayyas. Guru yang sangat diidolakannya itu lagi-lagi tanpa sengaja melakukan hal yang membuatnya semakin tergila-gila.

__ADS_1


Ya, ternyata yang adzan tadi pak Ayyas. Lantunan adzan yang merdu berhasil memikat hati orang-orang yang mendengarnya. Terlebih pada perempuan yang sedang puber-pubernya seperti Juliana. Tak terkecuali Nisa.


Nisa juga menginginkan sosok laki-laki seperti pak Ayyas, bukan pak Ayyas. Rupanya rasa kesalnya jauh lebih besar dibanding rasa kagumnya.


Di zaman ini, lelaki seperti pak Ayyas sudah jarang ditemukan. Saat kebanyakan laki-laki lebih menyenangi bermusik, bermain bola, nge-game, dll.


Pak Ayyas justru berbeda. Ia lebih sering menggunakan waktu luangnya untuk mempelajari Ilmu Agama.


Perempuan mana yang tidak akan luluh pada tipe laki-laki seperti pak Ayyas? Tampan, mapan, cerdas, sholeh pula. Perpaduan yang sempurna sekali makhluk Tuhan yang satu ini.


Setelah shalat mereka langsung berpamitan ke pak Ayyas. Pada kesempatan yang lain mereka tak pernah menolak jika diminta untuk memeriksa pekerjaan temannya.


Siapa sih yang tak suka hanya dengan memeriksa tugas sebentar dan setelahnya bisa makan gratis. Nyam, nyam, nyam, benar-benar mantap.


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2