My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Doaku dan Usahamu


__ADS_3

Seperti biasa, setelah mengajar anggota kelompoknya. Nisa, sahabatnya, dan Ridwan pulang bersama. Sesampainya di rumah, Nisa langsung disambut Pak Ayyas.


“Cepat ganti baju! Saya tunggu di dapur,” titah Pak Ayyas.


“Kenapa lagi ini si Bear? Paling juga mau dimasakin mie goreng. Hufttt baru pulang juga,” keluh Nisa dalam hati.


Setelah mengganti seragam sekolahnya, Nisa langsung ke dapur.


“Masih ingat janji kamu kemarin?” tanya Pak Ayyas. “Lihat dulu madunya,” balas Nisa.


“Nih,” Pak Ayyas menyodorkan madu yang diambilnya dari freezer. “Keren ih. Madunya nggak membeku.”


“Kan sudah kukatakan madu asli tidak akan membeku jika dimasukkan di freezer. Kamu sih sok tahu,” ledek Pak Ayyas.


“Nih bawa embernya." Pak Ayyas memberikan ember ke Nisa. “Untuk apa bawa ember pak?”


“Untuk bayi putri duyung. Yah untuk menyimpan ikan tangkapan kita nanti lah Nisa,” ujar Pak Ayyas sembari menepuk jidatnya.


Hanya berjalan beberapa menit dan mereka tiba di tepi sungai. Jaraknya memang tidak begitu jauh dari rumah mereka. Sungai itu tidak begitu dalam. Tapi tetap saja mengerikan karena kondisi airnya yang keruh.


Pak Ayyas mulai melemparkan kailnya. Betapa beruntungnya mereka, belum juga cukup 20 menit, mereka sudah mendapatkan tiga ekor ikan.


“Alhamdulillah dapat ikan betok,” ujar Pak Ayyas. “Semua ini berkat doa saya pak.”


“Maksud kamu?” tanya Pak Ayyas keheranan. “Iya...bapak dapat banyak ikan berkat doa saya.”


“KePDan sekali kamu Nisa. Saya dapat banyak ikan berkat usaha saya.”

__ADS_1


“Iya pak, berkat doaku dan usahamu. Uhuy, udah meleleh belum pak?” gombal Nisa. “Nggak. Saya membeku ini,” ucap Pak Ayyas sedikit tersipu.


“Kamu tahu tidak Nisa. Kamu itu seperti ikan betok ini.”


“Hah?” Nisa tidak mengerti.


“Iya kamu unik. Kayak ikan betok,” rayu Pak Ayyas. “Uhh. So sweet. Kalau bapak itu seperti ikan gabus.”


“Kuat maksud kamu?” terka Pak Ayyas. “Bukan pak.”


“Terus apa?” Pak Ayyas mulai penasaran.


“Iya bapak kayak ikan gabus. Bertubuh besar dan berkulit hitam,” ucap Nisa lalu tertawa terbahak-bahak.


“Awas kamu Nisa. Kuceburin ke sungai tahu rasa kamu,” ancam Pak Ayyas.


“Tuh kan mulai lagi.”


Pak Ayyas meletakkan pancingnya, lalu menarik tangan Nisa. Mengambil ancang-ancang untuk menceburkannya ke sungai.


“Aduh!! Ampun pak. Saya tidak akan bercanda seperti itu lagi,” ucapnya sembari tertawa kecil. “Dasar payah,” ledek Pak Ayyas.


Langit mulai mendung, mereka segera pulang ke rumah. Ada satu hal yang tidak mereka sadari. Mereka sebenarnya memiliki kesamaan. Seperti ikan betok dan ikan gabus. Kedua jenis ikan ini adalah ikan yang terkenal unik karena kemampuan beradaptasinya saat air sungai mengering.


Seperti halnya kisah pernikahan mereka. Meski mereka tak menyukainya, mereka tetap menjalaninya dengan sangat baik.


Walaupun Pak Ayyas tidak mencintai Nisa, ia tetap memperlakukannya dengan baik. Begitu pula dengan Nisa. Ia tahu kalau Pak Ayyas mencintai Bu Susan. Tapi ia tak pernah terang-terangan mengatakan ketidaksukaannya akan kehadiran Bu Susan di hubungan mereka pada Pak Ayyas.

__ADS_1


Beruntung mereka segera pulang, karena tak lama setelahnya hujan turun dengan derasnya. Nisa membuat 2 cangkir teh hangat. Setelah meminum tehnya, ia segera membersihkan ikan tadi.


“Sa...Nanti ikannya kamu goreng ya!” pinta Pak Ayyas. “Goreng? Saya ada resep dari mama pak. Mau coba tidak?” ucap Nisa menawarkan.


“Boleh. Kalau begitu terserah kamu saja mau masaknya gimana.”


Nisa merasa sangat bersyukur memiliki suami seperti Pak Ayyas, tidak pilih-pilih dalam hal makanan. Makanan apapun yang dihidangkan Nisa, selalu ia lahap tanpa neko-neko.


Nisa mulai membakar tiga ekor ikan betok yang sudah ia bersihkan. Setelah matang, Nisa menyimpannya di piring. Ia lalu mengambil beberapa biji cabai rawit dan juga beberapa tangkai daun kemangi yang dipetiknya beberapa hari yang lalu.


Cabai rawit dimasukkan ke cobek, lalu ditambahkan garam secukupnya. Setelah cabainya halus, Nisa memasukkan daun kemangi lalu ditumbuk. Setelah itu, ikannya juga dimasukkan ke cobek dan ditumbuk.


Aroma daun kemangi tercium begitu harum. Setelah lauknya siap, Nisa kembali memasak sayur bening. Setelah semuanya siap, mereka kemudian makan dengan begitu lahapnya.


Di luar masih gerimis, membuat mereka merasa sedikit malas untuk beraktivitas. Jiwa kegabutan Pak Ayyas meningkat drastis.


“Di antara sahabat kamu. Siapa yang paling kamu senangi?”


“Juliana pak,” jawab Nisa cepat. “Kenapa?” tanyanya lagi.


“Juliana itu orangnya konsisten. Di depan baik, di belakang juga baik. No drama queen, marah ya marah. Menghindar sejenak, lalu baikan tanpa drama.”


“Asyik dong punya sahabat kayak Juliana?” tanyanya. “Bukan lagi pak. Bersyukur banget pokoknya. Oh ya, Juliana...”


Hampir saja Nisa membeberkan ke Pak Ayyas kalau Juliana menyukainya. Untung saja ia teringat akan janjinya pada Juliana tempo hari. Kalau perasaan Juliana ke Pak Ayyas hanya boleh diketahui oleh sahabat-sahabatnya saja.


“Ada apa dengan Juliana?” tanya Pak Ayyas penasaran.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭


__ADS_2