My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Ridwan yang Baik


__ADS_3

Setelah makan, ibu menghampiri Nisa ke dapur.


“Sudah izin ke Ayyas sebelum ke sini?” tanya ibu Nisa.


“Nggak ma,” jawab Nisa singkat.


“Loh, nggak boleh gitu nak. Perempuan yang telah bersuami harus izin terlebih dahulu ke suami. Ke rumah ibu sekali pun. Jangan sampai Ayyas tidak ridha dengan tindakanmu ini” ibu Nisa menasehati.


“Pak Ayyas sibuk bu mendampingi siswa di sekolah. Nggak mungkin Nisa menghampirinya. Sudah pasti siswa yang lain akan curiga kalau Nisa seperti itu bu,” Nisa menjelaskan.


“Kalau begitu kamu hubungi dia nak. Bilang kalau kamu mau nginap di sini. Kebetulan Aisyah punya PR bahasa Inggris. Nanti kamu bantu dia mengerjakannya,” suruh ibu Nisa.


“Iya ma. Nanti saya chat Pak Ayyas,” balas Nisa sembari menyelesaikan pekerjaannya.


Dibukanya gawai nya yang telah tercharge beberapa persen. Nisa mulai mengetik, dikirimnya beberapa pesan ke Pak Ayyas.


“Assalamu ‘alaykum”


“Pak, maaf saya pulang duluan ke rumah ibu”


“Tadi, saya lihat bazarnya terlalu ikhtilath”


“Malam ini saya nginap di rumah mama ya”

__ADS_1


“Bapak kan pulangnya malam, saya takut sendirian di rumah”


Pak Ayyas yang merasakan gawai nya bergetar segera menghindari keramaian. Langsung membuka gawai, lalu membaca chat dari Nisa.


“Wa’alaykumsalam warahmatullah.


Begini saja, setelah bazar selesai saya jemput kamu ya," balas Pak Ayyas.


“Jangan pak, saya mau membantu Aisyah mengerjakan tugas bahasa Inggrisnya malam ini,” tolak Nisa elegan.


“Ya sudah, besok pagi saja kita ke sekolah bareng.” Pak Ayyas menawarkan.


“Saya naik angkot saja pak, bapak berangkat sendiri saja,” tolak Nisa.


Tanpa memikirkan perasaan Pak Ayyas, Nisa menonaktifkan gawai nya. Lalu membantu Aisyah mengerjakan PR.


“Oh, praktik self introduction,” ujar Nisa saat melihat buku PR Aisyah.


“Kakak buatin dulu draftnya.” Nisa mulai menuliskan draft pengenalan diri untuk adiknya.


Hello everyone! Let me introduce my self. I am Aisyah, you can call me Ica. I live in Urung. My hobby is writing. My ambition is teacher. My mother is Arniati Nurdin and my father is Muhammad Ali. I have two sisters, they are Annisa and Wahdaniya. That’s all. Thank you so much for your attention.


Tak lupa, Nisa juga mengajarkan pelafalannya. Setelah itu, ia lanjut belajar untuk persiapan Try Out Fisika.

__ADS_1


Keesokan harinya di sekolah, Nisa ternyata lupa membawa pensil 2B. Ia mulai berteriak kecil ke arah Nurul. Di saat yang bersamaan, Fatma juga kelupaan dan meminta bantuan Nurul juga.


Nisa merasa lega saat Nurul berjalan ke arahnya. Sayangnya, kelegaan itu berubah menjadi kekecewaan tatkala Nurul melanjutkan langkahnya ke bangku Fatma.


Nisa tak menyangka Nurul akan memperlakukannya seperti itu. Nisa yang pertama meminjam, tapi Fatma yang dipinjamkan. Lagipula, selama ini Nisa tak pernah bertingkah buruk ke Nurul. Ternyata memang benar kata Ali bin Abi Thalib, yang paling pahit dalam hidup adalah berharap kepada manusia.


Tak ingin berlarut-larut, Nisa segera meminta izin ke Bu Rahma untuk membeli pensil di koperasi sekolah.


Sesampainya di sana, Nisa cepat-cepat membeli pensil. Ia kemudian meraba saku bajunya, mencari uang untuk membayar. Namun didapatinya sakunya kosong, tak ada uang sama sekali.


Ia baru teringat kalau uang pemberian Pak Ayyas ternyata sudah habis untuk ongkos angkot tadi. Beruntung di sana ada Ridwan yang ingin membeli pensil juga.


Tanpa ragu Nisa menyapanya.


“Ridwan, saya bisa pinjam uang kamu? Saya mau beli pensil tapi . . .”


Belum juga selesai bicara, Ridwan langsung memotongnya.


“Mau pinjam berapa?” tanyanya.


“Kalau boleh saya pinjam dua puluh ribu. Besok saya kembalikan,” ujar Nisa.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2