My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Pengagum Baru Nisa


__ADS_3

“Sa, sudah lihat chat di grup Kemah Bersama tadi malam belum?”


“Sudah Jul, kenapa?”


“Kamu sudah melihatnya dan merasa baik-baik saja?” tanya Juliana seolah protes akan reaksi Nisa. “Mau gimana lagi Jul. Toh mereka saling cinta.”


“Tapi yang istrinya itu kamu, bukan Bu Susan. Bu Susan juga aneh sih, dia kan sudah tahu kalian pasutri. Kenapa masih caper ke Pak Ayyas sih?” keluh Juliana.


“Bukan caper Jul, tapi peduli.”


“Come on Sa. Saya ini sahabat kamu. Kamu tuh kebiasaan. Pura-pura tegar terus. Sok ngebelain Bu Susan lagi.”


Nisa hanya tersenyum simpul mendengar ucapan sahabatnya itu.


“Hari ini belajar bersama dibatalkan,” lanjut Juliana. “Kenapa?” tanya Nisa begitu penasaran.


“Kamu pasti belum buka grup lagi kan?” “Iya sih belum,” tawa Nisa.


“Hari ini sepulang sekolah, bakal diadakan penggalangan dana Sa.”


“Siapa yang ngadain?” tanya Nisa lagi. “Tiap organisasi Sa. Kata Bu Susan itu perintah dari Kepala Sekolah. Kesempatan lagi kan mereka meluangkan waktu bersama.”


“Oh yah Jul, gimana kemarin kelompokku? Asyik kan ngajarin mereka?” tanya Nisa untuk mengalihkan pembicaraan Juliana tentang Bu Susan.

__ADS_1


“Seru, soalnya ada Dania dan Fina. Oh yah ada dua anak IPS yang introvert tapi cerdas menurutku.”


“Siapa Jul?”


“Saya tidak tahu namanya siapa Sa. Yang satu itu tinggi dan hitam manis. Yang satu manis, terus ada tahi lalat nya. Mukanya mirip Nagita Slavina Sa.”


“Oh itu Rosalina sama Zhofiyah, emang pada cerdas sih. Cuman kadang malu-malu gitu. Terus wawancara Widya ke Ridwan bagaimana?” tanya Nisa beralih topik.


“Lancar kok Sa. Tapi ya gitu, canggung. Soalnya Ridwan ngomongnya ke siapa lihatnya ke mana.” Juliana tertawa pelan.


“Salting kali Jul, ngomong sama junior cantik kayak Widya.” Nisa ikutan tertawa.


“Kalau menurutku, dia nyariin kamu sih Sa. Mau nanya ke saya pasti dia malu. Apalagi kamu kan bukan single lagi.” Juliana tertawa kecil.


Bergabung dengan siswa yang lain untuk melaksanakan apel pagi.


Di apel pagi kali ini, pembina apel menyampaikan informasi tentang penggalangan dana. Sebenarnya sudah dijelaskan Juliana ke Nisa tadi. Meski begitu, Nisa tetap mendengarkan pembina apel berbicara dengan penuh antusias.


Setelah apel pagi, siswa kembali memasuki kelas. Hingga bel pulang berbunyi, siswa yang berkecimpung di organisasi sekolah segera berkumpul di aula sekolah. Begitu pun dengan Juliana dan sahabat-sahabatnya yang merupakan anggota dari organisasi NGEC. Sembari menunggu Bu Hasna datang, mereka bercakap-cakap.


“Sa.”


“Apa Zul?”

__ADS_1


“Coba lihat ke sana!” tunjuk Zulfitri pada seorang siswa yang penampilannya sedikit acak-acakan.


“Siapa Zul?” tanya Nisa keheranan. Ia tidak mengenali laki-laki yang dimaksud Zulfitri.


“Itu bad boy sekolah Nisa. Gayanya cool. Banyak loh yang mengidolakan dia,” potong Dania.


“Terus?” Nisa benar-benar penasaran. “Kemarin Kak Erna cerita, katanya dia nanyain kamu.”


“Masa sih? For what?” tanya Nisa seakan tak percaya dengan kata-kata Zulfitri barusan.


“Iya Sa. Kata Kak Erna dia tertarik sama temanku yang berkerudung panjang.”


“Juliana dong,” balas Nisa spontan. “Bukan, bukan Juliana. Katanya yang agak pendek. Juliana kan tinggi,” ucap Zulfitri berusaha meyakinkan Nisa.


“Kok bisa? I am not beautiful at all. Ada-ada aja kamu Zul.”


“Bisa lah. Dia tuh suka nongkrong di rumah Bu Tuti. Sering lihat kamu kalau ke sekolah. Kata Kak Erna dia suka kamu karena kamu cuek.”


“Ya iyalah cuek. Mana ada orang jalan sambil senyam senyum sana sini. Belum kenal sih jadi bilang cuek. Aslinya mah kayak orang gila.”


Percakapan mereka ternyata didengar oleh Pak Ayyas yang sedari tadi berdiri di belakang anggota NGEC. Ia juga sedang menunggu anggota Remus di aula.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2