
“Biar saya bantu mengungkap pencurinya pak. Saya yakin kalau bukan Nisa ataupun Juliana yang mengambil uang Ekki. Mereka ini murid teladan di sekolah kita. In Syaa Allah mereka tidak akan melakukan hal serendah ini.”
“Baiklah kalau begitu. Saya serahkan masalah ini kepada bapak.” Pak Masri kembali ke ruang BK.
“Kalian semua silakan keluar, kecuali Nisa dan Juliana.” Siswa langsung keluar kelas, mengikuti arahan pak Ayyas.
“Nisa, catat semua nama teman kamu di satu kertas kosong!”
Nisa segera mengambil kertas kosong, lalu menuliskan satu per satu nama teman kelasnya.
“Juliana, bawakan saya satu gelas air.” Juliana langsung ke kantin untuk membeli air gelas.
Dengan langkah yang dipercepat ia kembali ke kelas untuk menyerahkan air gelasnya ke pak Ayyas.
Setelah menuliskan nama-nama temannya, Nisa menyusul Juliana keluar kelas.
Satu per satu siswa memasuki kelas untuk mencelupkan jari telunjuknya ke dalam gelas yang berada di atas meja guru.
Kini giliran Nisa untuk mencelupkan jarinya ke air gelas di hadapan pak Ayyas.
“Panggil temanmu masuk!” perintah pak Ayyas pada Nisa.
“Tapi saya belum mencelupkan jari saya pak,” protes Nisa.
“Tidak usah, Juliana saja saya bebaskan apalagi kamu. Cepat, panggil teman-teman kamu masuk!”
Nisa lalu keluar, meminta teman kelasnya untuk kembali ke bangku masing-masing.
“Teruntuk yang mengambil uang Ekki, saya beri kamu kesempatan untuk mengembalikannya hingga sepekan ini. Kalau tidak dikembalikan pekan ini juga, maka jari telunjuk kamu akan gatal dan membengkak. Nisa kemari!”
Nisa lalu ke depan. Pak Ayyas memberikan kertas kosong dan pulpen tadi ke Nisa.
__ADS_1
Nisa melihat satu nama yang dilingkari, yup pelakunya memang teman kelas Nisa. Manda, yang tak lain adalah teman dekat Ekki sendiri.
“Jangan perlihatkan ke temanmu!” ucap pak Ayyas lalu keluar kelas.
Nisa menyimpan baik-baik kertas tadi. Tidak membiarkan yang lain untuk melihatnya.
“Katanya orang yang baik itu adalah orang yang ramah ke semua orang. Tapi tidak dengan Bear. Dia cuek sekali, tapi kepeduliannya tak dapat dinistakan,” batin Nisa.
Di sore hari setelah belajar kelompok, Nisa pulang bersama sahabat-sahabatnya. Jika biasanya ia langsung mandi, kali ini ia justru mencari keberadaan pak Ayyas di rumah.
“Si Bear nggak ada di kamar. Mungkin ada di balkon,” ucap Nisa.
Ia lalu meletakkan tasnya dan langsung berlari ke arah balkon.
“Hey pak,” ucap Nisa dengan sengaja mengagetkan pak Ayyas.
“Wa ‘alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuhu,” balas pak Ayyas sebagai ejekan untuk Nisa yang tidak mengucapkan salam padanya.
“Kebiasaan sekali kamu menjudge orang lain. Sorry ya, suamimu ini bukan Jun yang bisa melihat om Jin.”
“Terus tahu darimana kalau Manda yang mencuri uang Ekki?” tanya Nisa penasaran.
“Dari ekspresi mukanya,” balas pak Ayyas lalu menyeruput secangkir kopi Toraja di hadapannya.
“Tapi ekspresi bisa dimanipulasi pak. Jangan sampai bukan Manda pelakunya,” ujar Nisa.
“Saya yakin kalau Manda pencurinya. Dari semua teman kelasmu, Manda lah yang ekspresinya paling mencurigakan.”
“Terserah bapak saja lah. Btw, terima kasih ya pak. Sudah belain saya sama Juliana tadi.”
“Orang yang tidak bersalah memang harus dibela kan? Lagipula sebagai suami, saya memang wajib untuk membela dan melindungi kamu. Sudah, sudah, ayo kita ke bawah. Ini sudah magrib. Kamu juga belum mandi kan? Besok-besok kalau telat pulang dari sekolah, cuci badan saja. Tidak baik keseringan mandi malam, nanti kamu kena paru-paru basah.”
__ADS_1
“Iya pak.”
Kali ini Nisa benar-benar nurut. Berbeda dari sebelum-sebelumnya yang benci dinasehati bak anak-anak.
Seperti biasa, pak Ayyas ke mesjid untuk shalat magrib. Kali ini pulangnya setelah shalat isya karena ada musyawarah pemilihan khatib baru di mesjid.
Setelah makan malam bersama, Nisa dan pak Ayyas kembali ke kamar untuk tidur.
“Nisa coba sini!” panggil pak Ayyas. Nisa segera mendekat.
“Coba lihat, ada apa sebenarnya di kepala saya. Harus ganti shampoo ini, shampoo yang sekarang bikin ketombean. Rasanya gatal sekali,” ucap pak Ayyas sembari menggaruk-garuk kepalanya tanpa henti.
Nisa mulai memeriksa bagian yang sedari tadi digaruk pak Ayyas.
“Ha ha ha. Ini bukan ketombe pak, tapi uban.”
“Kenapa kau tertawa? Apanya yang lucu? Kau seharusnya takut, karena semakin banyak uban saya maka semakin ingin saya cepat-cepat memiliki anak.”
“Kenapa saya harus takut?” ucap Nisa sewot.
“Oh, jadi kamu tidak takut? Baiklah kalau begitu, saya cancel ingin memiliki lima anak. Kita akan memiliki delapan anak.”
“Ih enak aja, kita. Bapak sama bu Susan lah. Jangan bawa-bawa saya.” Nisa bergidik mendengar ucapan pak Ayyas.
“Istri saya Susan atau kamu?” tanya pak Ayyas lagi.
“Saya,” balas Nisa spontan.
“Anak yang cerdas.” Pak Ayyas tertawa terbahak-bahak melihat Nisa tidak berkutik.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1