My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 87


__ADS_3

“Masih ada yang mau dibicarakan? Kalau sudah tidak ada, kita berangkat sekarang.” Pak sopir menoleh ke belakang.


“Tidak ada pak, jalan saja.”


Pak sopir kini melajukan mobilnya. Nisa tak menoleh sedikit pun ke arah Pak Ayyas. Baginya semuanya sudah jelas. Ia lanjut kuliah dan Pak Ayyas sebentar lagi akan menikah dengan Bu Susan. Keluarga Pak Ayyas tidak akan kecewa dengan perceraian mereka. Yang mereka inginkan adalah cucu yang juga bisa diberikan oleh Bu Susan.


Sopir pun singgah di rumah Juliana. Juliana lalu masuk ke mobil, duduk di samping Nisa. Setelah itu, mereka ke rumah Ridwan. Ridwan duduk di depan, di samping pak sopir yang sedang bekerja. Mengendarai mobil supaya baik jalannya.


Pak Ayyas pulang ke rumah ibunya dengan perasaan yang terluka hebat. Ia memasuki rumah dengan langkah pelan. Ia ke kamar untuk mengambil tasnya.


“Ayyas, sini dulu.” Bu Tiara yang tengah asyik menonton di ruang keluarga memanggilnya.


“Ada apa ma?” tanya Pak Ayyas. Sebisa mungkin ia menyembunyikan kesedihannya di hadapan ibunya.


“Bagaimana tadi malam? Berhasil kan?” tanya Bu Tiara tidak sabaran.


“Belum ma.”


“Yah, kok belum? Tunggu apa lagi? Nisa kan sudah lulus sekolah.”


“Nisa menolak terus ma.”


“Kamu kurang lihai mungkin membujuknya.” Bu Tiara menyalahkannya.


“Sudah ma, tetap saja Nisa tidak mau. Tidak mungkin juga kan Ayyas paksa dia.”


“Kamu jangan menyerah gitu dong Yas! Kalau tadi malam gagal, nanti malam kamu coba lagi!”


“Tidak bisa ma. Nisa sudah ke Bandung untuk kuliah.”


“Kenapa Nisa tega sekali tidak bilang ke mama.” Bu Tiara kecewa sekali dengan sikap Nisa.


“Nisa pasti takut bilang ke mama. Kalau mama tahu mama pasti melarangnya.” Pak Ayyas berusaha menenangkan ibunya.


“Mama pikir menantu mama adalah anak yang baik. Mama tidak menyangka dia setega itu memutuskan lanjut kuliah di Bandung tanpa sepengetahuan mama dan papamu.”


“Mama juga sih terlalu berharap. Kalau sudah begini Ayyas juga tidak tahu mau bilang apa ma. Ayyas balik dulu yah ma. Banyak tugas sekolah yang harus Ayyas selesaikan. Assalamu’alaykum.”

__ADS_1


“Wa’alaykumussalam warahmatullah.”


Pak Ayyas menyalami ibunya, lalu kembali ke rumah dengan perasaan yang teramat sedih.


Sementara Juliana, Nisa, dan Ridwan kini tiba di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin. Kemudian naik pesawat yang mendarat setelah dua jam lebih di Bandar Udara Internasional Husein Sastranegara.


Ini pertama kali mereka menginjakkan kaki di kota Bandung. Kota metropolitan terbesar di Jawa Barat. Satu-satunya orang yang mereka kenal yang saat ini berada di Bandung hanyalah kak Tonny. Juliana langsung menghubungi Kak Tonny untuk menjemput mereka.


Setelah beberapa menit menunggu, kak Tonny akhirnya datang juga. Kak Tonny langsung mengantar mereka ke kost yang telah disewanya. Nisa dan Juliana bersih-bersih kamar dulu. Kamar berukuran kecil yang sengaja mereka huni berdua demi menekan pengeluaran.


Mereka berdua bukanlah anak orang kaya. Bisa kuliah dengan bantuan beasiswa Bidikmisi saja membuat mereka merasa sangat bersyukur.


Bisa kuliah secara gratis tanpa bayar UKT.


Karena uang UKT mereka otomatis dibayarkan oleh Dikti setiap semester langsung kepada pihak universitas.


Mahasiswa Bidikmisi seperti mereka berdua juga diberi dana sekitar 3,9 juta oleh Dikti setiap semesternya guna memenuhi biaya hidup selama kuliah.


Keesokan harinya mereka ke kampus pagi-pagi sekali. Untung saja mereka berangkat sebelum pukul 6, jadi bebas dari hukuman panitia PKKMB seperti kebanyakan maba lainnya.


Baru juga di hari pertama PKKMB, diskriminasi sudah ditunjukkan secara halus oleh panitia PKKMB. Mereka menunjuk beberapa mahasiswa yang tampan dan cantik untuk berdiri memperkenalkan dirinya. Beberapa dari mereka ternyata menjadi teman sekelas Nisa nantinya.


Contohnya saja Mirna, si cantik nan calm. Darren, si tinggi dengan style ala oppa Korea. Meldi, si cantik dengan tubuh minimalisnya. Helmiyanti, cantik tapi sedikit lebay. Dan yang terakhir, Ninda si Barbie cantik versi Indonesia.


Nisa sangat membenci proses PKKMB. Suasananya begitu ribut. Terasa kurang nyaman bagi introvert sepertinya.


Orang seperti Nisa juga tahu betul modus di balik PKKMB yang tak beda jauh dari ospek saat SMA dulu. Sudah menjadi rahasia umum, pelaksanaan PKKMB adalah momen yang paling menguntungkan bagi senior untuk menggaet mahasiswa baru yang attractive.


Momen bagi mereka untuk menampakkan powernya di hadapan mahasiswa baru yang bisanya mengekor saja. Momen untuk mereka exist melalui jalur lain.


Di sore hari, camaba akhirnya diperbolehkan pulang oleh panitia. Setelah mandi, Nisa dan Juliana berbaring sejenak sembari menunggui waktu shalat magrib. Ternyata mengikuti PKKMB seharian cukup melelahkan bagi mereka.


Keesokan harinya panitia memberikan game ke camaba.


“Hari ini kita main game. Tim yang menang akan bebas dari hukuman,” ucap Adam kepada camaba Pendidikan Bahasa dan Sastra.


Adam adalah ketua BEM di kampus. Ia banyak dikagumi oleh calon mahasiswi baru karena ketampanan, kecerdasan, dan juga kharismanya yang luar biasa.

__ADS_1


“Sekarang masing-masing kelompok berdiri dari depan ke belakang sesuai dengan jumlah mantan anggota kelompoknya,” ucap Adam mengarahkan.


Juliana dan Nisa menuju barisan paling depan di kelompoknya. Setelah semua calon mahasiswa berbaris Adam pun mengecek barisan mereka.


“Kamu, berapa mantan kamu?” tanyanya.


“Tidak ada kak,” jawab Juliana yang berdiri di barisan paling depan.


“Kamu?” tanya Adam pada Nisa.


“Sama kak.”


“Sama apa?” Adam menggertak Nisa.


“Sama dengan yang di depan kak,” balas Nisa sedikit ketakutan.


Untung saja Adam cepat beralih bertanya ke camaba di belakang Nisa. Begitu seterusnya hingga kelompok Nisa yang menjadi pemenang di Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra.


Kelompok Nisa menjadi pemenang karena anggota kelompoknya benar-benar berbaris tersusun sesuai jumlah mantannya. Kelompok yang kalah kini dihukum oleh panitia yang lain.


Setelah memastikan kelompok yang lain diberi hukuman, Adam berpindah ke fakultas yang lain untuk mengarahkan camaba memainkan game yang sama. Game ini semata-mata dilakukan hanya untuk menghibur camaba yang mungkin sedikit tertekan karena program PKKMB yang sudah berjalan selama beberapa hari ini.


Akhirnya tibalah hari yang menggembirakan bagi kebanyakan camaba. Yup, hari terakhir PKKMB.


Panitia tampak sedang kesulitan mencari camaba yang akan menyampaikan pesan dan kesan pada malam ramah tamah nanti.


Seharusnya Ninda yang melakukannya, tapi tiba-tiba saja ia harus ke Amerika karena neneknya meninggal. Di sela-sela rapat panitia, seorang panitia menghampiri Adam.


“Dam, di luar ada yang mau ketemu kamu tuh. Katanya penting,” ucap panitia tersebut.


“Okay. Tunggu sebentar,” ucap Adam kemudian berdiri dari tempat duduknya.


Di luar ruangan Adam keheranan melihat orang yang ingin bertemu dengannya ternyata Nisa dan Juliana.


“Hey para perempuan yang tidak memiliki mantan pacar. Kenapa kalian mencari saya?” tanya Adam sembari mengernyitkan alisnya.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2