
“Udah nikah Yas?” tanya Irwan.
“Belum.” Pak Ayyas tiba-tiba merasa cemas dengan pertanyaan Irwan. Ia takut kalau sampai ketahuan telah beristri.
“Soalnya kamu bawa anak kecil. Sedangkan setahu saya, kamu itu anak semata wayang.”
Irwan semakin penasaran siapa anak kecil yang dibawa pak Ayyas. Rungunya ia fokuskan untuk mendengarkan ujaran lelaki itu selanjutnya.
“Itu sepupu dekatnya,” sahut bu Susan cepat.
“Iya, sepupuku.” Pak Ayyas akhirnya merasa sedikit lega dengan bantuan bu Susan.
“Jadi kapan kalian akan menikah?” tanya Irwan lagi.
“Kita? Maksudnya siapa bro?” Pak Ayyas berusaha terlihat tidak panik.
“Pura-pura tidak tahu lagi. Kamu dan Susan lah.”
“Oh, kirain siapa.”
“Kenapa belum menikah? Kamu kan sudah mapan sekarang. Seingat saya dulu kamu bucin sekali ke Susan.”
__ADS_1
“Itu kan dulu bro. Saya sama Susan tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang. Hanya sebatas rekan kerja di sekolah.”
“Wah, sama tempat ngajar? Saya yakin kalian pasti bakal cinlok nantinya.”
“Nggak lah bro. Saya sedang menunggu seorang perempuan. Tamat SMA nanti langsung saya nikahi.”
Ucapan pak Ayyas membuat Irwan membelalak tak percaya. Betapa tidak menyangkanya ia, lelaki yang dulunya merupakan pengemis cinta bu Susan, kini dengan enteng mengatakan akan menikahi perempuan lain di hadapan bu Susan langsung.
Ucapan pak Ayyas tersebut benar-benar membuat bu Susan down. Hal yang ia takutkan kini benar-benar terjadi.
Kebersamaan pak Ayyas dan Nisa berhasil membuat lelaki yang dicintainya itu jatuh cinta pada Nisa.
Penyesalan kini menari-nari di dalam pikirannya. Jika saja dulu dia siap untuk menikah dengan pak Ayyas, pak Ayyas tidak akan dinikahkan dengan Nisa.
Bu Susan pamit ke Irwan. Ia berusaha tersenyum, tapi matanya tidak bersahabat. Mata sipit itu sungguh tak lihai dalam menyembunyikan kepahitan yang tengah pemiliknya rasakan.
“Kejar dong Yas! Kamu tidak lihat dia jadi sesedih itu karena ucapanmu barusan,” desak Irwan.
“Tidak bisa Wan. Kalau saya kejar, Susan pasti berpikir kalau saya masih cinta sama dia. Sedangkan perasaan saya sekarang benar-benar sudah tidak ada yang tersisa untuknya.”
Bu Susan semakin bersedih saat menyadari pak Ayyas tidak mengejarnya. Lelaki yang dulunya tak akan membiarkannya terluka justru kini dialah yang menorehkan luka terdalam di hidupnya.
__ADS_1
“Semuanya memang salahku. Seharusnya aku tak mengharapkan kak Ayyas bisa menjadi suamiku. Aku tahu dia sudah beristri, tapi masih memaksakan diri untuk menunggunya bercerai. Sekarang, aku sendiri yang terluka. Dia ternyata lebih memilih istrinya dibanding aku. Jahat kamu kak. JAHAT,” batinnya.
Air mata terus saja mengucur deras dari kedua matanya. Membasahi parasnya yang cantik. Kecantikan yang pada akhirnya ternyata tak mampu membuat pak Ayyas menetap padanya.
Saat bu Susan bersedih karena pak Ayyas, Nisa justru bahagia karena kedatangan Syam dan Juliana ke rumahnya.
“Kata kak Erna, dulu kamu punya buku lagu ya?” tanya Syam.
“Iya, ha ha kamu mengingatkanku pada masa kecil. Waktu masih kelas 3 SD kayaknya. Waktu itu belum ada gadget, jadi lagu-lagu dicatat di buku tulis. Semakin banyak lagu, maka bukunya semakin berharga karena sering dipinjam orang lain untuk disalin,” balas Nisa antusias.
“Ha ha dulu saya juga punya buku lagu, Sa. Di dalamnya ada lagunya artis-artis top seperti Dewi Persik. Kayak Mimpi Manis sama itu tuh lupa aku judulnya,” sahut Juliana.
“Yang liriknya stop kau mencuri hatiku, hatiku. Stop kau mencuri hatiku.” Syam menyanyikan lagu Dewi Persik yang Juliana maksud.
“Yeee dasar buaya. Giliran lagu cinta-cintaan menghadapnya ke Nisa. Padahal tadi nggak,” tegur Juliana.
“Husshhh, jangan dimulai lagi.”
Di tengah-tengah keseruan mereka, pak Ayyas masuk ke rumah. Ia seketika menjadi kaget saat menyadari ada Syam juga di dalam rumah.
Tadi, ia tidak memperhatikan ternyata ada sandal lelaki di luar. Yang ia tahu, yang akan datang hanya Juliana seorang diri.
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak