My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Penolakan


__ADS_3

Nisa terbangun, diliriknya gawai nya. Jam menunjukkan pukul 03:45. Ia bergegas mengambil air wudhu, lalu melaksanakan shalat tahajud.


Hanya pada Allah sajalah ia bisa mengadukan segala keluh kesahnya saat ini. Menumpahkan butir-butir mutiara yang membendung di pelupuk matanya.


Jika dulu semuanya diadukan pada orang tuanya, kini tidak lagi. Bercerita perihal rumitnya rumah tangganya hanya akan membuat orang tuanya menjadi sedih. Rasa cemas juga akan memperburuk kondisi kesehatan ayahnya.


Di usianya yang masih 17 tahun, Nisa seolah dipaksa untuk menjadi dewasa di usia dini.


Tiap kali masalah menghadapinya ia hanya mencoba menenangkan diri dengan mengatakan, “Wahai masalah, engkau memang besar, tapi aku punya Allah yang Maha Besar.”


Setelah perasaannya membaik, dibukanya kembali chat Ridwan yang tak sempat ia balas tadi malam. Dengan berhati-hati, ia mengetik.


“Saya tidak bermaksud untuk menolak mu. Tapi dengan IQ mu yang cukup tinggi, kamu pasti paham maksud dari foto ini.”


Nisa lalu mengirimkan foto cincin di jari manisnya ke Ridwan.


“Kamu sudah menikah Nisa?” tanya Ridwan yang ternyata juga sudah terjaga.


“Iya, tolong rahasiakan ini dari yang lain ya! Cukup kamu siswa di sekolah yang tahu hal ini.”


“Berarti, ada guru yang sudah tahu tentang pernikahanmu?” tanya Ridwan.


“Iya,” balas Nisa singkat.


“Siapa?”

__ADS_1


“Bu Susan.”


“Apakah lelaki yang menjadi suamimu saat ini adalah pak Ayyas?”


“Ya.”


“Nisa, kamu sedang bercanda kan? Ini semua cuma prank kan?” Ridwan mencoba untuk melawan kenyataan yang ada.


“Saya serius Ridwan.” Nisa lalu mengirimkan foto pak Ayyas yang tengah terlelap di tempat tidur.


“Baiklah, saya yakin sekarang. Kamu tenang saja Nisa. In Syaa Allah, saya tidak akan menceritakan semua ini ke siapa pun.”


“Terima kasih atas pengertian mu Ridwan. Kamu lelaki yang sangat baik. In Syaa Allah kamu akan mendapatkan perempuan yang jauh lebih baik nantinya.”


“Aamiin,” balas Ridwan singkat.


Fakta tentang pernikahan Nisa seolah menjadi hadiah paling kelam di hari lahirnya. Kendati demikian, rasa cintanya pada Nisa tidak lebih besar dari rasa cintanya pada Rabb.


Dengan perasaan sedikit terhuyung-huyung ia melangkahkan kaki ke mesjid. Tempat yang menjadi saksi betapa seringnya ia munajatkan doa pada Allah agar dijodohkan dengan Nisa kelak.


Jika biasanya ia merayu Allah agar dijodohkan dengan Nisa. Kini doanya berubah, memohon untuk dikuatkan. Tak mungkin lagi ia berdoa untuk dijodohkan dengan Nisa yang sudah jelas telah menjadi istri dari gurunya sendiri.


Ridwan beranggapan kalau Nisa memang pantas untuk disandingkan dengan lelaki sholeh seperti Pak Ayyas. Ia tak tahu kalau Nisa sebenarnya sangat terluka karena pernikahannya.


Setelah pertengkaran tadi malam, suasana rumah terasa begitu canggung. Nisa dan Pak Ayyas berangkat bersama ke sekolah tanpa dialog sama sekali.

__ADS_1


Dengan wajah murung Nisa memasuki kelas. Wajah yang sama sekali di luar ekspektasi Juliana. Ia berpikir pengakuan Ridwan akan membuat Nisa merasa senang. Justru yang terjadi malah sebaliknya.


“Sa, ikut saya.”


Juliana menarik tangan Nisa hingga ke depan perpustakaan yang belum terbuka. Setelah memastikan tak ada orang lain di sekitarnya, Juliana langsung menginterogasi Nisa.


“Bagaimana Sa?” tanya Juliana menyelidiki.


“Bagaimana apanya Jul?”


“Ridwan chat kamu kan?”


“Iya, kok tahu?” Nisa penasaran.


“Sebelum dia chat kamu dia tanya-tanya dulu ke saya. Kayak minta saran gitu Sa. Yah, I just tell him kalau kamu itu tidak mau pacaran. Makanya katanya dia mau komitmen gitu Sa.”


“Jul, Jul. Lain kali kalau ada yang kayak gitu jangan diladeni. Urus diri sendiri saja belum bisa. Sudah berani meminta anak gadis orang untuk menunggu. Lagian tidak ada yang bisa menjamin dia akan terus suka sama saya Jul. Orang yang sudah menikah saja masih bisa berpaling. Apalagi yang belum punya hubungan sama sekali. Hati manusia itu seperti cuaca Jul. Tidak menentu, bisa berubah kapan saja. Bayangkan kalau saya menunggu Ridwan bertahun-tahun. Lalu setelah sukses ternyata dia menikahi perempuan lain. Yang rugi saya sendiri.”


Nisa berbicara panjang lebar hanya untuk menutupi kebenaran, kalau dia sebenarnya sudah menikah. Mana mungkin seorang istri bisa mencintai lelaki lain. Sedangkan ia sudah punya suami.


“Maaf deh Sa. Laki-laki kayak Ridwan tuh udah limited edition loh Sa,” bujuk Juliana.


“Ya sudah. Kalau begitu Ridwan untuk kamu saja,” ucap Nisa lalu tertawa.


“Nih anak,” Juliana mencubit Nisa. “Ha ha udah Jul, apel udah mau dimulai ni.”

__ADS_1


Mereka lalu ke lapangan sekolah untuk mengikuti apel pagi.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2