My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 83


__ADS_3

Ujian Nasional telah usai. Saatnya porseni dilaksanakan di sekolah. Momen yang menggembirakan bagi siswa. Selain karena bisa ikut berkompetisi dalam lomba, siswa juga terhibur melihat beragam perlombaan.


“Sa, semua teman kita menyalahkan kamu karena tidak mau ikut lomba baca Qur’an. Jujur, saya juga ikutan bingung, kenapa kamu tidak mau berpartisipasi. Tahun kemarin kamu ikut dan alhamdulillah kelas kita juara,” ucap Juliana.


“Nggak ada apa-apa Jul, kamu saja yang baca Qur’an. Nanti Lisna yang jadi saritilawahnya. Bacaan Qur’anmu kan bagus, suara Lisna juga bagus. Pasti kelas kita tetap akan dapat juara kok kalau kalian yang ikut.”


“Bagusnya sih kamu yang baca Qur’an, saya yang jadi saritilawahnya.”


“I can’t Jul, once I said I can’t so I can’t.”


“Tapi kenapa Sa? Tell me the reason, biar saya bantu jelasin ke teman-teman. Sebagai sahabat kamu, saya tidak suka kalau semua orang menyudutkan kamu terus karena tidak mau mewakili kelas kita.”


“Saya ikut lomba bukan hanya untuk mendapatkan pengalaman seperti prinsip yang kamu pegang selama ini Jul. Saya ikut lomba karena ingin menang. Jadi ketika saya merasa tidak ada kesempatan untuk menang, ya saya mundur duluan.”


“Siapa bilang tidak ada kesempatan menang? Bacaan Qur’an kamu kan bagus, kemarin-kemarin kamu juga selalu menang. Kenapa sekarang kamu jadi insecure gini sih Sa?”


“Well, saya akan cerita semuanya. Tapi kamu janji yah Jul tidak akan cerita ke orang lain.”


“In Syaa Allah amanah Sa. Selama ini kan saya selalu menjaga rahasia kamu. Saya tidak pernah sama sekali mengkhianati kepercayaan kamu.”


“Jadi gini Jul, waktu masih kelas satu dan kelas dua yang menjadi juri itu bu Hanisa, bu Darna, dan bu Susan. Waktu itu bu Susan juga tidak memiliki masalah ke saya. Penilaiannya otomatis objektif, jadi saya bisa dapat juara. Sekarang yang jadi juri pak Ayyas, bu Susan, dan bu Hanisa. Saya pasti tidak akan dapat juara lagi Jul. Yang penilaiannya bakal pure cuma bu Hanisa. Bu Susan sama pak Ayyas pasti bakal kasih nilai rendah untuk saya.”


“Iya juga sih. Bu Susan bakal kasih nilai rendah karena kamu istrinya pak Ayyas. Tapi pak Ayyas kan suami kamu Sa. Kemarin saja dia yang bantu kita bicara ke bu Suryana supaya kita tidak tampil dance. Masa iya sekarang dia tega mau ngasih kamu nilai rendah.”


“Kamu lupa ya, waktu itu kan dia kasih nilai tinggi untuk anak walinya bu Susan. Padahal karya kita lebih bagus loh Jul.”


“Itu kan dulu Sa, waktu dia masih bucin-bucinnya ke bu Susan. Semakin ke sini, saya lihat Pak Ayyas makin care tuh sama kamu. Waktu uangnya Ekki hilang, yang bantuin kita pak Ayyas. Pas ngajar kemarin dia juga keceplosan panggil kamu sayang. Itu tandanya pak Ayyas mulai cinta sama kamu Sa.”


“Let me tell you. Beberapa hari yang lalu, kami bertengkar hebat Jul. Kami berdua memutuskan untuk segera bercerai. Tapi tidak jadi karena kasihan sama orang tua dan neneknya pak Ayyas yang sangat menginginkan cucu dari kami. Itu juga jadi syarat supaya pak Ayyas menaikkan nilai Agama saya. Pak Ayyas juga berjanji akan mengizinkan saya kuliah kalau mau bekerja sama dengannya.”


“Maksud kamu, kamu dan pak Ayyas bakal memiliki anak karena tuntutan orang tua dan neneknya Pak Ayyas?”


“Yup.”

__ADS_1


“I mean you will do it with him?”


“Ya tidak lah Jul.”


“Katanya mau punya anak. Gimana sih maksud kamu? Kamu tuh kebiasaan sekali Nisa bikin orang bingung.”


“Mau punya anak bukan berarti harus melahirkan kan Jul? Saya hanya akan pura-pura hamil.”


“Berarti kamu akan pura-pura melahirkan juga? Terus anaknya dapat darimana Sa?”


“Itu urusan belakang Jul. Paling cari di panti asuhan. Yang penting itu pura-pura hamil dulu.”


“Astaghfirullah, saya tidak habis pikir sama keputusan kalian. Pak Ayyas juga bisa-bisanya punya pikiran seperti itu. Bisa gitu dia punya rencana untuk membohongi orang tua dan neneknya. Kenapa kamu mau sih Sa ikut-ikutan bohong juga? Masa iya hanya karena kenaikan nilai kamu mau membantu pak Ayyas untuk berbohong.”


“Saya tidak tahu harus berbuat apa Jul. Kasihan sekali rasanya melihat neneknya pak Ayyas. Dia juga baik sekali ke saya. Rasanya tidak tega mengatakan ke mereka kalau kami mau bercerai. Terdengar remeh ya Jul mau melakukannya demi nilai. Tapi saya serius, tiap kali pengambilan rapor mama pasti memeriksa nilai saya. Kalau ada nilai yang tidak meningkat mama memang diam saja. Tapi kekecewaan di mukanya tidak bisa berbohong Jul. Asli, rasanya sekarang saya stress sekali. Mau lepas dari pernikahan toxic ini, tapi akan menyakiti banyak orang. Mau tetap bertahan, tapi saya sendiri yang terluka. Kenapa harus saya sih yang mengalami ini semua? Kenapa bukan yang lain saja Jul, hu hu hu.”


“Yang sabar yah Sa! Saya ngerti kok kamu terpaksa berbohong karena tidak ingin menyakiti orang lain. Berdoa saja terus sama Allah supaya dikasih solusi yang terbaik untuk masalahmu ini. Karena jujur, ini sebenarnya sesuatu yang salah Sa.”


“Iya Jul.”


“Thank you so much yah Jul. Kamu selalu ada saat saya sedih.”


“Sekarang senyum dong Sa! Mukanya jangan ditekuk terus.” Senyum Nisa akhirnya kembali mengembang.


“Bagaimana perasaanmu ke pak Ayyas sekarang Sa?”


“Gimana ya aku jawabnya. Gimana aku bisa jawab pertanyaan yang gak jelas seperti ini. Iiihh bikin emosi. Ganti, ganti next.”


“Ha ha lucu sekali abang viral yang satu itu Sa.”


Juliana cekikikan bersama Nisa. Mereka berhenti tertawa saat mendengar info dari panitia Porseni kalau lomba scrabble sudah mau dimulai.


Kebetulan, Juliana sebagai ketua NGEC diamanahkan untuk menangani lomba scrabble. Jadi Juliana langsung berjalan bersama Nisa ke aula.

__ADS_1


“Di sini juga?” tanyanya pada Syam yang sudah lebih dulu berada di aula.


“Eh ada mak lampir juga. Ngapain kamu di sini?”


“Lupa ya kalau saya ketua NGEC di sekolah ini?” tanya Juliana sewot.


“Oh, jadi kamu ketua NGEC? Bukan lupa sih. Memang nggak tau aja. Ha ha ha.”


“Bikin emosi muluk nih.”


“Kalian kalau ketemu pasti bertengkar terus. Hati-hati aja sih, jangan sampai kalian jodoh. Ha ha.” Nisa tertawa melihat tingkah Syam dan Juliana.


“Jodohku kan kamu, ha ha. Bercanda ya Nisa.”


“Serius juga nggak apa-apa,” sahut Juliana.


“Akhirnya direstuin juga sama mak lampir. Kali ini, you are the best lah Jul.”


“Iya dong. Btw, kalian berdua silakan duduk dulu menunggui peserta yang lain. Saya mau data peserta dulu,” ucap Juliana lalu melangkah ke meja registrasi.


“Ini permen karet untu kamu.” Syam memberikan beberapa permen karet ke Nisa.


“Tidak usah Syam. Saya sedang tidak mood untuk mengunyah permen karet.”


“Ini supaya nanti kamu tidak mengantuk saat main scrabble.”


“Kalau begitu, saya mau. Terima kasih yah.”


“Sama-sama,” ucap Syam kegirangan.


Perhatian Syam ke Nisa dilihat oleh pak Ayyas, bu Susan, dan pak Bahar yang turut ke aula untuk menyaksikan lomba scrabble.


“Beberapa hari yang lalu saya mengata-ngatai dia yang buruk-buruk. Kenapa sekarang rasanya nyesek ya melihat dia diperhatikan lelaki lain,” batin pak Ayyas.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2