My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Kedapatan Bu Susan


__ADS_3

“Yang itu gunung Bambapuang pak. Suami dari gunung Nona,” jawab Nisa terkekeh.


“Pantas bentuknya mirip itu,” balas Pak Ayyas ikut tertawa.


Selang beberapa jam, adzan dzuhur pun terdengar dari arah mesjid Kaluppini. Segera, mereka ke mesjid.


Berbeda dengan keluarganya yang hanya ingin shalat dzuhur di mesjid, Nisa dan Pak Ayyas juga ingin bergabung di acara kumande samaturu’. Kumande samaturu' adalah salah satu kegiatan saat maccera' manurung. Dimana masyarakat berkumpul untuk makan bersama.


Nisa merasa sangat haus, padahal makanan tengah dibagikan oleh petugas yang telah ditunjuk oleh pemangku adat. Tapi tetap saja, pikirannya selalu terngiang-ngiang pada pop ice dingin yang dilaluinya tadi.


Ia lalu meminta Pak Ayyas untuk menjagakan ballanya. Menjaga daun jati sebagai piring. Juga suke, gelas yang terbuat dari bambu untuk minum.


“Kak, nutrisari jeruk peras satu. Permen karet satu. Tidak pakai susu,” pesan Nisa.


Penjual pop ice yang cantik itu segera membuatnya. Dihancurkannya es batu, lalu dimasukkan ke dalam blender yang telah berisi air dan juga nutrisari. Menyusul pop ice rasa permen karet.


“Ini dek,” ucap penjual pop ice sembari menyerahkan dua gelas pop ice yang berbeda rasa.


“Berapa kak?” tanya Nisa.

__ADS_1


“Delapan ribu,” jawab si penjual.


“Terima kasih,” ucap Nisa saat membayarnya.


“Bersahaja sekali orang-orang di sini. Harganya tetap normal. Padahal kan sekarang banyak pengunjung. Harga mahal sekalipun pasti dibeli,” Nisa membatin.


Nisa kini melangkah dengan senyum yang merekah. Sementara di dekat mesjid, Bu Susan dan Pak Ayyas sedang mengobrol intim.


“Kak Ayyas di sini juga?” tanya Bu Susan sembari duduk.


“Iya. Kamu kenapa bisa di sini?” tanya Pak Ayyas balik.


“Diajak sama Kak Helma. Katanya acaranya 8 tahun sekali. Makanya saya penasaran sekali mau melihat langsung acaranya seperti apa,” Bu Susan menyebutkan nama kakak sepupunya.


“Kakak ke sini sama Nisa?” tanya Bu Susan. “Iya,” jawab Pak Ayyas singkat.


“Kalian ada hubungan apa?” tanya Bu Susan mengulik.


“Nisa...dia istri saya,” jawab Pak Ayyas terbata-bata.

__ADS_1


“Pak... saya ke rumah nenek dulu ya. Mau bawain ini untuk Wahdah,” ucap Nisa mengangkat bungkusan pop ice rasa permen karet.


Perasaan tidak karuan kini meliputinya. Pop ice yang tadinya dibeli untuk Pak Ayyas juga harus ia bawa, berlalu meninggalkan Bu Susan dan Pak Ayyas. Pop ice yang masih di tangannya adalah bukti betapa pandainya ia membohongi perasaannya sendiri.


“Tolong kamu rahasiakan ini ya. Bahaya kalau ketahuan pihak sekolah,” pinta Pak Ayyas.


“Kakak ternyata sudah menikah?” tanya Bu Susan dengan raut sedih.


Ia tak menyangka lelaki yang selama ini mengejar-ngejarnya ternyata sudah menikah dengan perempuan lain. Di saat ia sudah berhasil melupakan mantan kekasihnya. Di saat perasaannya mulai tumbuh untuk Pak Ayyas.


“Sebelum mengajar di sekolah. Kakak bilang ke saya kalau kakak mau pindah ngajar demi saya. Kakak juga berjanji akan menunggu saya. Kakak bilang kakak tidak akan menikah kalau bukan dengan saya. Jadi semuanya cuman bohong,” ucap Bu Susan dengan suara parau.


“Tidak seperti itu dek. Saya menikah dengan Nisa itu terpaksa. Semua ini keinginan mama. Cintaku hanya untuk kamu dek. Lagipula saya tidak mencintai Nisa sama sekali,” Pak Ayyas menjelaskan.


“Terus kita harus bagaimana kak? Kakak sudah resmi menjadi suami Nisa,” tanya Bu Susan berurai air mata.


“Saya juga tidak tahu harus bagaimana dek. Saya sangat mencintai kamu. Tapi saya juga sangat mencintai mama. Mama sangat ingin melihat saya menikah. Tapi waktu itu kamu sendiri belum siap menikah,” ujar Pak Ayyas.


Di sisi lain, Nisa sudah tiba di rumah neneknya.

__ADS_1


“Suami kamu mana nak?” tanya mertuanya.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2