
“Masih di aula mesjid bu,” jawab Nisa berusaha menyembunyikan kekesalannya.
“Ini untuk kakak. Ini untuk adek,” imbuhnya sembari memperlihatkan dua gelas pop ice yang berbeda rasa itu.
Hal itu dilakukannya dengan cepat untuk menghindari pertanyaan mertuanya.
“Baik, Kak. Kalau mau jeruk, di sini banyak kok. Tinggal petik punya nenek,” jawab Wahdah polos.
“Jeruk? Kamu lihat pohon jeruk dimana?” tanya Nisa penasaran.
Seharian ini, ia bahkan tak pernah melihat sebatang pun pohon jeruk.
“Itu Kak,” tunjuk Wahdah pada beberapa pohon di samping rumah.
“Ya ampun Wahdah. Itu buah pala Dek.” Nisa terkekeh kemudian.
“Bukan, Kak. Itu buah jeruk,” kukuh Wahdah. “Nanti Kakak temenin aku petik buah jeruk itu ya,” bujuknya.
“Kakak kan sudah bilang Dek. Itu buah pala.”
“Itu buah jeruk Kak.”
“Ya sudah, nanti kakak bantuin kamu petik buahnya. Tapi habisin dulu pop icenya.” Nisa akhirnya mengalah pada adiknya.
“Wahdah, minumnya jangan sambil berdiri dek!” tegurnya.
“Tapi aku mau lihat buah jeruknya Kak.” Wahdah tetap bersikukuh ingin minum berdiri.
“Nanti saja, ingat sabda Rasulullah nggak boleh minum sambil berdiri. Bahaya Dek untuk kesehatan.”
“Iya kakak bawel. Wahdah duduk nih.”
__ADS_1
“Kamu nih dari dulu seperti ini. Nggak suka dibilangin,” ucap Nisa sembari mencubit pipi adiknya.
“Ih lepasin kak Nisa. Sakit tau.”
“Dasar nakal,” tutur Nisa sembari menarik hidung adiknya lagi saking gemasnya.
Tiba-tiba suasana yang tadinya ramai karena percekcokan Nisa dan Wahdah, kini menjadi hening. Tatkala pak Ayyas memasuki rumah bersama dengan bu Susan.
“Eh ada tamu. Siapa ini? Rekan kerjanya ya?” tanya ibu Nisa pada bu Susan yang menyalaminya.
“Iya tante,” jawab bu Susan sembari menyalami ibu Nisa.
“Eh Susan, apa kabar sayang?” tanya ibu pak Ayyas begitu ramah.
“Alhamdulillah baik tante. Udah lama banget ya kita nggak ketemu.”
“Kamu kenal say?” tanya ibu Nisa.
Ia tidak berani mengatakan kalau hubungan bu Susan dan pak Ayyas dulu lebih dari sekedar teman. Ia takut, hal itu akan melukai hati sahabatnya.
“Mau kemana Sa?” tanya ibunya saat melihat Nisa melangkahkan kaki keluar rumah.
“Ini ma, Wahdah dari tadi mau turun. Katanya udah nggak sabar mau petik buah jeruk.”
Nisa sebenarnya ingin cepat-cepat turun karena tidak tahan berlama-lama melihat kedekatan suaminya dengan gurunya itu.
Karena pohon palanya lumayan tinggi, Nisa kesulitan untuk memetik buahnya.
“Ma...kakak nggak bisa petik buah jeruknya. Pohonnya terlalu tinggi,” teriak Wahdah.
Pak Ayyas yang sudah terbiasa membantu Nisa di rumah, seketika menuruni anak tangga lalu mendekat ke pohon pala.
__ADS_1
Sementara Nisa yang tak ingin dibantu tetap berusaha untuk memetik buah pala itu. Karena ceroboh ia terpeleset dan hampir saja jatuh ke jurang. Beruntung pak Ayyas dengan sigap menarik tangannya.
Pemandangan itu disaksikan oleh bu Susan. Ada luka yang teramat besar di hatinya, luka yang tak dapat ia gambarkan bahkan dengan kata-kata sekalipun.
Karena marah, Nisa hanya diam tanpa berterimakasih pada pak Ayyas yang telah menolongnya.
“Ini.” Pak Ayyas memberikan buah pala yang telah matang ke Nisa.
Nisa kemudian membuka buah pala itu. “Nih lihat! Bukan buah jeruk kan?” tanyanya seraya menyodorkan buah pala yang telah dikupas itu ke Wahdah.
“Iya Kak...Bukan.”
“Besok kita singgah di pasar Enrekang untuk beli buah jeruk,” ucap Nisa dengan senyum getir.
Ia harus tampak baik-baik saja. Sementara sedari tadi emosinya terus meronta-ronta untuk dilampiaskan.
“Horeee,” ucap Wahdah kegirangan.
Setelah itu, mereka kembali menaiki rumah nenek Nisa.
"Malam ini akan diadakan ritual Tudang Ada’. Supaya tidak mengantuk nanti malam, ada baiknya kalian tidur siang,” ucap ayah Nisa.
Nisa memang ngantuk berat. Tanpa diminta pun dia tetap akan tidur siang. Diambilnya bantal dengan karakter Mickey Mouse, lalu terlelap.
Hal itu juga ia lakukan untuk menghindari berbincang-bincang dengan Bu Susan. Saat yang lain tertidur, Bu Susan pamit pulang.
Di malam hari, tepat pada pukul 12 malam. Tatkala bulan purnama bersinar penuh. Semua pemangku adat dan istrinya turun dari rumah adat ke halaman rumah adat untuk makkelong.
Selanjutnya, pemangku adat menuju ke datte-datte untuk menyampaikan sumpah jabatan. Selesai prosesi itu, mereka kembali ke rumah nenek Nisa untuk tidur.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1