
"Nanti kamu masuk angin. Matikan lampunya juga ya!”
Setelah berkata seperti itu pak Ayyas langsung tidur.
Nisa kemudian menutup jendela, ke kamar mandi, mematikan lampu, lalu ikut tidur.
Adzan subuh pun berkumandang, pak Ayyas segera ke mesjid yang berada hanya beberapa langkah dari rumah Nisa.
Setelah shalat, ia langsung kembali ke rumah. Didapatinya Nisa masih tertidur pulas, ia enggan membangunkan istrinya itu.
“Biarlah dia tidur dulu. Mungkin dia terlalu lelah dari Makassar. Lagipula dia kan sedang menstruasi. Ini juga hari Ahad. Tidak harus buru-buru mandi untuk ke sekolah,” ia membatin.
Pak Ayyas membuka jendela kamar Nisa. Kemudian mengambil kursi untuk duduk di depan jendela. Ia lalu membaca Al-Qur’an yang diambilnya tadi di rak buku Nisa. Membaca Al-Qur’an ditemani udara subuh segar pedesaan.
Bayu subuh menyeruak masuk ke kamar Nisa melalui jendela yang terbuka lebar. Membelai lembut Nisa yang masih begitu nyenyak.
Lantunan merdu surah Ar-Rahman Pak Ayyas semakin membuatnya serasa dininabobokan. Ia semakin enggan untuk beraktivitas lebih awal.
Pintu kamar Nisa juga terbuka lebar. Melihat itu, ibu Nisa lalu memasukinya.
“Anak ini, sudah jam berapa masih tidur juga. Apa dia selalu seperti ini saat di rumah?”
“Tidak Bu, Nisa selalu bangun subuh kok. Baru kali ini dia telat bangun. Pasti karena kecapean dari Makassar,” bela pak Ayyas.
Nisa terbangun mendengar suara ibunya. Setelah membersihkan tempat tidur dan mencuci muka, ia segera ke dapur.
“Suami kamu suka makan apa Sa?”
“Dia suka semuanya, Ma. Dimasakin apa saja juga dimakan.”
“Persis dong kayak ayahmu.”
Setelah selesai membantu ibunya di dapur, ia kembali ke kamar.
“Itu piala kamu?” tanya pak Ayyas pada Nisa yang baru saja memasuki kamar.
__ADS_1
“Iya Pak.”
“Kamu hebat juga ya. The 1st rank di English Camp with theme English is the Key of Universe.”
“Itu cuman kebetulan saja
Pak.” Nisa merendah.
“Juliana juga ikut English Campnya?”
“Iya. Jangankan Juliana, semua sahabat saya pada ikutan Pak."
“Juliana juara juga?” Rasa penasaran pak Ayyas kian membuncah.
“Iya, Juliana juara 2 dan Saleha juara 3.”
“Nice, kenapa bukan kamu saja yang menjadi ketua NGEC?”
“Saya kurang suka menjadi ketua organisasi Pak. Terlalu beresiko, apa-apa harus tampil. Saya lebih suka bekerja di balik layar.”
“Karena dipaksa Juliana. Kalau saya tidak mau jadi wakil, dia juga tidak mau jadi ketua.”
“Baik juga ya kamu. Mengorbankan perasaan sendiri demi sahabat.”
“Bukan baik, hanya saja jika saya berada di posisi Juliana. Juliana juga pasti akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan.”
“Btw, saya mau bawa roti ini ke rumah kak Sinta. Mau ikut tidak Pak? Sekalian jalan-jalan pagi juga.”
“Boleh, ayo!” Pak Ayyas bangkit dari duduknya.
Nisa dan pak Ayyas berjalan ke rumah kak Sinta dengan menenteng roti Maros titipan Syam. Menyusuri jalanan yang berdampingan dengan lapangan sepakbola.
“Lapangannya luas sekali ya Nisa.” Pak Ayyas takjub, ia terkagum-kagum melihat lapangan yang seluas itu di tengah-tengah desa.
“Iya Pak, sering sekali diadakan pertandingan di sini. Seperti saat 17-an, pertandingan tingkat desa, kadang juga pertandingan yang diadakan anak KKN.”
__ADS_1
“Ramai dong?”
“So pasti lah Pak.”
“Ini kenapa rumputnya tidak dicabut ya?” tanya pak Ayyas saat melihat pekarangan kak Sinta.
“Astaga, ini tuh bunga pukul 9 Pak, bukan rumput.”
“Oh bunga portulaca. Bunga jenis fotonasti yang mekar di pukul 9. Karena bunganya baru mekar kalau ada cahaya matahari.”
“Tuh ternyata tau sampai akar-akarnya.”
“Tau teori saja. Diajarkan guru biologi dulu, tapi tidak ada gambarnya. Cuman contoh-contoh tumbuhan fotonasti yang disebutkan. Makanya saya tahunya teori saja, tapi tumbuhan nya yang mana saya juga kurang tahu.”
“Hebat juga ya ingatannya si Bear,” puji Nisa dalam hati.
“Assalamu ‘alaykum,” ucap Nisa sembari mengetuk pintu rumah kak Sinta.
“Wa’alaykumsalam warahmatullah.
"Masuk Sa!” ajak kak Sinta.
“Tidak usah Kak. Cuman mau ngasih ini, disuruh Syam.” Nisa memberikan roti Maros itu.
“Kamu kenal Syam?”
“Iya Kak, teman sekolahku.”
“Jarang-jarang loh dia punya teman. Orangnya tertutup soalnya.”
“Tertutup apanya, dia cerewet sekali kalau ketemu Nisa.” Lagi-lagi pak Ayyas menggerutu dalam hati.
“Oh ya, itu siapa Sa?” tanya kak Sinta sembari menunjuk pak Ayyas yang sedang duduk di pinggir lapangan.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭
__ADS_1