My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Semanis Permen Karet


__ADS_3

Setelah puas berkeliling di mall, Nisa dan Juliana kembali ke depan untuk menunggu yang lain.


“Aduh Sa,” pekik Juliana.


“Kamu kenapa Jul?” tanya Nisa khawatir.


“Saya lupa beli bola. Nafsi nitip kemarin,” jawab Juliana.


“Ya sudah, saya temani kamu cari bola untuk Nafsi yah Jul.”


“You need not Sa. Duduk manis di sini saja. Paling juga cuman beberapa menit kok.”


“Beneran nih nggak apa-apa Jul?” tanya Nisa.


“Iya bawel, just wait for me here.”


Juliana kembali memasuki mall untuk membelikan adek bungsunya bola.


“Aduh, kenapa ada lelaki ini juga sih di sini?” keluh Nisa dalam hati.


Syam yang merasakan kecanggungan Nisa mencoba mencairkan suasana dengan menawarkan beberapa permen favoritnya.


“Want some?” tanya Syam sembari menyodorkan beberapa bungkus permen karet.


“Bisa bahasa Inggris juga?” tanya Nisa antusias.


“Yeah, of course. Saya seniornya Juliana di Sinta Course.”


“Oh, kursus di tempat kak Sinta to.”


“Yup, kamu kenal kak Sinta juga?” tanya Syam sedikit basa-basi.


“Iya, satu kompleks malah.”


“Wah boleh dong kapan-kapan saya mampir ke rumah kamu.”


“Ehmmm, saya jarang di rumah sih. Lebih sering di rumah paman.”

__ADS_1


“Paman kamu sakit ya sampai harus dikunjungi terus?”


Pertanyaan Syam membuat Nisa tak berkutik. Ia tidak menyangka Syam yang dingin akan sekepo itu.


“I..iii..yaaa,” jawab Nisa grogi.


“Pamanmu sakit apa?” tanya Syam lagi.


“Sakit jiwa,” jawab Nisa asal.


“Semoga cepat sembuh yah.” Syam mendoakan.


“Iya, aamiin.”


“Emang si Bear sakit jiwa kan. Logikanya tidak berfungsi dengan baik karena dimabuk cintanya bu Susan,” Nisa bermonolog dalam hati selama beberapa detik.


“Btw makasih yah permen karetnya,” ucap Nisa.


“Sama-sama. Oh iya, kamu belum mau ke bus?” tanya Syam lagi.


“Duluan saja! Saya tunggu Juliana dulu.”


“Maaf yah Sa, kalau kelamaan.” Juliana sedikit ngos-ngosan.


“Alay, minta maaf segala. Duduk dulu! Kamu sih buru-buru amat. Sampai ngos-ngosan gitu.”


Setelah Juliana sedikit tenang, Nisa mulai menginterogasinya. “Jul, si Syam kenal kamu loh.”


“Masa sih? Dia memang seniorku di tempat kursus. Tapi orangnya dingin banget Sa. Kayak malas bergaul gitu. Makanya saya bodo amat tentang dia. Namanya saja tahunya dari Zulfitri.” Juliana menjelaskan panjang lebar tanpa diminta.


“Orangnya supel kok Jul. Tadi saya ditawari ini. Mau nggak?" Nisa menawarkan beberapa permen karet pemberian Syam tadi.


“Serius kamu?” tanya Juliana seperti tak percaya.


“Serius Jul. Kapan sih saya bohongi kamu.” Nisa menepuk jidatnya.


“Kamu kan suka jahil Sa,” protes Juliana.

__ADS_1


“Iya, tapi kali ini saya serius Jul.”


“Lelaki cool bisa melting juga ya di hadapan orang yang disuka,” celoteh Juliana.


“Cinta muluk ya di otak kamu. Ayo ke bus!” Nisa menarik tangan Juliana.


“Si Syam jadi tambah cool tau Sa kalau lagi ngunyah permen karet. Udah kayak pelatih sepak bola di Eropa.” Juliana tiba-tiba memuji Syam.


“Yeee, dasar cewek bola.”


Nisa dan Juliana lalu menaiki bus. Sembari menunggu yang lain, mereka membuka permen karet pemberian Syam. Mengunyahnya, lalu membuat gelembung.


“Kelihatannya cuek. Tapi tingkahnya bisa konyol gitu ya,” Syam tertawa dalam hati melihat tingkah Juliana dan Nisa.


Setelah semua menaiki bus, sopir lalu melajukan bus. Sesuai agenda, sopir berhenti tepat di depan toko roti Bugis-Makassar. Dinamakan roti Maros karena roti ini dibuat di Kabupaten Maros.


“Hey!” sapa Syam.


“Kenapa Syam?” tanya Nisa.


“Boleh minta tolong gak?”


“In Syaa Allah, selama saya bisa bantu. Mau minta tolong apa?”


“Singgahkan ini di rumah kak Sinta ya. Kelasku pekan depan soalnya. Kalau rotinya lambat dikasih, bisa basi. Saya titip ke kamu saja ya. Kamu kan sekompleks dengan kak Sinta.”


“Oh. Ok nanti saya kasih," balas Nisa cepat.


“Btw, yang ini untuk kamu.”


“Hah? For what?” Nisa merasa tidak enak diperlakukan seperti itu oleh Syam.


“Coz we are friends. Saya royal kok ke semua teman. Stay calm!”


“Aduh jadi nggak enak. Ma kasih ya Syam.”


“Sama-sama,” balas Syam.

__ADS_1


“Tadi pagi Ridwan. Sekarang anak ini,” gerutu pak Ayyas dalam hati melihat kedekatan Nisa dengan Syam.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2