
“Saya dapat chat dari Pak Anwar, nyuruh kumpul di taman baca. Katanya mau ngomong sesuatu yang penting,” jawab Ridwan lalu duduk di hadapan Nisa dan Juliana.
“Jul nanti sebelum belajar bersama temani saya ke tempat foto copy dulu ya,” pinta Nisa.
“Mau ngapain Sa?” Setahu Juliana tak ada tugas sekolah yang harus difotocopy.
“Mau cetak foto Jul,” jawab Nisa singkat.
“Apa sih yang nggak buat kamu, ha ha. Btw pak Anwar sudah datang guys,” tunjuk Juliana pada pak Anwar yang tengah berjalan ke arah mereka.
“Assalamu ‘alaykum,” sapa Pak Anwar pada ketiga muridnya.
“Wa’alaykumsalam warahmatullah pak.”
“Jadi begini, novel Nisa yang berjudul My Teacher My Mate berhasil menempati juara 1 di lomba menulis novel tema Berbagi Cinta untuk kategori wanita. Puisi Ridwan yang berjudul Lelaki Homopon juara 3 untuk putra. Dan puisi Saleha yang berjudul Jika Tanpamu juga berhasil menempati juara 1 untuk putri,” ujar Pak Anwar to the point.
“Saleha mana ya? Di kelas tidak ada. Surat izin sakit juga tidak ada. Saya hubungi tapi nomornya tidak aktif,” keluh pak Anwar.
“Saleha berhalangan hadir karena kakaknya menikah pak,” balas Juliana cepat.
“Kenapa dia tidak minta izin?”
“Percuma juga kalau minta izin pak,” keluh Juliana.
“Percuma kenapa?” tanya Pak Anwar penasaran.
“Rata-rata guru bakal bilang memangnya acara nikahannya tidak akan berlangsung kalau kamu tidak hadir,” balas Juliana blak-blakan.
“Ha ha tidak semua guru seperti itu." Pak Anwar tertawa sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Selamat ya untuk kalian,” ucap Pak Anwar memfokuskan pandangan pada Nisa dan Ridwan.
“Hadiahnya menyusul besok di apel pagi. Kebetulan pengawas sekolah akan datang besok. Mudah-mudahan prestasi kalian bisa meningkatkan akreditasi sekolah kita.”
“Aamiin,” ucap Nisa, Juliana, dan Ridwan secara bersamaan.
“Bapak bangga sekali memiliki siswa seperti kalian. Selain berakhlak baik, kalian juga selalu mengharumkan nama sekolah.”
“Alhamdulillah pak. Semua ini juga tak lepas dari bantuan bapak. Kami juga merasa sangat bersyukur memiliki guru yang berdedikasi tinggi seperti bapak,” balas Nisa.
__ADS_1
“Betul kata Nisa pak. Kami bisa menang karena arahan bapak selama ini,” balas Ridwan.
“Wah, wah, wah. Selamat ya kalian. Kalian memang yang terbaik,” tutur Juliana.
“Terima kasih Jul,” ucap Nisa disusul Ridwan.
Bell masuk berbunyi, mereka semua kembali ke kelas. Kebetulan Pak Anwar akan mengajar di kelas Ridwan. Jadi mereka barengan ke kelas Ridwan.
Setelah bell pulang berbunyi Juliana dan Nisa pergi ke tempat foto copy yang terletak agak jauh dari sekolah. Hal itu Nisa lakukan agar tak ketahuan orang lain akan kedekatannya dengan Pak Ayyas.
“Kenapa bawa tas segala Sa?” tanya Juliana saat melihat Nisa keluar dari kelas menggunakan backpack coklatnya.
“Untuk menyimpan foto yang sudah dicetak nanti Jul.”
“Oh gitu toh.” Mereka lalu berangkat ke tempat foto copy.
“Mau apa dek?” tanya operator foto copy pada Nisa dan Juliana yang baru saja tiba.
“Ini kak mau cetak foto,” balas Nisa.
Kakak operator mulai memindahkan file foto Nisa ke laptop untuk dicetak. Sembari menunggu fotonya dicetak, kakak operator itu bercakap-cakap pada Nisa dan Juliana.
“Gampang kak, kalau kakak suka ke cewek langsung tembak saja. Kalau dia tidak suka, dia bakal bilang kita temenan aja ya. Nah kakak sudah berhasil dapat satu teman cewek,” celetuk Juliana.
Bukannya termotivasi kakak operator itu malah menjadi tidak karuan mendengar saran Juliana barusan. Untung saja fotonya sudah selesai dicetak.
Kakak operator lalu menghitung biaya yang harus dibayar Nisa untuk fotonya. Nisa lalu membayar sejumlah dengan yang disebutkan kakak operator.
“Dek,” panggil kakak operator pada Nisa yang sudah mau keluar.
“Iya, kenapa kak? Uangnya kurang ya?” Nisa menoleh.
“Bukan, bukan. Mau minta nomor HP kamu dong dek!” ucap kakak operator.
“Kosong delapan . . .” belum juga selesai Nisa menyebutkan nomor HPnya Juliana langsung memotong ucapan Nisa.
“Dia tidak hafal nomor HPnya kak. Kakak follow saja IGnya. Nama IGnya Annisa.”
Setelah berbicara seperti itu pada kakak operator Juliana dan Nisa buru-buru kembali ke sekolah.
__ADS_1
“Jul, tadi kenapa kamu menyela perkataan saya?” tanya Nisa tidak mengerti dengan sikap sahabatnya itu.
“Lu mah goblok Sa. Apa kamu mau dihubungi terus sama kakak operator tadi?”
“Ya, nggak lah Jul. Mukanya mesum gitu,” balas Nisa bergidik.
“Makanya lain kali kamu pura-pura tidak hafal nomor HP kalau ada lelaki yang minta! Terus kasih nama IG kamu supaya followers kamu bertambah,” saran Juliana.
“Kamu dapat darimana ide nyeleneh kayak gitu Jul?” tanya Nisa.
“Ini ajaran dari Kak Anna,” balas Juliana lalu tertawa.
Setibanya di sekolah, mereka langsung mengajar kelompoknya.
Ba’da asar Nisa dan Pak Ayyas kembali ke rumah Pak Ayyas untuk mengikuti syukuran kenaikan pangkat mertuanya.
Segera Nisa dan Pak Ayyas memasuki rumah. Masuk ke kamar terlebih dahulu untuk mengganti pakaian.
Setelah Pak Ayyas keluar kamar, Nisa langsung memajang foto-foto yang terlihat mesra ke bingkai bekas foto Bu Susan. Lalu memajangnya di dinding kamar Pak Ayyas.
Foto yang menunjukkan kebahagiaan Pak Ayyas berada di tengah-tengah keluarga Nisa.
Ada juga foto yang hanya ada Pak Ayyas dan Nisa yang berdampingan. Foto itu sebenarnya bukan inisiatif Nisa dan Pak Ayyas, tapi dipaksa oleh Wahdah untuk foto berdua.
Nisa merasa sangat bersyukur atas tindakan konyol Wahdah kemarin. Dengan foto itu, dia bisa memanas-manasi Bu Susan lagi.
“So sweet sekali anak kamu say,” puji Bu Arni.
“So sweet kenapa say?” tanya Bu Tiara pada besannya itu.
“Tadi saya ke kamarnya Ayyas. Ternyata di kamarnya banyak terpajang foto dia berdua dengan Nisa.” Bu Arni menjelaskan.
"Siapa dulu dong mamanya," balas bu Tiara lalu terkekeh.
Pak Ayyas tidak mengaku kalau bukan dia yang melakukannya. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan mama dan mertuanya.
Diamnya pak Ayyas membuat bu Susan berpikir kalau pak Ayyas mulai mencintai Nisa.
Sekali lagi, tingkah kecil Nisa berhasil membuat bu Susan terluka.
__ADS_1
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak