My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Pesona Pasar Enrekang


__ADS_3

Si jago yang sedari tadi berkokok dengan gagahnya, kini mulai tak terdengar lagi. Bayu pagi juga mulai berhenti menari riang di antara rindangnya dedaunan pohon pala. Tatkala mentari yang tersipu mulai memancarkan sinarnya dari ufuk Timur.


Maa Syaa Allah, betapa sempurnanya ciptaan Allah SWT.


Deru mobil di pagi yang indah, memecah heningnya suasana pagi itu.


Nisa dan keluarganya bersiap-siap untuk balik ke Urung, dengan membawa oleh-oleh keripik ubi dan juga gula merah asli buatan neneknya.


Terpancar kebahagiaan di wajah sang nenek. Wajah yang masih terlihat begitu bugar untuk orang tua seusianya.


Keluarga Nisa pamit, lalu melanjutkan perjalanan ke pasar Enrekang.


Sejam berlalu.


Mereka kini berada tepat di parkiran pasar Enrekang. Bahasa dari tiga suku yakni suku Duri, suku Enrekang, dan juga suku Maiwa terdengar dituturkan di pasar itu.


Sayuran yang melimpah, seperti kentang, cabai rawit, juga bawang merah yang masih sangat segar ditata dengan begitu rapi oleh penjual di pasar tersebut.


Nisa berjalan ke arah stand buah. Dibelinya 2 kilo buah jeruk.


Saat ingin kembali, ia berhenti pada stand obat-obatan herbal. Penjualnya begitu cantik. Dengan ramah ia menanyakan keperluan Nisa.


Enrekang terkenal dengan bahan makanannya yang masih sangat original.


Selain dari sayuran yang diproduksi sendiri, madu pun seperti itu.

__ADS_1


Madu asli di Enrekang umumnya berasal dari desa Kaluppini. Diambil langsung di hutan sekitar. Harganya yang bersahabat dengan kualitas yang tidak diragukan lagi membuat Nisa tertarik untuk membelinya.


Nisa pernah membaca sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. 'Madu adalah penyembuh bagi semua jenis sakit dan Al-Qur’an adalah penyembuh bagi semua kekusutan pikiran. Karena itu jugalah dia ingin membeli madu.'


“Mbak ada paket COD gak?” tanyanya pada si penjual yang usianya terlihat terpaut hanya beberapa tahun darinya.


“Ada, Dek.”


“Wah, boleh saya minta nomornya?”


“Iya, Dek. 085249849788.”


“Ma kasih yah Mbak,” ucap Nisa sembari membayar madu tersebut.


“Sama-sama, Dek.”


Wahdah yang duduk di samping Aisyah terlihat begitu asyik ngemil. “Mau Kak? Deppa te'tekangnya enak loh Kak,” ucapnya.


Bukannya menjawab, Nisa malah bertanya. “Siapa yang beliin Dek?”


“Om Ayyas,” jawab Wahdah lugu. Ia belum mengerti kalau pak Ayyas sebenarnya kakak iparnya, bukan pamannya.


Tawa Nisa hampir saja meledak. Hanya saja ia tahan untuk menjaga nama baik suaminya itu.


“Makan saja Dek. Kakak masih kenyang.” Ia menahan tawa.

__ADS_1


Selang beberapa jam, mereka tiba di rumah.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi saat Nisa dan pak Ayyas memasuki rumah.


Nisa meletakkan semua makanan di dapur, lalu ke kamar tidur. Sesaat kemudian, ia teringat akan tugas menulisnya. Segera, ia menulis di note book.


Hingga berhenti mengetik saat pak Ayyas menegur. “Kamu nggak mandi Sa?”


“Nggak, Pak. Ngapain mandi? Nggak bakal keluar rumah juga kok.”


“Gimana sih kamu Sa. Setiap muslim itu dianjurkan untuk menjaga tubuh tetap bersih.”


“Ya sudah aku akan mandi sekarang.”


Nisa mematikan note book-nya, lalu ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, ia kembali ke kamar tidur, lalu berpakaian.


Pak Ayyas yang tadinya membaca Al-Qur’an di ruang tamu juga kembali ke kamar.


Mereka lalu melaksanakan shalat dhuha bersama.


Setelah shalat dan mengaji, Nisa kembali membuka note book-nya untuk melanjutkan tulisannya tadi.


“Saya lihat ada madu di dapur. Nanti kalau sudah selesai menulis, kamu masukkan madunya ke freezer,” pinta pak Ayyas tanpa membalikkan pandangannya. Pandangannya begitu fokus pada buku Sirah Nabawiyah yang ia baca.


“Untuk apa madunya dimasukkan ke freezer Pak?” tanya Nisa penasaran.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2