My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Pelakor Dimana-mana


__ADS_3

“Juliana mau ikut kursus bahasa Inggris,” jawab Nisa asal.


“Dimana?” tanya Pak Ayyas. “Di tempat kursusnya Kak Salma.”


“Berapa per bulan?” tanya Pak Ayyas lagi. “50.000 pak.”


“Wahhh, murah ya,” ucap Pak Ayyas takjub. “Iya...” balas Nisa.


Akhirnya, Nisa bisa bernafas lega. Untung saja Pak Ayyas tidak curiga akan gerak-geriknya.


Gerimis yang tak kunjung reda, membuat mereka cepat mengantuk. Mereka pun tidur dengan nyenyak.


Di waktu subuh, gawai Pak Ayyas berdering tanpa henti. Sementara subuh ini Pak Ayyas pulangnya agak pagi. Ia tinggal beberapa menit di mesjid untuk mendengarkan ceramah agama yang dibawakan oleh salah satu ustad dari jama’ah tabligh.


Gawai yang terus berdering mengusik rungu Nisa. Ia lalu mengambil gawai Pak Ayyas. Diangkatnya panggilan dari kontak bernama “My Moon” itu.


“Halo!” ucap Bu Susan memulai pembicaraan. “Halo bu. Pak Ayyas masih di mesjid. Ada yang bisa saya sampaikan bu?”


“Bilang ke Kak Ayyas, suruh bawa dangke yang diceritakan kemarin.”


“Baik bu. Nanti saya sampaikan.”


“Ok, terima kasih ya Nisa. Assalamu ‘alaykum,” ucap Bu Susan lalu mengakhiri panggilannya.


“Wa’alaykumsalam warahmatullah bu,” jawab Nisa.


“Kalau dipikir-pikir, saya goblok juga yah. Si Bear memainkan peran rumah tangga ini pakai logika. Sementara saya, masih pakai hati. Dia udah jadi suhu. Saya masih di level wibu.” Nisa membatin.


“Goblok, goblok, goblok. Mulai sekarang saya tidak akan berusaha mendapatkan hati si Bear lagi.”


Setelah kekesalannya ia luapkan, perasaannya kembali lega. Seperti biasa, ia ke dapur untuk mengerjakan rutinitasnya.


“Assalamu ‘alaykum,” ucap Pak Ayyas saat memasuki rumah.


“Wa’alaykumsalam warahmatullah. Tadi Bu Susan nelpon. Katanya minta dibawain dangke,” ucap Nisa santai. “Okay,” balas Pak Ayyas tak kalah santainya.


Sebelum pukul 7 mereka sudah berangkat ke sekolah. Saat keluar dari rumah, Pak Ayyas melihat gantungan tas yang diberikan tidak tergantung lagi di tas Nisa.


“Gantungan tasnya kenapa dibuka? Tidak suka?”


“Suka tapi sudah saya kasih ke Zulfitri.”


“Loh itu kan pemberian saya. Kenapa kamu kasih ke orang lain?” ucap Pak Ayyas sedikit emosi. “Zulfitri suka sekali gantungan tasnya.”


“Seharusnya kamu tidak melakukan itu.” Pak Ayyas sedikit emosi.


“Terus harus bagaimana? Harus pakai gantungan tas yang sama persis dengan milik My Moon?” tanya Nisa ikutan emosi.


Pak Ayyas tidak berkutik, untung saja mereka sudah dekat dari sekolah.


Di jam pertama Pak Ayyas mengajar di kelas XII IPS 1. Dengan perasaan yang masih tidak karuan ia memasuki kelas. Sebagai guru yang profesional, ia tidak boleh membawa-bawa masalah pribadi saat mengajar.


Setelah siswa berdoa, ia lalu mengabsen. Kemudian menanyai siswa tentang cita-cita mereka.


“Kalian kan sudah kelas XII. Sebentar lagi kalian akan kuliah, atau mungkin langsung bekerja. Saya ingin tahu, cita-cita kalian apa?”

__ADS_1


Siswa menjawab secara bersamaan. “Satu per satu! Saya sebut nama saja ya.”


“Tini, mau jadi apa?”


“Saya mau jadi jurnalis pak.”


“Kalau Juned?”


“Saya mau jadi arsitek pak.”


“Hera.”


“Saya mau jadi guru pak.”


“Guru apa?”


“Guru ekonomi pak.”


“Kalau Wahyuni.”


“Saya mau jadi perawat pak.”


“Nita.”


“Saya mau jadi pengusaha pak.”


“Baim.”


“Saya mau jadi polisi pak.”


“Ridwan.”


“Mirip banget ya sama Nisa. Mereka juga terlihat semakin akrab saja,” Pak Ayyas membatin.


Kekesalannya kian bertambah setelah mendengar jawaban Ridwan.


“Imran.”


“Saya mau jadi presiden pak.”


“Kalau Ain?”


“Saya mau jadi istri Imran saja pak. Kan enak jadi istri presiden.”


Candaan Ain tidak hanya menimbulkan tawa. Tetapi juga menjadi mood booster bagi Pak Ayyas yang tadinya kesal.


Pak Ayyas kembali melanjutkan ucapannya saat suasana kelas mulai tenang.


“Cita-cita kalian semua bagus. Apapun pekerjaan kalian nanti. Kalian harus senantiasa bekerja dengan jujur. Bekerjalah dengan niat untuk beribadah kepada Allah. Memudahkan urusan umat.”


Pak Ayyas terus melanjutkan penjelasannya hingga bel istirahat berbunyi.


Di taman depan kelas sudah ada Nisa dan sahabat-sahabatnya. Mereka sedang duduk santai di bawah pohon beringin.


“Alhamdulillah Risma sudah melahirkan guys,” ucap Zulfitri sembari memperlihatkan unggahan Risma di fb.

__ADS_1


“Risma kelihatan tua banget ya. Padahal anaknya baru satu. Seharusnya kalau perempuan sudah menikah perawatannya diperketat,” ucap Dania.


“Iya. Zaman sekarang pelakor dimana-mana,” tambah Aida.


“Mungkin itu foto pas baru lahiran banget,” ucap Saleha vibes.


“Iya nih Dania kalau ngomong suka nggak ngotak. Mana ada orang habis lahiran langsung cari make up,” tambah Nisa frontal.


“Salah Risma juga sih. Foto burik gitu diunggah di fb. Ya otomatis dikomen orang lah,” balas Fina.


“Terserah dia lah. Itu kan platform dia, suka-suka dia lah mau post apa. Kalau kalian nggak suka ya blok aja,” tambah Nisa lebih pedes lagi.


“Astaghfirullah...kalian ini,” ucap Juliana sembari mencubit temannya satu per satu.


“Sakit Jul,” bentak Dania. “Kalian lebih pilih mana, saya cubit atau makan bangkai saudara sendiri?”


“Ya dicubit lah. Siapa juga yang mau makan bangkai,” balas Nisa.


“Makanya, kalian jangan mengghibah. Mengghibahi Risma sama saja dengan kalian memakan bangkainya.”


“Astaghfirullah, ma kasih yah Jul. Kamu selalu mengingatkan kita,” ucap Aida.


“Daripada ghibah mending kita makan,” ucap Juliana sembari mengeluarkan beberapa bungkus nasi kuning dari tasnya.


“Nggak usah repot-repot Jul. Kan jadi enak kitanya,” balas Nisa.


“Nggak enak Sa,” ujar Saleha kembali menepuk jidatnya.


“Masakan mama kamu memang paling enak deh Jul,” puji Fina.


Setelah makan, mereka mengumpulkan semua bungkus nasi tadi. Lalu membuangnya di tempat sampah organik yang telah disiapkan pihak sekolah. Semua tempat sampah tertata rapi di depan setiap kelas.


Setelah itu, mereka masuk kembali ke kelas untuk belajar. Hingga bel pulang pun berbunyi. Mereka tetap tinggal di sekolah untuk belajar bersama.Karena Pak Anwar belum datang mereka kembali berbincang-bincang.


“Sa, kalau Ridwan bilang suka ke kamu. Kamu bakal ngapain?” tanya Dania.


“Kayak nggak tau Nisa aja,” balas Saleha.


Entah sudah keberapa kali ia menepuk jidat karena ulah sahabatnya.


“Ridwan perfect banget ya,” ucap Zulfitri.


“Iya. Ganteng parah,” tambah Aida.


“Kamu Aida fisik terus,” tegur Juliana.


“Zaman sekarang apa masih ada perempuan yang tidak memandang fisik?” tanya Dania.


“Ada. Tuh Fina suka memandang bulan,” jawab Nisa.


“Bintangnya jatuh,” balas Dania.


“Yang penting bukan meteor,” kata Nisa terkekeh.


“Meteor Garden,” balas Dania lagi. Mereka semua lalu tertawa riang.

__ADS_1


“Memandangmu, walau selalu. Masih...” Fina berhenti bernyanyi tatkala melihat Pak Anwar sudah tiba.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2