
Setelah porseni, Pak Ayyas tak pernah lagi berinteraksi dengan Nisa. Ia pikir dengan menghindari Nisa rasa cintanya akan sirna. Rasa cinta itu malah bertambah setiap harinya. Setiap kali pulang ke rumah, saat itu juga ia merasa sangat menyesal telah berkata kasar pada Nisa.
Waktu berlalu dan tibalah hari perpisahan siswa kelas tiga. Di akhir acara, MC menyebutkan 10 nama siswa yang masuk peringkat 10 besar. Mereka adalah Nisa, Dinda, Juliana, Imel, Rosdiana, Rey, Fikri, Andrey, Ridwan, dan Saleha.
Mereka naik ke panggung untuk menerima sertifikat penghargaan dari sekolah. Orang tua mereka tampak begitu bahagia melihat anaknya bisa masuk peringkat 10 besar.
Pak Ayyas merasa sangat senang atas kelulusan Nisa. Ia akan melaksanakan rencana pura-pura hamil yang telah ia sepakati bersama Nisa. Dengan itu juga ia akan sering-sering berinteraksi dengan Nisa meski via online.
Di saat yang bersamaan, ia juga bersedih karena akan LDR dengan Nisa yeng berencana melanjutkan kuliahnya di UPI nanti.
“Guys foto-foto yuk!” ucap Fina.
“Biar saya yang foto kalian,” balas Saleha.
“Alesan muluk nih Saleha, menghindari kamera terus. Hari ini kamu harus mau ikutan foto. Biar Widya saja yang memotret kita,” titah Juliana.
Ia menarik paksa tangan Saleha supaya mau bergabung berfoto dengan yang lain. Mereka kini mengambil pose masing-masing di depan kamera. Setelah itu, mereka juga berfoto dengan guru.
Aida menghampiri Pak Ayyas yang berada tak jauh dari tempat mereka berfoto. “Pak, bisa foto bersama?”
Dengan senang hati Pak Ayyas mengiyakan permintaan Aida. Ia langsung bergabung bersama mereka. Segera ia berdiri di samping Nisa.
“Terima kasih pak,” ucap Aida setelah sesi pengambilan fotonya.
“Sama-sama. Kali ini saya yang minta tolong.”
“Mau minta tolong apa pak?”
“Tolong foto saya dan Nisa, berdua saja. Setiap tahun di sekolah lama saya memang selalu berfoto dengan siswa terbaik di sana.”
Pak Ayyas ngeles agar tetap tampak berwibawa di hadapan siswanya. Ia segera menyerahkan gawainya ke Aida untuk digunakan memotretnya dengan Nisa.
“Terima kasih ya Aida.”
“Sama-sama pak,” ucap Aida lalu bergabung bersama yang lain untuk pulang.
“Tunggu dulu, jangan pulang dulu! Saya mau mengatakan sesuatu ke kalian.”
Mereka lalu berbalik untuk mendengarkan Pak Ayyas bicara.
“Jadi begini, sebagai tanda terima kasih saya ke kalian saya mengajak kalian untuk makan-makan di rumah besok.”
“Sering bantu bapak? Bantu apa yah pak?” tanya Aida bingung.
“Kamu lupa ya kalau kamu, Nisa, dan Juliana sering membantu saya memeriksa tugas.”
“Yang bantu bapak cuman Aida, Nisa, dan Juliana pak. Kami tidak,” ujar Dania.
“Kalian juga pernah membantu saya di bazar,” ucap Pak Ayyas kembali mencoba meyakinkan mereka.
__ADS_1
“Kita tidak lihat rumah bapak dimana,” balas Fina.
“Juliana dan Nisa lihat rumah saya. Mereka pernah saya minta bawakan buku tugas kalian ke rumah saya.”
“Mohon maaf sebelumnya pak, saya dan Juliana tidak bisa ikut. Kami mau ke puskesmas untuk vaksin besok,” tolak Nisa.
“Kalau kalian berdua tidak mau ikut, kami juga tidak mau ah. Tidak seru,” ucap Fina dengan ekspresi yang tampak kecewa.
“Sayang sekali, padahal siswa di tempat saya mengajar dulu tidak ada yang pernah menolak ajakan saya. Tapi apa boleh buat kalau kalian tidak bisa. Saya sebagai guru juga tidak boleh memaksa kalian.” Pak Ayyas kembali memainkan dramanya.
“Nisa, Juliana, vaksinnya lain kali saja.” Saleha memohon pada mereka berdua.
“Ya sudah kalau begitu, kami vaksin di lain hari saja.” Juliana tak tega menolak permintaan Saleha barusan.
Saleha memang orang yang sangat tidak enakan pada orang lain. Ia tak ingin mengecewakan orang lain. Apalagi Pak Ayyas yang merupakan gurunya sendiri. Nisa terpaksa mengikut saja.
Setelah mencapai mufakat, mereka memutuskan untuk pulang. Di malam hari, chat Pak Ayyas masuk. Nisa lalu membacanya.
“Besok, makan-makannya di rumah mama.”
Nisa tidak membalas chat itu. Ia yang kecape’an langsung tidur.
“Tidak dibalas. Tidak apa-apa, yang penting besok dia datang.”
Keesokan harinya, mereka berkumpul di rumah Saleha. Lalu bersama-sama berangkat ke rumah ibu Pak Ayyas.
Ia lalu meminta mereka untuk masuk ke rumah. Mereka berbisik-bisik saat Bu Tiara dan Pak Ayyas masuk ke dapur.
“Kalian kok bisa seakrab itu sih dengan ibunya Pak Ayyas?” tanya Zulfitri keheranan.
“Nggak usah heran Zul, saya sama Nisa akrab dengan ibunya Pak Ayyas karena sering ke sini bawa buku tugas.” Juliana membela diri agar tak ketahuan.
“Iya, betul kata Juliana.” Nisa cengengesan untuk menyembunyikan kebenaran kalau ia sebenarnya mengenal Bu Tiara karena ia menantunya.
“Bapaknya Pak Ayyas mana ya?” tanya Dania sembari mencari-cari keberadaan ayah Pak Ayyas.
“Lagi perjalanan dinas Dan. Lagian ngapain sih kamu cari bapaknya Pak Ayyas?” tanya Juliana penasaran.
“Penasaran mau lihat muka bapaknya bagaimana. Anaknya seganteng itu, cetakannya pasti bagus ha ha.”
Dania cekikikan. Disusul yang lain. Ruang tamu Pak Ayyas kini dipenuhi dengan suara tawa mereka.
“Ada apa sih? Heboh sekali kelihatannya,” ucap Bu Tiara yang baru saja kembali dari dapur.
“Kata Dania tante itu cantik,” balas Juliana.
“Kalian ini bisa saja he he. Kenapa kalian belum makan? Ayo dimakan nak, jangan dilihat saja makanannya!”
Tanpa berlama-lama, mereka semua langsung menikmati makanan yang dihidangkan Bu Tiara. Tak lama setelah makan, adzan dzuhur pun berkumandang.
__ADS_1
Pak Ayyas ke mesjid untuk shalat. Sedangkan mereka shalat di rumah Pak Ayyas. Mereka lalu berwudhu, bersiap-siap untuk shalat.
“Shalat dimana kita guys?” tanya Aida.
“Di ujung Da.” Nisa mengarahkan.
Mereka kini berada di mushallah mini di dalam rumah Pak Ayyas.
“Kenapa belum takbir Zul?” Nisa menegur Zulfitri yang diam saja.
“Imamnya kan Juliana, bukan saya. Zulfitri kebingungan dengan pertanyaan Nisa barusan.
“Ha ha Zul, Zul. Yang di tengah kan kamu bukan Juliana. So, yang jadi imam kamu lah bukan Juliana.”
“Oh gitu ya? Sorry, sorry. Ayo tukar tempat Jul! Saya tidak mau jadi imam. Kamu saja yang jadi imam, bacaan Qur’anmu kan bagus.”
Juliana yang tadinya di ujung, melangkah ke tengah untuk jadi imam. Mereka shalat dengan khusyuk.
“Ini kamar siapa?” tanya Dania saat mereka berjalan kembali untuk ke ruang tamu.
“Kamarnya Pak Ayyas,” balas Nisa.
“Masuk yuk, saya penasaran mau lihat isinya bagaimana.”
Ucapan Dania diiyakan oleh yang lain, kecuali Nisa dan Juliana.
“Hey tidak boleh masuk kamar orang sembarangan! Yang sopan dong guys!” tegur Juliana.
“Untung saja Juliana menegur mereka. Kalau tidak, foto-fotoku bersama Pak Ayyas akan dilihat oleh mereka.” Nisa membatin lega.
Mereka kembali melangkah untuk ke ruang tamu. Pak Ayyas juga sudah kembali dari mesjid. Mereka berbincang-bincang hingga sore. Mereka berpamitan dulu ke Bu Tiara sebelum diantar pulang oleh Pak Ayyas.
“Pak, bapak kok lewat sih?” Nisa menegur Pak Ayyas saat mobil sudah melewati lorong masuk rumahnya.
“Sengaja,” ucap Pak Ayyas santai.
“Sengaja kata bapak? Mau bapak apa sih?” tanya Nisa kesal.
“Kita kembali ke rumah mama. Ini mama yang minta ya, bukan saya.”
Nisa tak berkutik mendengar itu permintaan mertuanya. Dengan terpaksa ia kembali bersama Pak Ayyas. Sesampainya di rumah, Nisa langsung mandi lalu ke kamar Bu Tiara.
Bu Tiara bercerita panjang lebar pada Nisa. Ia tampak nyaman sekali bercerita pada Nisa. Selain mendengar mertuanya bercerita, sesekali Nisa juga merespon ucapannya. Mereka terus berbincang hingga waktu menunjukkan pukul 9 malam.
“Mama sudah mengantuk sayang. Sana ke kamar, suamimu pasti sudah dari tadi menunggumu. Sudah sejak lama ia menantikan malam ini.”
Nisa teringat kembali akan janjinya pada mertuanya dan nenek. Janji bahwa ia dan Pak Ayyas segera memberikan cucu setelah Nisa lulus sekolah. Dengan santainya Nisa melangkah ke kamar. Ia tak takut sama sekali, karena ia dan Pak Ayyas sudah menyepakati ide pura-pura hamil sepekan yang lalu.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1