My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Perhatian ke Susan


__ADS_3

Bu Susan merasa pusing. Segera pak Ayyas menawarkan fresh care untuk ia oleskan di kepalanya.


“Oh jadi ini tujuan dia bawa fresh care. Pantas, sampai diingatkan berulang kali untuk masukin fresh care ke koper.” Nisa membatin melihat perhatian pak Ayyas pada bu Susan.


“Malam ini bulan bersinar terang. Seperti perasaan bu Susan yang cerah karena diperhatikan si Bear. Jelas, tak ada mentari di malam hari. Seperti keberadaanku bagi si Bear.” Nisa kembali berucap dalam hati.


Hingga tak terasa ia ketiduran di bus. Baru menyadari bus telah tiba di Baruga Somba Opu saat Juliana membangunkannya. Dengan perasaan yang masih sedikit mengantuk, Nisa menuruni bus.


Mereka lalu masuk ke ruangan yang telah disiapkan housekeeping Baruga Somba Opu. Beristirahat agar besok kembali fit untuk mengunjungi Benteng Rotterdam.


Setelah salat subuh, mereka lalu mandi bergantian. Mereka harus mengantri terlebih dahulu, lantaran peserta study tour berjumlah banyak. Sementara kamar mandi hanya tersedia beberapa saja.


Setelah sarapan, mereka pun berangkat ke Benteng Rotterdam. Suasana yang masih pagi terasa begitu gerah di kota Makassar. Sampai membuat mereka merasa haus. Riuh ramainya jalanan yang dipadati kendaraan berlalu-lalang semakin menambah dahaga mereka.


“Aduh haus banget. Mana lupa minta uang lagi ke Bear,” Nisa hanya bisa bermonolog tatkala yang lain membeli minuman dingin yang terletak tak jauh dari gerbang Benteng Rotterdam.


“For you Sa,” ucap Juliana sembari memberikan sebotol pocari sweat dingin ke Nisa.


“Wizzz, pas banget. Nanti uangnya saya ganti yah Jul.”


“Ha ha tidak perlu Sa. Ini ditraktir Ridwan kok,” ucap Juliana santai.

__ADS_1


“He he tau aja lagi haus,” balas Nisa dengan perasaan bahagia.


Di arah sana pak Ayyas merasa sedikit kesal dengan cara Ridwan memperhatikan Nisa. Ia sebenarnya ingin melakukan hal yang sama. Tapi takut kalau sampai ketahuan yang lain tentang hubungannya yang sebenarnya dengan Nisa.


Kini mereka berada di dalam Benteng Rotterdam. Siswa diarahkan masuk ke dalam museum La Galigo terlebih dahulu.


Sebuah miniatur kapal Phinisi terpajang di salah satu sudut museum. Miniatur yang menggambarkan bagaimana masyarakat Sulawesi Selatan sejak dulu memang seorang pelaut ulung.


Bu Susan sangat terkesima dengan miniatur tersebut. Segera ia meminta Nisa untuk memotretnya di samping Pak Ayyas.


“Bu Susan keterlaluan banget sih. Sengaja banget gitu buat Nisa cemburu,” gerutu Juliana dalam hati.


“Sekali lagi,” ucap pak Ayyas menyodorkan gawai nya ke Nisa.


“Password-nya pak, terkunci soalnya.”


“21 Agustus,” jawab pak Ayyas cepat.


“Lah itu kan tanggal lahirnya bu Susan,” Juliana kembali geram dalam hati.


Nisa masih terlihat tegar diperlakukan seperti itu. Setelah memotret Pak Ayyas ia mengembalikan gawai bu Susan dengan senyum hangat berpadu dengan kesedihan.

__ADS_1


“Pak!” Teriakan kecil Juliana berhasil menghentikan langkah Pak Ayyas. Ia bahkan menoleh.


“Ya, ada apa Jul?”


“Nisa katanya mau foto bersama bapak di depan baju adat.”


“Hah?” Nisa terkaget-kaget dibuat Juliana. Ia sama sekali tak pernah berkata seperti itu padanya.


“Boleh,” balas Pak Ayyas.


“Cepetan Sa, katanya tadi mau foto. Malah diam aja!” suruh Juliana.


Pak Ayyas dan Nisa kini berdiri berdampingan. Nisa merasa sedikit canggung diperhatikan bu Susan.


“Serasi pak. Apalagi kalau yang di belakang dipakai barengan," canda Juliana.


Juliana sengaja mengatakan itu untuk membuat Nisa senang. Karena faktanya baju adat digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan di hari pernikahannya.


Itu semua ia lakukan sebagai bentuk protes atas perlakuan bu Susan barusan ke Nisa. Juliana juga tidak merasa khawatir untuk memotret Nisa dan pak Ayyas. Karena dia sendiri sudah tahu kalau Nisa dan pak Ayyas adalah pasutri yang sudah halal untuk berdekatan.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2