My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Sakit yang Sama


__ADS_3

Karena sudah merasa kenyang, mereka duduk sejenak di ruang keluarga sebelum tidur. Pak Ayyas lalu menghidupkan TV.


“Keren banget ini Cristiano Ronaldo,” ucap Pak Ayyas yang tengah asyik menonton pertandingan bola.


“Keren parah kak. Makanya dia dipilih menjadi penyerang tengah di Real Madrid,” tutur Bu Susan merespon ucapan Pak Ayyas.


Berbeda dari Bu Susan dan Pak Ayyas. Nisa hanya diam. Nisa sebenarnya tidak terlalu suka menonton sepak bola. Hanya saja dia tidak ingin Bu Susan dan Pak Ayyas berdua-duaan di ruang keluarga.


Nisa sebenarnya tahu kalau Pak Ayyas pecinta bola. Tapi ia tidak pernah memaksakan diri untuk menyukai sepak bola. Juga tidak berusaha mencari informasi tentang bola agar bisa lebih akrab dengan Pak Ayyas.


Baginya tiap orang punya hobby masing-masing. Tidak harus memaksakan diri untuk terlihat sama hanya karena ingin dicintai.


Toh, pernikahan bukan tentang kesamaan semata. Baginya, yang terpenting dalam hubungan suami istri adalah keinginan untuk saling melengkapi, saling menerima kekurangan, dan mencintai tanpa mengekang.


“Eh mau kemana Susan?” tanya Pak Ayyas pada Bu Susan yang tengah berdiri.


“Mau ke dapur dulu kak,” balas Bu Susan singkat. Ternyata Bu Susan diam-diam membuat coklat panas.


“Silakan diminum kak,” ucap Bu Susan sembari memberikan secangkir coklat panas yang dibawanya untuk Pak Ayyas.


“Nisa,” ucap Bu Susan menawarkan coklat panas juga ke Nisa.

__ADS_1


“Tidak, tidak perlu bu. Saya sudah sikat gigi. Btw terima kasih ya bu. Sudah repot-repot perhatian ke suami saya,” ucap Nisa ramah tapi berhasil menggores luka di hati Bu Susan.


“He he tidak repot kok. Kebetulan saya ingin minum coklat panas. Jadi saya buat banyak sekalian,” jawab Bu Susan salah tingkah.


Setelah menghabiskan coklat panasnya, Bu Susan pamit ke kamar tamu untuk tidur. Pak Ayyas mematikan TV dan kembali ke kamar bersama Nisa.


Pak Ayyas langsung tidur, sementara Nisa ia kembali menyusun rencana brilliant selanjutnya. Ia mulai membuka aplikasi WA dan mengirimkan chat ke Aisyah.


“Assalamu ‘alaykum”


“Aisyah, kirimkan kakak foto-foto kemarin dek”


Aisyah kemudian mengirimkan beberapa foto ke kakaknya. Nisa mulai membuka foto-foto tersebut. Dipilihnya beberapa foto untuk dicetak besok.


Mereka justru akan beranggapan kalau Pak Ayyas dan Bu Susan mendapati Nisa menunggu angkot di jalan raya, lalu mengajaknya ikut naik ke mobil.


Jam pertama Nisa belajar Fisika yang diajarkan oleh Pak Anwar. Setelah selesai mengajar, Pak Anwar memanggil Nisa. Nisa lalu berjalan ke depan untuk menghampiri Pak Anwar.


“Ada apa yah pak?” tanya Nisa yang kini berdiri tepat di depan meja guru.


“Nanti jam istirahat kamu ke taman baca yah. Saya mau ngomong sesuatu, penting.”

__ADS_1


“Oh iya pak, In Syaa Allah.”


Setelah bicara ke Nisa, Pak Anwar langsung meninggalkan kelas. Nisa kembali belajar, dan setelah bell istirahat berbunyi ia ke taman baca dengan ditemani Juliana.


Mereka menunggu Pak Anwar terlebih dahulu. Tiba-tiba Nisa merasa mual.


“Kamu kenapa Nisa? Jangan-jangan kamu hamil ya?” tanya Juliana spontan. “Mulutmu Jul,” balas Nisa kesal.


“Lah emang kenapa? Kamu kan punya suami.”


“I will never have a baby from him. Asal kamu tahu ya Jul, pernikahan kami cuma formalitas. Ogah banget punya anak yang ayahnya lelaki plin plan seperti Pak Ayyas.”


“Iya Sa. Mending kamu lupain tuh Pak Ayyas. Ada Ridwan kok yang baik banget, atau Syam yang super duper care. Biarin aja Pak Ayyas sama Bu Susan, cocok mereka mah. Biarkan pelakor dan pengkhianat bersatu. Jodoh kan memang cerminan hidup seseorang.”


Ternyata Pak Ayyas yang berjalan dari kelas XII IPS 3 ke kantor mendengar percakapan mereka. Dia merasa sedikit sesak mendengar percakapan Juliana dan Nisa. Terlebih saat Nisa mengatakan tak akan pernah mau punya anak darinya.


Sementara ucapan Juliana dan Nisa justru seperti angin segar bagi Ridwan yang juga mendengar ucapan mereka barusan.


Selama ini Ridwan mengira Nisa dan Pak Ayyas saling mencintai, tapi setelah mendengar percakapan Juliana dan Nisa barusan ia merasa memiliki kesempatan untuk dipilih Nisa. Karena faktanya, Nisa ternyata tak menginginkan anak dari Pak Ayyas.


“Ridwan, kamu ngapain di sini?” tanya Juliana.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2