My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 58


__ADS_3

Adzan subuh berkumandang.


Pak Ayyas bersiap-siap bergegas ke masjid. Wahdah yang masih anak-anak juga bangun untuk shalat subuh.


Ibu Nisa sebenarnya bukan ibu yang begitu paham agama. Tapi untuk urusan shalat, anaknya diajarkan sejak dini untuk tidak meninggalkan shalat lima waktu. Shalat subuh sekali pun.


“Om. Wahdah mau ikut,” rengek sang adik ipar.


“Wahdah shalat di rumah saja ya bareng kak Nisa.”


Ucapan pak Ayyas malah membuat Wahdah ngambek.


Pak Ayyas akhirnya mengalah. “Ya sudah, Wahdah boleh ikut sama om.”


Seketika wajah cemberut Wahdah berubah menjadi berseri-seri.


Nisa kembali teringat ayahnya saat melihat kedekatan mereka. Waktu kecil, Nisa juga sering sekali ke mesjid bersama ayahnya. Lantaran ibunya lebih memilih untuk shalat di rumah ketimbang di mesjid.


Nisa lalu shalat subuh di rumah. Setelahnya, ia membaca Al-Qur’an. Di tengah-tengah aktivitasnya, gawainya berbunyi. Setelah dicek, ternyata itu panggilan dari Juliana. Ia segera mengangkatnya.


“Nisa, aktif di WA sekarang juga!” Setelah berkata seperti itu, Juliana langsung memutuskan panggilannya.


Nisa meletakkan Al-Qur’an yang baru saja dibaca, lalu mengambil gawai. Membuka chat dari Juliana.


“Cantik kan?” tanya Juliana pada foto baju berwarna merah yang ia kirim.

__ADS_1


“Cantik, tapi terlalu seksi.”


“Lengan pendek gini kok seksi sih? Nggak apa-apa kali Sa. Kan dipakai untuk di dalam rumah. Kalau keluar harus pakai terusan dong. Btw ini untuk kamu, bukan untuk saya. Punya saya warna hijau.”


“Tukar sama yang lain saja Jul. Saya mau warna yang lain. Jangan warna merah Jul,” balas Nisa.


“Gue belinya cuman dua Sa. I do not have enough money untuk membelikan yang lain juga.”


“Eh sorry sorry. Atau gini aja deh Jul, warna hijaunya untuk saya. Warna merahnya untuk kamu,” tawar Nisa.


“Nggak mau Sa, gue sukanya warna hijau bukan merah.”


“Nggak berani aku Jul pakai baju berwarna merah gitu di rumah. Let me tell you, warna merah itu simbol gairah. Kamu aja deh yang ambil warna merah, kamu kan belum punya suami.”


“Ya elah Sa. Percaya banget sih sama mitos-mitos kek gitu,” ketik Juliana.


“Ya nggak apa-apa kali Sa. Pak Ayyas kan beruang, bukan banteng. Yang kalau lihat kain merah bawaannya pengen nyeruduk aja.”


“Terserah lu aja deh Jul,” balas Nisa.


“Belum tahu saja dia, kalau si Bear sekarang itu multi-animal. Bisa jadi beruang, jadi buaya, dan semoga saja tidak jadi banteng juga.” Nisa bergidik karena pikirannya sendiri.


“Okay, I will give you this later. Oh ya Sa, kata teman-teman, kamu di rumah ibumu. Aren’t you?” ketik Juliana lagi.


“Yes, I am.”

__ADS_1


“Ok, kalau gitu pas banget. Nanti saya ke situ bawa bajunya. Setelah kursus di rumah kak Sinta. Awas ya kalau bajunya nggak dipake.”


“Iya, saya pasti pake kok. Kalau tidak, kamu pasti ngambek. Wuuuu,” ledek Nisa.


“Yeee, biarin.”


Nisa menunggu beberapa menit dan sudah tak ada balasan dari Juliana lagi. Nisa meletakkan gawainya, lalu ke dapur untuk membantu ibunya masak.


“Ma buat ayam rica-rica yuk. Juliana mau datang nanti,” gombal Nisa.


“Oh, Juliana mau datang. Ya sudah kita buat ayam rica-ricanya sekarang. Ayamnya kamu cincang-cincang dulu!” perintah ibu Nisa.


Nisa mulai melakukan arahan ibunya. Mengambil ayam di freezer. Dicincang-cincang, lalu dicuci bersih.


Setelah daging ayamnya siap, ia menambahkan kunyit bubuk dan perasan jeruk nipis ke ayam. Dengan tujuan agar ayamnya tidak berbau amis.


Setelah itu, ia menyiapkan bumbu-bumbunya. Setengah gelas cabai rawit, beberapa siung bawang putih dan bawang merah, jahe, lengkuas, sedikit air, masako, dan separuh lada bubuk ia masukkan ke dalam blender.


Ayam dan bumbu yang telah dihaluskan ia masukkan ke wajan. Diberi air dan tak lupa juga memasukkan sereh yang telah digeprek.


Kini giliran ibu Nisa yang menjaga ayam rica-ricanya. Memastikan rasanya sudah pas, tidak hambar dan juga tidak keasinan. Airnya mulai mengering, pertanda ayam rica-rica sudah siap untuk disajikan.


Nisa sengaja membuat ayam rica-rica, karena Juliana sangat suka memakannya. Juliana sebenarnya sering mempraktekkan resep dari ibu Nisa di rumah. Tapi tetap saja katanya rasanya pasti beda dengan buatan ibu Nisa. Karena ibu Nisa memang asli Sulsel, sementara Juliana pindahan dari Sulbar.


Sebenarnya agak rempong membuat ayam rica-rica. Tapi karena Juliana sudah dianggap seperti anak sendiri. Jadi ibu Nisa membiarkan Nisa untuk menyulap ayam yang tadinya akan dibuat ayam goreng itu menjadi ayam rica-rica.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2