My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Berubah


__ADS_3

Tak ada percakapan antara Nisa dan pak Ayyas. Langit yang gelap, justru semakin menambah sunyinya malam ini.


Beruntung, tiba-tiba grup Kemah Bersama menjadi ramai. Ketika salah satu penghuni grup mengirimkan foto lukisan tangannya. Di lukisan itu tampak Patrick dan Spongebob tengah berburu ubur-ubur.


“Seperti pesona di bawah laut,” balas Ridwan pada unggahan tersebut.


“Primitif,” timpal Nisa untuk balasan Ridwan.


“Squidward Tentacle,” tambah pak Ayyas pada balasan Nisa.


Baru kali ini pak Ayyas ikutan nimbrung di grup. Dia biasanya tak menghiraukan grup itu sama sekali.


Biasanya Nisa akan bahagia dengan tindakan pak Ayyas yang seperti itu, tapi tidak kali ini.


Serasa seperti cinta segi tiga, tapi bagi Nisa, Pak Ayyas hanya tak ingin ia dekat dengan lelaki lain. Bukan karena cinta, melainkan memang sudah sifat alamiah lelaki, tak pernah puas hanya dengan mencintai satu perempuan.


“Kamu marah dengan nama Susan yang saya save di kontak menjadi My Moon. Tapi kamu sendiri menamai Ridwan Rainbow.” Pak Ayyas memulai pembicaraan.


“Saya beda dengan, Bapak. Bapak mengakui bu Susan sebagai milik bapak. Nama kontaknya saja My Moon. Sementara saya, hanya menamai Ridwan Rainbow tanpa My. Lagipula, banyak kontak saya yang seperti itu. Cek saja sendiri kalau tidak percaya.” Nisa menyodorkan gawainya.


Pak Ayyas merasa semakin bersalah terhadap Nisa saat ia mendapati banyak kontak yang namanya memang aneh seperti Rainbow untuk Ridwan.


Selama ini, setiap kali ia bertanya, Nisa pasti selalu menjawabnya dengan jujur. Benar-benar tak ada yang ditutup-tutupi sama sekali.


“Ini Putri Tidur siapa?” tanya Pak Ayyas lagi.

__ADS_1


“Itu Dila.”


“Oh, yang sering pakai kacamata itu yah?”


“Iya, Pak.”


“Ini Masky... apa?” Pak Ayyas mencoba untuk mengembalikan mood Nisa yang semakin memburuk itu.


“Maroon Sky, Pak.” Nisa tetap saja berekspresi datar.


“Nama apa itu?”


“Nama beken kelas pak.”


“Bagus juga ya. Siapa yang buat nama ini?”


Nisa menjawab semua pertanyaan pak Ayyas, tapi tidak seantusias dulu lagi.


“Di rumah saya diperlakukan seperti ratu. Dipuji, diprioritaskan, hanya karena dia kesepian. Setelah ketemu bu Susan di sekolah, saya dicampakkan. Bahkan saking tergila-gilanya pada bu Susan, ia sampai rela berbuat ketidakadilan. Perasaan teman-teman saya diabaikan begitu saja demi kebahagiaan bu Susan,” ia membatin.


“Kamu kenapa sih Nisa? Sepanjang hari kamu hanya diam. Biasanya juga cerewet banget.”


“Karena bapak tidak mau berubah, jadi saya yang harus berubah.”


“Bicara apa lagi kamu Nisa? Kalau tidak sanggup dengan sikap saya, kenapa kamu tidak menolak perjodohan kita?” Pak Ayyas jadi sedikit kesal.

__ADS_1


“Jika bukan karena desakan ibu. Saya tidak akan pernah mau dijodohkan dengan kamu,” tambahnya.


“Saya juga tidak tahu apa-apa tentang perjodohan kita. Andai saya tahu akan dinikahkan dengan Bapak, sudah pasti saya menolak sejak awal. Satu lagi, saya juga baru tahu kalau Bapak ternyata menyukai perempuan lain.”


Nisa akhirnya menangis sesenggukan. Semua pedih yang bersarang di hatinya kini telah ia luapkan di hadapan pak Ayyas langsung.


Pak Ayyas sangat mencintai bu Susan, tapi demi ibunya, ia rela dijodohkan dengan Nisa. Sementara Nisa, ia melakukannya demi kebahagiaan ayahnya yang tengah menderita penyakit kanker hati.


Suasana kembali memanas saat tiba-tiba chat Ridwan masuk di gawai Nisa. Pak Ayyas yang tengah memegang gawai Nisa langsung membaca chat itu tanpa persetujuan Nisa.


“Jujur, saya menyukai kamu Nisa. Kamu adalah tipe idaman saya banget. Saya paham kalau perempuan seperti kamu tidak akan mau pacaran. Saya juga seperti itu kok. Bisakah kamu menunggu saya beberapa tahun lagi? Saya janji saya akan melamar kamu tepat setelah saya memiliki cukup uang dan juga pekerjaan yang tetap,” ketik Ridwan.


“Apa lagi ini?” Pak Ayyas mengembalikan gawai Nisa setelah membaca chat yang dikirim oleh Ridwan.


“Kamu protes dengan kedekatan saya dengan Susan. Tapi kamu sendiri begitu akrab dengan Ridwan. Sampai-sampai dia menyatakan cinta ke kamu.”


“Saya akrab dengan Ridwan karena kami sama-sama coach kelompok belajar. Saya memang akrab dengan semua coach. Lagipula saya akrab dengan Ridwan tanpa melibatkan perasaan,” elak Nisa.


“Sudahlah! Percuma juga ngomong sama orang yang sedang dimabuk cinta seperti bapak.”


Nisa mematikan lampu lalu tidur. Meskipun ia belum mengantuk sama sekali. Chat Ridwan juga tidak dibalas.


Ia berharap dengan mengganti posisi dari duduk ke baring bisa meredakan emosinya. Rasa kantuk ternyata melandanya setelah menangis sesenggukan. Ia lalu terlelap.


Pak Ayyas memutuskan untuk tidur juga saat ia melihat Nisa yang sudah terlelap.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭


__ADS_2