My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Samaan Terus


__ADS_3

“Untuk menguji keaslian madunya,” balas pak Ayyas singkat.


“Maksudnya?” tanya Nisa. Ia semakin penasaran.


“Kalau madunya tidak membeku berarti madunya asli.”


“Mana ada benda cair yang tidak membeku saat dimasukkan ke freezer.”


“Oh... jadi kamu tidak percaya?”


“Ya, tidak lah.”


“Kalau madunya tidak membeku bagaimana?” tantang pak Ayyas.


“Saya akan menuruti semua permintaan Bapak,” balas Nisa begitu santai.


Ia teramat yakin kalau madu itu pasti tidak akan membeku. Secara logika, benda cair yang dimasukkan ke freezer pasti akan membeku. Kecuali jika kulkasnya mati.


“Besok kalau madunya tidak membeku, kamu harus temani saya memancing.”


“Dimana?”


“Di sekolah, ya di sungai lah Nisa. Mau dimana lagi?”


“Di kantin, ya di sungai lah Pak. Mau dimana lagi?”


“Kamu Sa, kebiasaan.”


Nisa lalu melangkahkan kaki ke dapur, memasukkan madu itu ke freezer. Setelah itu, ia kembali ke kamar untuk melanjutkan tulisannya.


Niat untuk menulis seketika ia urungkan, tatkala mendapati gawai nya bergetar. Beberapa notifikasi chat ia buka.


“Kenapa tulisannya tidak dilanjutkan?” tanya pak Ayyas saat melihat Nisa malah fokus ke gawai.

__ADS_1


“Ini... lagi balas chat Lisna.”


“Masih balas chat Lisna?”


“Iya,” jawab Nisa datar.


“Sudah 2 jam dan kamu masih balas chat Lisna?”


“Iya, Pak.”


“Itu si Lisna bahas apa aja sih? Chatnya lama begitu.” Pak Ayyas sedikit menggerutu.


“Dia curhat, Pak.”


“Loh, Lisna sahabat kamu juga?”


“Bukan.”


“Terus kenapa dia curhatnya ke kamu?”


Pak Ayyas mengakhiri bacaannya, lalu menyimpan buku Sirah Nabawiyah yang telah dibaca tadi di bagian paling atas rak buku. Kemudian mengambil buku matpel Pendidikan Agama Islam khusus untuk siswa kelas XII di rak kedua.


Di sore hari Nisa ke dapur untuk memasak. Setelah hidangan makan malam siap, ia kembali ke kamar. Bersiap-siap untuk shalat magrib.


Setelahnya, mereka makan malam bersama. Malam ini, mereka tidur lebih awal lantaran kelelahan dari Enrekang.


Keesokan harinya sebelum berangkat ke sekolah, pak Ayyas memberikan Nisa sebuah gantungan tas. Dengan senang hati Nisa menerimanya. Tak lupa, ia berterima kasih dan langsung memasang gantungan itu di tas ranselnya.


Mereka kemudian berangkat ke sekolah bersama.


“Sa, kemarin kamu kemana? Kok nggak masuk?” tanya Aida yang tengah duduk di taman depan kelas.


“Ada acara.”

__ADS_1


Sahabat-sahabatnya tidak melanjutkan pertanyaan yang tadinya ingin mereka tanyakan. Secara, mereka tahu betul kalau Nisa sangat tidak suka jika privasinya diusik.


Setelah apel pagi, siswa memasuki kelas.


“Sa, gantungannya kamu beli dimana?” tanya Zulfitri sembari memegangi gantungan tas Nisa.


“Nggak beli, dikasih.”


“Cantik banget Sa. Bentuknya mirip punya bu Susan.”


“Masa sih?” tanya Nisa menuntut.


“Iya Sa. Persis malah.”


Mood Nisa seketika memburuk. Kemarin dulu ia terluka atas perbuatan pak Ayyas dan bu Susan. Kini, ia harus menerima kenyataan pahit lagi karena ulah mereka berdua.


“Rasanya kayak lagi dipoligami. Seharusnya dia beli satu saja. Langsung kasih ke bu Susan tanpa sepengetahuanku,” monolognya dalam hati.


“Kalau saya kasih kamu, kamu mau nggak Zul?”


“Jangan Sa! Tanya saja sama yang kasih, belinya dimana.”


“Ini dikasih sama pamanku. Belinya di Enrekang.”


“Yaahhh, jauh.”


“Makanya ambil aja Zul! Saya juga tidak seberapa suka gantungan ini.”


Nisa kemudian melepaskan gantungan tas itu dan memberikannya ke Zulfitri. Ia sebenarnya cukup suka gantungan tas itu. Yang tidak ia suka adalah... gantungan tas seperti itu juga dimiliki bu Susan. Terlebih, benda itu diberikan oleh suaminya, yang juga diberikan untuk perempuan lain yang bukan mahramnya.


“Wahhh, terima kasih banyak ya Sa.”


“Iya, sama-sama.” Nisa tersenyum hangat, menutupi kekecewaan yang lagi-lagi disebabkan oleh pak Ayyas.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak🤭🤭


__ADS_2