My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Bad Mood


__ADS_3

“By the way, kamu ikut bazar Remus nanti kan?” tanya Juliana.


“Hemmm,” Nisa menggumam bimbang.


“Ikut aja Sa. Teman-teman kita yang lain ikut semua,” desak Juliana.


“Pasti karena kamu paksa kan? Bilang aja mau ketemu sama guru idolamu itu,” goda Nisa.


“Udah tau nanya,” ledek Juliana balik.


Bel berbunyi, mereka langsung ke lapangan untuk apel pagi. Setelah itu, siswa masuk ke kelas untuk belajar.


Tak terasa bel pulang pun berbunyi, Nisa mulai mengecek gawai nya.


“Hari ini si Bear pasti telat pulang. Dia kan harus mendampingi anggota Remus di bazar nanti,” Nisa membatin.


Gawai Nisa bergetar, dibukanya pesan dari Pak Ayyas.


“Kita pulangnya malam”


“Bilang ke sahabat-sahabatmu kalau mereka ikut bantu-bantu di bazar akan dapat nilai tambahan dari saya”


“Supaya kamu tidak sendirian menunggu sampai malam”


“Nanti pulangnya saya antar”


Nisa hanya membalas pesan Pak Ayyas dengan emoticon jempol.

__ADS_1


“Guys Pak Ayyas nyuruh kita bantu-bantu di bazar,” kata Nisa sembari memperlihatkan chat yang sebagiannya telah didelete.


“Kita kan bukan anak Remus,” timpal Dania.


“Katanya yang ikut bantu-bantu dikasih nilai tambahan,” bujuk Nisa.


“Mau dong Sa. Nilai Agamaku jelek. Kalau ikut bantu-bantu nilaiku bisa lebih baik,” kata Fina.


“Cieee yang dichat Pak Ayyas,” ledek Zulfitri.


“Sorry ya. Nomor Juliana juga disave keles,” elak Nisa.


“Tapi kamu doang yang dichat,” tambah Aida.


“Itu karena WAku aktif, Juliana nggak. Makanya aku yang dichat,” sanggah Nisa.


“Sudah, sudah! Dari tadi kalian ledek Nisa muluk. Ayo cepat kita ke aula! Idolaku udah nunggu nih,” ucap Juliana mencoba mencairkan suasana.


Terlihat jelas Pak Ayyas begitu akrab dengan Bu Susan. Siswa yang tidak mengetahui kisah mereka akan menganggap itu hal yang wajar. Pak Ayyas dan Bu Susan kan sama-sama guru Agama.


Nisa berpura-pura tak memperhatikan mereka. Tak dapat dipungkiri, Nisa sebenarnya terluka dengan tingkah Pak Ayyas yang seperti itu. Ia mencoba mengalihkan pandangannya.


“Guys saya ke sana dulu ya mau beli sesuatu,” ucap Nisa.


Sesampainya di stand makanan, Nisa langsung mengeluarkan uang yang diberikan Pak Ayyas tadi pagi sebelum berangkat ke sekolah. Setelah membeli jajanan, ia ke halte.


Angkot berwarna merah menghampiri.

__ADS_1


“Urung pak?” tanya Nisa.


“Iya,” kata pak sopir.


Nisa menaiki angkot tersebut, lalu berhenti tepat di lorong masuk rumahnya.


Segera ia memasuki rumah, didapatinya Nurul tengah bercengkerama dengan ibunya.


“Eh Nisa, sudah pulang nak? Dari tadi Nurul nungguin kamu di sini,” ucap ibu Nisa lembut.


Nisa meletakkan jajanan yang dibelinya di bazar tadi. Dibukanya bungkusan yang berisikan bakso bakar beberapa tusuk di hadapan Nurul.


“Ada apa Nurul? Tumben main ke rumah,” sapa Susan dengan raut sedikit kebingungan.


“Bantuin jawab soal tadi dong Sa! Saya sudah coba jawab tapi tidak bisa,” ujar Nurul.


“Oh tugas dari Bu Rosa. Sini saya bantu!” Tanpa pikir panjang, Nisa langsung mengajari Nurul.


Soal pun dituntaskan Nisa dengan durasi yang cukup singkat. Nurul berterima kasih dan langsung pamit pulang.


“Nak Nurul makan dulu yuk,” cegah ibu Nisa sembari meletakkan sup ubi di hadapannya.


Nurul terpaksa harus duduk kembali, ia tak enak hati menolak ajakan ibu Nisa. Dimakannya sup itu. Ia tampaknya sangat buru-buru, hanya beberapa suapan lalu berhenti makan. Segera ia pamit pada ibu Nisa yang tengah menikmati sup nya. Melangkah keluar, hingga tak terlihat lagi.


“Untung aja kamu datang Sa. Ibu hubungi nomor kamu tapi tidak aktif. Kan bahaya kalau yang lain tahu kamu sudah tidak tinggal di sini lagi. Apalagi kalau sampai tahu kamu tinggalnya sama Pak Ayyas,” curhat ibu Nisa.


“Maaf bu. Baterainya habis,” balas Nisa.

__ADS_1


Ia kemudian mengangkat piring-piring kotor di meja, dibawa ke dapur lalu dicuci bersih.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2