My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 93


__ADS_3

Sudah sepekan mereka di Bone. Sebenarnya pak Ayyas masih ingin berlama-lama di sana. Tapi apalah daya, lusa adalah hari pernikahan Fina. Mau tidak mau mereka harus kembali ke Pare untuk menghadiri pesta pernikahan itu.


“Kenapa mukanya ditekuk?” tanya pak Ayyas setelah menoleh hanya sebentar ke arah Nisa karena harus kembali fokus menyetir.


“Bete, mau tidur tapi susah. Saya tidak mengantuk.”


“Kita main tebak-tebakan saja supaya kamu tidak merasa bete.”


“Tebak-tebakan? Sebenarnya saya kurang suka, tapi bisa dicobalah.”


“Okay, pekerjaan apa yang pendapatannya banyak ketika sunyi. Tapi sedikit ketika sedang ramai?”


“Maling,” jawab Nisa asal.


“Langsung benar? Waktu temanku kasih soal ini, aku jawabnya beberapa kali baru benar. Kamu jawab sekali saja sudah benar. Tidak seru main tebak-tebakan sama kamu. Jawabannya langsung dijawab benar.”


“Lah, kenapa jadi kamu yang bad mood sih honey? Ya sudah, lain kali saya akan pura-pura tidak tahu jawabannya kalau kamu kasih tebak-tebakan lagi. Senyum dong! Jangan cemberut terus, nanti pelanginya hilang loh.”


“Ngaco, mana ada pelangi di siang bolong begini. Dari tadi juga tidak pernah hujan.”


“Beneran ada kok honey. Pelangi yang ini bahkan jauh lebih indah dari biasanya.”


“Oh ya? Mana pelanginya?”


“In your eyes. Ada pelangi di bola matamu. Dan memaksa diri tuk bilang aku sayang padamu. Aku sayang padamu.”


Pak Ayyas tetap diam. Tidak memberikan reaksi seperti yang Nisa inginkan. Ia harus berusaha ekstra kali ini.


“Honey,” panggil Nisa dengan nada manja.


Pak Ayyas tidak menghiraukannya. Nisa menarik lengan baju pak Ayyas berkali-kali hingga berhasil membuat ia menoleh ke arahnya.


“Apa? Kamu jangan tarik-tarik, saya lagi fokus nyetir ini. Kalau mobilnya oleng kan bahaya,” balas pak Ayyas dengan nada ketus.


“Ternyata . . .” Nisa menggantung ucapannya.


“Ternyata apa? Jangan bikin penasaran!”


“Wahdah, anak mama dan papa juga. Ha ha ha.”

__ADS_1


Nisa menunggu tawa pak Ayyas atas lelucon yang baru saja ia lontarkan. Tapi tetap saja, pak Ayyas tidak tertawa sama sekali.


“Yaahhh, garing ya? Hey beruang jahat, ketawa dong! Nanti kotak tertawamu rusak, baru tahu rasa.”


“Kebanyakan nonton cartoon kamu. Mulai dari sekarang kamu harus kurangi bermain, banyakin belajar. Ingat, kamu itu calon ibu. Penyair ternama bernama Hafiz Ibrahim pernah berkata: Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Artinya: Ibu merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.”


“Lagi bercanda malah dibawa serius. Kata orang enak nikah sama lelaki dewasa, bakal pengertian ke istri. Ternyata itu hanya hoax.”


Saking kesalnya, Nisa memutuskan untuk tidur meski sedang tidak mengantuk.


“Astaghfirullah, kamu marah ya sayang? Maaf ya kalau ucapan saya menyakiti hati kamu. Jangan ngambek lagi dong! Nanti kita beli kado untuk Fina. Kamu juga bisa beli apa pun yang kamu mau.”


“Katanya harus bersikap dewasa, tapi membujuk saya seperti sedang membujuk Wahdah. Kado untuk Fina patungan sama yang lain. Tidak beli sendiri-sendiri.”


“Salah lagi ya? Well, saya minta maaf. Oh ya, ambil ini.”


“ATM? Untuk apa?” Nisa menolak untuk mengambilnya.


“Untuk beli gulali, ya untuk kamu kelola dong sayang. To the point saja, tugas istri kan mengatur rumah dan mengurus keluarga. Untuk itu kamu butuh uang. Seharusnya dari dulu gaji saya kamu yang pegang. Tapi waktu itu kamu masih belum sedewasa sekarang. Makanya gaji saya masih saya pegang sendiri. Sekarang kamu sudah mulai dewasa, jadi keuangan keluarga kita kamu yang kelola. Sandinya 891011.”


Tibalah hari pernikahan Fina.


Sebagai bridesmaid dan groomsmen, mereka mengenakan pakaian seragam berwarna coklat yang diberikan Fina pekan lalu di cafe.


Fina sengaja memilih warna coklat karena warna ini melambangkan cinta, kepedulian dan persahabatan yang kuat.


Perlahan, tamu undangan mulai bubar. Fina meminta Nisa dan yang lain naik ke panggung pernikahan untuk berfoto dengannya.


Sementara Syam, Ridwan dan pak Ayyas berfoto dengan suaminya. Setelah puas berfoto, mereka makan dulu sebelum pulang.


“Jangan keluar dulu sayang! Kita foto dulu. Jarang-jarang loh kita foto bersama. Mumpung masih pakai baju couple ni.”


Pak Ayyas langsung mengunggah foto tadi di postingan IGnya. Tak lupa ia menandai IG Nisa juga. My lovely wife, captionnya. Hal ini ternyata mengundang perhatian Mirna.


“Perasaan si Nisa B aja, tapi suaminya keren abis gini. Fotonya di dalam mobil, wow suaminya pasti mapan ini. Wajar sih, waktu itu kan Juliana bilang kalau suami Nisa itu guru PNS di sekolah. Seru nih kayaknya kalau saya balas dendam ke anak ini. Siapa suruh, gara-gara dia Adam sempat berpaling dariku. Adam yang masih muda dan idola kampus saja bisa bertekuk lutut padaku, apalagi suaminya yang cuman guru PNS ini. Pasti gampang lah ditaklukkan. Secara gitu gue jauh lebih cantik daripada Nisa. Laki-laki mana sih yang bisa berpaling dari pesonaku? Biar dia tahu bagaimana rasanya ketika orang yang kita cintai berpaling dari kita karena lebih mencintai orang lain. Ha ha ha. Tunggu pembalasanku Nisa.”


Di malam hari.


Grup Ukhty Fillah yang sepi sejak kelulusan SMA itu kini kembali ramai. Finalah penyebab ramainya grup.

__ADS_1


“Guys, ini inisiatif siapa?” tanya Fina sembari mengirimkan foto baju dinas istri di kamar.


Satu per satu penghuni grup membuka chat tersebut. Tawa tak lepas dari wajah mereka ketika melihatnya.


“Apa yang lucu sih?” tanya pak Ayyas pada Nisa yang tengah terkekeh menatap layar gawainya.


“Ini, Zulfitri dan Dania ternyata mengisi kado pernikahan Fina dengan pakaian dinas. Ha ha ha.”


“Suami Fina pegawai negeri ya?”


“Bukan. Suaminya Fina itu pemilik tambak ikan bandeng terbesar di Pangkep, bukan pegawai negeri.”


“Terus ngapain Zulfitri dan Dania ngasih kado pakaian dinas kalau suaminya bukan pegawai negeri? Kuker sekali.”


“Pakaian dinas yang ini honey,” ucap Nisa dengan memperlihatkan isi chat dari Fina.


“Ha ha ha pantas kamu terkekeh. Teman-temanmu ini bar-bar juga ternyata. Bisa gitu ya mereka punya ide untuk ngasih kado begini. Oh ya, saya tidur duluan ya sayang. Kamu jangan tidur larut malam! Tidak baik untuk kesehatan.” Pak Ayyas mematikan lampu dan otw terlelap.


“Siap bossque.” Nisa kembali sibuk dengan gawainya. Meski begitu ia akan tidur sebelum pukul sepuluh. Seperti yang pak Ayyas minta, jangan tidur larut malam.


“Hey pengantin baru bukannya malam pertama malah sibuk ngerumpi di mari,” balas Dania.


“Ha ha ha, ulah kamu juga yang nackal. Ngasih kado gini amat neng,” kirim Fina lagi.


“Biar seru live streamingnya,” balas Zulfitri disertai dengan tiga emot tertawa.


“Ha ha ha dasar kalian ini. Awas saja ya kalau kalian yang menikah. Kado yang sama siap meluncur.”


“Kalau saya yang menikah kadonya jangan pakaian dinas ya guys. Yang lain saja. Mangga muda misalnya,” kirim Saleha.


“Sekalian sama jambunya juga,” balas Aida.


“Kalian mau ngasih kado atau mau ngerujak sih? Ha ha ha ada-ada saja,” timpal Juliana.


“Yang nikah Fina. Yang malam pertama Nisa keknya. Nggak ikut nimbrung soalnya,” kirim Aida.


“Enak aja, wuuu. I am here keles.” Nisa akhirnya ikut nimbrung juga.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2