
Libur semester hampir usai, Nisa harus kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahnya.
Pak Ayyas yang tak bisa LDR lagi dengan istrinya memutuskan untuk ikut ke Bandung juga. Bandung, kota pendidikan. Kota pertama di Indonesia yang memiliki perguruan tinggi teknik.
Pak Ayyas mengajukan permohonan pindah tugas dari Pare ke salah satu sekolah di Bandung. Sekolah yang tentunya tak jauh dari tempat Nisa menimba ilmu.
Universitas Pendidikan Indonesia, kampus yang sangat religius. Hal ini terbukti dari diwajibkannya mahasiswa yang mengontrak mata kuliah PAI untuk mengikuti kegiatan tutorial PAI dan SPAI setiap akhir pekan.
UPI juga merupakan satu-satunya kampus di Jawa Barat yang memiliki museum di dalamnya. Ya, Museum Pendidikan Nasional. Di dalamnya terdapat berbagai hal, termasuk tentang sejarah pendidikan nasional Indonesia yang dapat digunakan sebagai sumber belajar dan pembelajaran.
Nisa membantu pak Ayyas mengemasi barang-barangnya. Setelah selesai, mereka singgah di rumah Juliana. Juliana lalu masuk ke mobil, duduk di samping Nisa.
Setelah itu, mereka ke rumah Ridwan. Ridwan duduk di depan, di samping pak Ayyas. Tak ada rasa canggung lagi di antara mereka berdua, karena pak Ayyas dan Nisa sudah saling mencintai. Sementara Ridwan sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi pada Nisa.
Pak Ayyas melajukan mobil ke Pelabuhan Nusantara kota Pare-Pare. Kali ini mereka menggunakan Pelni ke Bandung supaya bisa mengangkut mobil pak Ayyas juga. Setelah dua malam, Pelni yang mereka lewati akhirnya tiba juga di Pelabuhan Cirebon.
Berbekal google maps mereka menyusuri kota Bandung. Kota yang dikelilingi oleh pegunungan, yang membuatnya terasa sejuk dan dingin.
Di sepanjang perjalanan, terdapat banyak pohon besar dan juga bunga-bunga yang cantik. Karena keasrian inilah Bandung dijuluki dengan kota kembang.
Mereka juga melewati jalan Braga. Bangunan-bangunan berasitektur Eropa berdiri kokoh di sekitar jalan itu. Paris van Java, begitulah orang-orang menamai Bandung sebagai kota Parisnya Indonesia.
__ADS_1
Pak Ayyas mengantar Ridwan terlebih dulu. Setelah itu barulah ia ke kost Nisa dan Juliana untuk mengemasi barang-barang Nisa. Karena pak Ayyas ikut pindah ke Bandung, Nisa dan Juliana terpaksa tidak tinggal bersama lagi.
Nisa dan pak Ayyas ke kost yang telah kak Tonny pilihkan untuk mereka. Mereka membuka kost tersebut, lalu mulai menata barang-barang mereka di dalamnya. Meski lelah setelah menyetir, pak Ayyas tetap membantu Nisa merapikan kamar.
Semakin lama, pak Ayyas semakin romantis saja. Ditinggal setengah tahun oleh Nisa membuatnya jera untuk bertingkah seperti dulu lagi. Sebisa mungkin ia membuat Nisa merasa nyaman berada di dekatnya.
Setelah beberes, mereka pun mandi dan beristirahat. Malam ini mereka memutuskan untuk tidur lebih awal. Soalnya besok pagi pak Ayyas harus ke sekolah baru, tempat ia akan mengajar di Bandung hingga Nisa lulus kuliah di UPI.
Keesokan harinya pak Ayyas ke sekolah barunya. Ia langsung memperkenalkan diri di hadapan seluruh siswa atas permintaan kepala sekolah. Kulitnya yang sawo matang, postur tubuhnya yang tinggi, dan wajahnya yang rupawan membuat siswi dan beberapa guru muda menjadi klepek-klepek.
Suara bariton dan tatapannya yang teramat tajam semakin memberikan kesan cool yang luar biasa. Siswi dan guru tak tahu kalau pak Ayyas bukan single lagi. Bahkan sebentar lagi ia akan menjadi seorang ayah.
“Di sekolah ada guru baru kak. Orangnya cool beut. Tinggi, ganteng, terus tatapannya itu loh bikin melting. Mukanya mirip Chris Pratt kak, tapi yang ini versi sawo matangnya.”
“Chris Pratt? Yang mana sih?” tanya Mirna.
“Itu loh kak, aktor di Jurassic World.”
“Wow, keren dong kalau mirip itu. Jangan sampai gurunya biasa saja, cuman kamu yang memujinya berlebihan begitu.”
“Enak aja, beneran cool kak. Kalau tidak percaya datang saja ke sekolah, lihat dengan mata kepala kakak sendiri.”
__ADS_1
Tiba-tiba terlintas wajah suami Nisa di pikiran Mirna. Segera ia membuka IG Nisa, mencari foto Nisa dengan suaminya.
“Yang ini bukan?” tanya Mirna sembari memperlihatkan foto pak Ayyas dengan Nisa.
“Iya kak, yang ini. Kok kakak bisa tahu sih?” tanya Iren penasaran.
“Tahulah, ini kan suaminya teman kelasku. Ikut pindah ke Bandung karena istrinya kuliah di sini.”
“What? Maksud kakak perempuan ini teman kelas kakak, istrinya si pak Ayyas itu?” tanya Iren tampak tidak percaya dengan informasi dari kakaknya.
“Yup, kenapa shock gitu sih?”
“Istrinya B aja soalnya. Padahal pak Ayyas luar biasa tampan. Kok mau sih sama perempuan yang bentukannya culun gini.” Iren menepuk jidatnya saking tidak percayanya.
“Dipelet kali.”
“Kemungkinan terbesarnya sih iya kak, ha ha ha.”
Adik dan kakak ini tertawa ria akan tuduhannya pada Nisa.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1