My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 100


__ADS_3

“Anak yang mempermalukan orang tuanya karena hamil di luar nikah kamu sebut baik. Dimana logikamu?”


“Papa selalu menuntut kami menjadi anak yang baik. Tapi papa sendiri juga tidak pernah mencontohkannya. Papa dan mama tinggal di rumah hanya sebulan. Lalu pergi dua tahunan. Selalu saja seperti itu, tak meluangkan banyak waktu mendidik kami. Jadi siapa sebenarnya yang tidak baik, kami atau kalian?”


Mirna berteriak, kemudian mengambil vas bunga di meja. Memecahkannya di hadapan orang tuanya.


“Berani-beraninya kamu membentak papamu seperti itu. Adik dan kakak sama saja.”


Bu Filsa mendekat ke Mirna, hampir saja ia menamparnya. Tapi diurungkan karena tak ingin kejadian tadi siang terulang.


“Seharusnya papa dan mama tidak usah pulang. Bukannya mengurangi beban Iren, malah memperkeruh suasana. Kalau terjadi apa-apa pada Iren, kalian yang harus bertanggungjawab.”


Bulir-bulir bening membasahi wajahnya. Dengan setengah berlari ia ke kamar, mengunci diri.


Mirna bisa kuat tinggal jauh dari orang tua karena ada Iren yang menemaninya. Itulah kenapa Mirna merasa sangat takut jika terjadi apa-apa pada adiknya.


Di mata orang lain, orang kaya seperti mereka pasti selalu hidup bahagia. Tak ada celah untuk bersedih, karena apa pun yang diinginkan pasti bisa diwujudkan.


Yang orang lain tak tahu adalah mereka sebenarnya kekurangan kasih sayang orang tua. Sejak kecil hingga sekarang, orang tua mereka selalu ke Belanda mengurus bisnis.


Pulangnya hanya dua tahun sekali, itupun paling lama cuma sebulan.


Rasa bersalah kini menyeruak di hati orang tuanya. Bagaimana tidak? Pengakuan Iren dan Mirna sama persis. Kedua anaknya ini membutuhkan kasih sayang ayah dan ibu.


Tapi yang mereka lakukan hanyalah mencukupi kebutuhan finansial anaknya.Tidak memperhatikan bahwa mereka berdua juga butuh diperhatikan seperti anak lainnya.


****


“Sa, ini Iren adiknya Mirna yang kamu bahas hari itu? Kenapa dibantu? Bukannya dia calon pelakor ya?" kirim Juliana via WhatsApp.


“Iya, Iren yang itu. Dibantulah Jul, orang mau bunuh diri kasihan kalau dibiarkan begitu saja. Sebagai guru yang baik, my husband juga harus ngasih contoh yang baik lah ke siswanya.”


“Cuman mau bilang hati-hati. Pelakor sekarang tidak pandang umur shayyy. Alasannya mau bunuh diri apa?”


“I do not know Jul. Dari tadi, dia tidak mau cerita. Dianya lagi depresi berat. Kalau ditanya-tanya, jangan sampai kumat. Bisa niat bunuh diri lagi nanti.”


“I wanna tell you something. Tapi jangan bilang ini ghibah ya! Perutnya Iren besar Sa. Kayaknya dia hamil.”

__ADS_1


“Kayaknya? Forget it Jul! Bahas yang lain saja!”


Tiga hari berlalu dan Iren masih tak ingin kembali ke rumah. Bertemu Mirna yang murung di kampus kadang membuat Juliana ingin memberi tahu keberadaan adiknya. Tapi tak jadi, karena Iren melarangnya.


Di hari ke empat, Iren mulai terbuka. Ia menceritakan semuanya pada Juliana. Tak sedikit pun Juliana melakukan aktivitas lain saat perempuan di hadapannya itu bercerita. Ia begitu fokus mendengarkannya dan sesekali menanggapi jika perlu.


Iren juga mengizinkan Juliana memberi tahukan masalahnya pada Nisa dan pak Ayyas. Dengan begitu, akan lebih mudah bagi mereka untuk mencari solusi atas masalah Iren.


***


“Yang hamil siapa, yang bodynya jelek siapa. Bodymu bagus sekali dek.”


Berkali-kali, Juliana memandangi tubuhnya di depan cermin. Lalu melirik ke arah Iren.


“Aku punya tispnya kalau kakak mau. Tapi ya begitulah kak, butuh proses.”


“Yang butuh proses justru lebih baik daripada yang isntant. Then tell me the tips. If you do not mind.”


“Download aplikasi ini kak,” Iren membiarkan Juliana melihat layar gawainya.


Ada aktivitas harian di dalamnya. Pertama, mencatat berapa gelas air yang telah dikonsumsi per hari. Tiap kali meminum segelas, maka tekan satu gambar gelas. Secara otomatis aplikasi akan menyimpannya.


Kedua, catat makanan. Mulai dari 1300 hingga 1700 kalori. Jika kurang atau lebih dari angka itu, maka misi dinyatakan gagal.


Hebatnya, user hanya perlu memasukkan makanan yang telah dikonsumsi. Juga jumlah porsinya. Aplikasi akan menghitung jumlah kalori dari semua makanan tadi. Jadi mudah untuk mengontrol sedikit banyaknya makanan yang user makan.


Ketiga, timbang dan catat berat badan. Lakukan di pagi hari saat kondisi perut sedang kosong. Bukan melalui Fita. Userlah yang menimbang sendiri. Aplikasi hanya membantu mencatat progressnya.


Keempat, lakukan olahraga selama 30 menit. Tiap kali selesai melakukan olahraga, catat lagi. Jenis olahraga apa dan durasinya.


Kelima, jalan sebanyak 2000 langkah. Cukup tuliskan durasi berjalan dan aplikasi akan menentukan jumlah langkah yang user lakukan.


Keenam, pengenalan tentang lemak. Di tool ini juga menyajikan beberapa resep makanan setiap harinya.


“Aplikasinya keren sekali dek. Benar-benar free tapi pro. Terima kasih ya sudah diberi tahu. By the way, itu irisan mentimun disimpan di atas mata begitu buat apa? Kakak sering lihat di TV, tapi belum tahu gunanya apa.”


“Ini demi kebersihan mata kak. Skefo, rajin konsumsi bayam juga dapat membersihkan mata.”

__ADS_1


Di tengah-tengah perbincangan mereka, terdengar suara Nisa dan pak Ayyas di luar.


“Masuk saja Sa, pintunya tidak terkunci.”


“Apa kabar dek? ”Nisa memeluk Iren yang tengah duduk di atas tempat tidur.


“Alhamdulillah. Baik kak,” ucapnya sembari membalas pelukan Nisa.


“We bring these for you guys.”


Nisa meletakkan kresek bening berisikan jeruk, mangga, dan alpukat. Ia sengaja membeli buah ini karena baik bagi perempuan yang tengah mengandung.


Pasangan suami istri ini memutuskan untuk pulang setelah memastikan kondisi Iren baik-baik saja.


Sesampainya di rumah, Nisa langsung memasak ikan kesukaan pak Ayyas. Tak lama setelahnya, mereka pun menyantapnya.


“Enak sekali sayang. Bagaimana kalau kita bawakan untuk Iren juga? Bagus untuk perkembangan otak janinnya. Supaya dia tidak anemia juga. Selain itu, makan ikan bisa meningkatkan kualitas tidur. Cocok sekali untuk Iren, kalau tidurnya bagus moodnya juga mengikut.”


Nisa tidak bicara, hanya mengangguk. Ia yang tadinya makan dengan lahap, kini terdiam. Dengan senyum yang sedikit dipaksa, ia mengambilkan beberapa potong ikan untuk Iren.


Dengan senang hati pak Ayyas mengantarkannya untuk Iren. Bukan sekali dua kali saja pak Ayyas seperti ini. Hal ini menimbulkan konflik batin pada Nisa.


***


“Sa.” Juliana membuyarkan lamunan Nisa.


“Ha? Ada apa Jul?”


“Do not you feel kalau pak Ayyas itu care sekali ke Iren?”


“Iya, memang care sekali. Apa-apa dikaitkan ke Iren. I just feel kalau dia kayaknya suka sama anak itu. Semoga saja tidak, tapi kenyataannya? Huftt. Kalau kamu jadi aku, jealous atau tidak Jul?”


“Kalau di posisi kamu? Ya jealouslah. Istri mana yang tidak jealous melihat suaminya perhatian ke perempuan lain? Apalagi kalau secantik Iren, auto meradang.”


Ucapan Juliana membekas di relung hati Nisa. Hipotesisnya tentang perasaan pak Ayyas ke Iren semakin menjadi-jadi. Akan tetapi, kejadian dengan bu Susan dulu membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak. Harus tabayyun dulu sebelum menjudge orang lain.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2