My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Kita Semua Bodoh


__ADS_3

“Saya terlalu bodoh. Sudah belajar sungguh-sungguh tapi tetap saja di urutan 17. Padahal saya sangat berharap bisa masuk 10 besar juga seperti kalian,” keluh Dania.


“Saya juga bodoh. Dari dulu selalu di urutan 28. Padahal saya juga sudah belajar lebih giat dari sebelumnya,” balas Fina.


“Iya, sama. Jangankan masuk 10 besar. 50 besar saja saya tidak pernah,” keluh Zulfitri.


“Yang lebih bodoh di antara kita itu saya. Saya bahkan tidak pernah masuk urutan 100. Enak ya jadi cerdas seperti Nisa, Juliana, dan Saleha. Selalu saja masuk 10 besar,” tambah Aida.


“Kalian ngomong apa sih guys. Saya itu cuman hebat di teori, tapi buruk di penerapan. Saya justru iri sama kalian, EQ kalian bagus. Tidak seperti saya, IQ lumayan tapi EQ? Hufttt,” Nisa ikutan ngeluh.


“Saya juga iri sama kalian. Kalian itu calm, nggak asal ceplos. Sedangkan saya? Pak Reski saja melabeli saya sebagai perempuan yang sangat cerewet,” ujar Juliana.


“Saya juga iri sama kalian. Kalian sangat mudah mengekspresikan diri. Sedangkan saya sangat tertutup,” ucap Saleha.


“Sudahi sedihmu guys! Kita semua bodoh di satu hal. Tapi kita juga diberikan kelebihan di hal yang lain.” Nisa menyemangati.

__ADS_1


“Iya, kita tidak boleh putus asa. Ingat materi yang diajarkan Pak Ayyas pekan lalu. Dalam surah Az Zumar ayat 39. Allah berfirman Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah,” Juliana menjelaskan.


“Pak Ayyas lagi,” ucap Nisa sembari menepuk jidatnya.


“Kalian tenang saja. Nanti kita belajar sama-sama,” tutur Saleha sembari berjalan ke kelas.


Begitulah seharusnya hubungan bekerja. Saat ada yang terpuruk, yang lain menyemangati. Bukan malah menjudge, menyalahkan, atau bahkan menjauhi.


Begitulah cerminan persahabatan. Berteman dengan penjual kasturi, akan memercikkan wangi ke sekitarnya. Begitu juga jika berteman dengan pandai besi, akan mendapat bau yang tidak enak.


Waktu berlalu dengan cepat. Saat semua murid duduk tenang di kelas, tiba-tiba terdengar pengumuman dari arah kantor.


Juliana, Saleha, dan Nisa bergegas ke taman baca. Di sana sudah ada siswa lain yang juga menunggu kedatangan pak Anwar.


Nisa mendekat ke Ridwan. Diambilnya uang hijau bertuliskan 20000 dari sakunya.

__ADS_1


“Selamat ya Ridwan, kamu hebat bisa masuk 10 besar. By the way, saya mau bayar hutang kemarin. Maaf ya karena terburu-buru saya sampai lupa untuk berterima kasih,” ucap Nisa.


“Kamu juga. Selamat ya, nilai tertinggi cieee. Nggak apa-apa lagi. Nggak usah minta maaf gitu,” balas Ridwan lalu mengambil uang dari Nisa.


“Assalamu ‘alaykum,” sapa pak Anwar pada semua siswa yang sedari tadi menungguinya.


“Wa’alaykum salam, warahmatullah pak,” jawab semua siswa.


“Untuk kalian yang masuk 10 besar, saya akan bentuk kelompok belajar. Kalian yang menjadi coachnya. Masing-masing dari kalian akan mengajar minimal 20 orang. Ini anggota kelompoknya.” Pak Anwar membagikan kertas bertuliskan nama-nama siswa.


Para coach mengambil kertas itu. Nisa mulai memperhatikan 23 nama yang akan menjadi anggotanya nanti.


“Kalau ada yang mau complaint silakan!” kata pak Anwar.


“Pak, saya tidak mau mengajar Nurul dan Fatma. Tukar sama yang lain saja pak!” ucap Nisa.

__ADS_1


“Loh, kenapa?” tanya pak Anwar butuh kejelasan.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2