My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 88


__ADS_3

“Kita mau mengembalikan dompet Kakak. Tadi kita menemukannya di depan mushallah,” jawab Nisa.


“Astaghfirullah, saya tidak tahu kalau dompet saya ternyata tercecer. Untung saja kalian jujur, mau mengembalikannya ke saya. Terima kasih ya.”


“Sama-sama Kak.”


“Oh ya, kalian ada yang pernah ikut lomba pidato atau yang semacamnya tidak?” tanya Adam.


“Juliana pernah Kak.”


“Kalau begitu nanti malam kamu gantiin Ninda ya untuk menyampaikan pesan dan kesan selama mengikuti proses PKKMB. Bisa kan?” Adam sembari melirik ke arah Juliana.


“Saya memang pernah ikut lomba pidato, tapi pidato bahasa Inggris Kak. Itu pun tidak dapat juara.” Juliana merendah.


“So what? Yang penting kamu percaya diri tampil di depan umum.”


“Saya ragu, Nisa saja Kak. Dia lebih mahir daripada saya.”


“Kamu saja, Nisa jadi MC.”


“Kalau Nisa yang jadi MC, dengan senang hati saya mau menyampaikan pesan dan kesan Kak.”


“Alhamdulillah, akhirnya dapat juga.” Adam merasa sangat lega.


Juliana dan Nisa berlatih dengan serius.


Malam harinya semua mahasiswa dan panitia sudah berkumpul di aula kampus. Segera setelah rektor datang, Nisa sebagai MC segera membuka acara malam ramah tamah.


Baru saja Nisa mulai mengucapkan salam, orang-orang sudah mulai berbisik-bisik meragukan kemampuannya. Termasuk Ira, wakil ketua BEM.


“Kamu nggak salah pilih nih? Perempuan culun begitu apa bisa tampil di depan umum? Yakin dia bisa ngeMC? Penampilannya saja beda jauh dari Ninda,” tanya Ira pada Adam.


Selain dari tatapannya yang tajam, Ira juga terkenal dengan ucapannya yang tajam. Tak jarang orang yang terluka dengan kata-katanya.


“Kita lihat saja nanti. Saya juga tidak tahu kualitasnya seperti apa,” balas Adam.


“What? Baru kali ini kamu bertindak seceroboh ini Dam. Bisa-bisanya kamu nunjuk camaba sembarangan.”

__ADS_1


“Mau bagaimana lagi Ra? Waktunya mepet, yang ditunjuk juga tiba-tiba berhalangan. Seadanya sajalah, tidak perlu sewow keinginan kamu. Malam ramah tamahnya bisa berjalan dengan baik saja kita sudah bersyukur Ra.”


“Depend on you lah Dam.” Ira kesal.


Sebelum malam ramah tamah ditutup dengan hiburan yang ditampilkan oleh camaba, terlebih dulu Nisa memanggil Juliana untuk menyampaikan pesan dan kesannya selama mengikuti PKKMB selama sepekan ini.


Malam ini Nisa dan Juliana tampil dengan sangat baik. Panitia lain akhirnya memuji Adam karena telah memilih Nisa menjadi MC dan Juliana untuk menyampaikan pesan dan kesannya malam ini.


Setelah acara ramah tamah selesai, semua orang bergegas pulang.


“Kalian berdua kenapa belum pulang?” tanya Adam di dalam mobil mewahnya.


“Nungguin teman, Kak. Itu, orangnya sudah datang.” Tunjuk Juliana pada Ridwan.


“Kalian naik, biar saya antar. Boleh kan?” tanya Adam ke Ira yang duduk di sampingnya.


Ira sebenarnya adalah sepupu Adam. Adam bertanya dulu ke Ira karena Ira tipe yang mudah sensi ke orang lain. Terlebih ke orang yang baru dikenalnya seperti Nisa.


“It is okay. Mereka kan udah bantu kita di kegiatan malam ramah tamah tadi.”


Tiga hari setelahnya.


Mereka bertiga berangkat ke kampus bersama. Beruntung sekali karena Nisa dan Juliana sekelas. Jadi mereka tidak terlalu merasa canggung di hari pertama kuliah.


Di kelas, Nisa memperhatikan semua gerak-gerik temannya.


Ia lihat Mirna yang luar biasa stylish sibuk dengan gawainya. Darren sibuk dengan laptopnya. Meldi sibuk VC dengan seseorang yang tampaknya adalah pacarnya. Helmiyanti menyapa satu per satu teman kelas, saking ramahnya ia.


Sedangkan Ninda yang ternyata sudah balik dari Amerika asyik berfoto dengan teman kelas yang lain, kemudian diupload di IGnya.


Pengamatan Nisa terhenti ketika dosen yang mengajar perdana di kelas Nisa akhirnya datang juga. Dosen muda dengan suara baritonnya.


“Good morning!” ucapnya.


“Good morning Sir!” jawab mahasiswa serentak.


“Nama saya Dani. Saya adalah dosen yang paling muda di sini ha ha, masih unyu-unyu ya. Karena ini pertemuan pertama, maka tidak akan ada materi. Kita perkenalan dulu. Perkenalan dirinya pakai bahasa Inggris ya. Sebutkan nama kalian, asal sekolah, cita-cita, dan sebutkan alasan kalian memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.”

__ADS_1


Pak Dani memberikan first impression yang luar biasa dengan pembawaannya yang santai dan lucu.


Perkenalan diri dimulai dari Firman. Pelafalannya standar, tapi kosa kata yang digunakan sangat baik. Kedua oleh Darren, pengenalan dirinya begitu luar biasa dengan American accentnya. Selain fasih, grammarnya juga bagus sekali.


“Nisa,” panggil pak Dani setelah memanggil nama beberapa mahasiswa setelah Firman dan Darren.


Nisa mengangkat tangannya, lalu berdiri untuk memperkenalkan diri.


“My name is Annisa. I was student in Senior High 5 Pare. I chose English Education Department because I like English. My ambition is lecturer. Thank you.”


“Cerdas nih. Bahasa Inggrisnya bagus sekali. Saya harus bisa berteman dengannya,” batin Dini.


“Perasaan waktu PKKMB dia ramah ke saya. Sampai mengajak saya untuk duduk di sampingnya. Kenapa hari ini kelihatan judes sekali ya?” batin Salsa keheranan.


Selanjutnya Helmiyanti, masih ada beberapa kalimat yang grammarnya kurang tepat. Dan seperti kebanyakan mahasiswa sebelumnya, alasannya mengambil jurusan bahasa Inggris karena bahasa Inggris adalah bahasa internasional.


Setelah itu, giliran Ninda si cantik bak Barbie. Semua mata tertuju padanya. Selain cantik, suaranya juga sangat bagus. Ninda juga ternyata sangat cerdas. Dengan British accentnya, tanpa sengaja ia berhasil merebut semua perhatian orang yang ada di kelas. Yang tadinya ribut, tiba-tiba saja menjadi diam karena memperhatikan Ninda bicara.


“Semuanya sempurna sih, tapi kesannya kayak menjiplak gitu. Nisa kan tadi bilang pilih jurusan bahasa Inggris karena suka bahasa Inggris. Terus si Ninda bilang pilih jurusan bahasa Inggris karena cinta bahasa Inggris. Bedanya hanya di like dan love.” Juliana bermonolog dalam hati.


Sekarang giliran Meldi. Meldi mengatakan kalau cita-citanya mau jadi bidan. Spontan, yang lain tertawa karena ucapan Meldi. Hal ini terlihat konyol, karena cita-citanya ingin menjadi bidan tapi ia mengambil jurusan bahasa Inggris.


Pak Dani ikut tertawa karena tingkah lucu Meldi. Setelah beberapa menit setelahnya, Pak Dani melanjutkan ucapannya.


“Pengenalan diri sudah. Sekarang kita beralih ke aturan kelas saya nantinya. Hari ini kita masih pakai bahasa Indonesia. Pekan depan kalian harus terbiasa menggunakan bahasa Inggris. Kalau tidak bisa full, boleh dicombine dengan bahasa Indonesia sedikit. Di kelas saya, kalian harus siapkan satu buku khusus untuk mencatat sepuluh kosa kata yang kalian dapat di kelas. Sertakan juga artinya. Saya akan memeriksanya di tiap pekan setelah kelas selesai. Di kelas saya, kalian juga akan lebih banyak mengerjakan project. Baik itu sendiri-sendiri maupun berkelompok. Projectnya kalian kumpulkan melalui email. Supaya lebih mudah, tugasnya kalian kumpulkan ke ketua tingkat terlebih dahulu. Nanti ketua tingkat menyatukan tugas kalian dalam satu file. Terus kirim ke email saya. Oh ya, ketua tingkatnya siapa?”


“Belum ada Pak,” jawab Dini.


“Pekan depan sudah harus ada ya.”


“Iya pak.”


“Baiklah, sekian dulu kelas hari ini. Kita lanjut pekan depan. Sekian, assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuhu.”


“Wa’alaykumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.”


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak

__ADS_1


__ADS_2