My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 59


__ADS_3

“Mau kemana siang-siang begini nak?” tanya bu Arni pada menantunya yang tampak tergesa-gesa untuk pergi.


“Ini bu, mau reunian sama teman Himpunan di kampusku dulu," balas Pak Ayyas.


“Oh, gitu. Hati-hati ya!”


“Iya Bu.”


“Om, Wahdah ikut ya.” Wahdah menunjukkan muka memelasnya.


“Kamu ini. Kebiasaan sekali mau ikut terus. Di sana tidak ada anak-anak, yang ada hanya orang besar semua. Kamu tinggal di rumah saja sama kak Nisa,” tegur bu Arni.


“Nggak apa-apa kok bu. Banyak kok yang bawa anak. Lagipula saya harus terbiasa seperti ini. Supaya nanti kalau sudah punya anak, saya tidak kewalahan lagi menangani anak yang selalu nempel kayak Wahdah.”


“Ya sudah, kamu boleh ikut.”


“Kamu beruntung sekali memiliki suami seperti Ayyas, Nisa. Adikmu saja dia sayangi seperti itu. Apalagi anak kamu nanti,” puji bu Arni setelah memastikan pak Ayyas telah pergi.


“Kasihan juga ya mama. Jadi nggak tega, tapi mau bagaimana lagi, ini perkara hati yang tak bisa dipaksakan. Sekuat apapun saya mempertahankan rumah tangga ini, kalau si Bear cintanya sama bu Susan. Saya bisa apa? Mending cerai kan? Daripada memaksakan mempertahankan rumah tangga ini sendirian,” keluh Nisa dalam hati.


“Aisyah mana ma?” tanyanya kemudian dengan cepat.


“Kebiasaan ya kamu. Kalau mama bahas tentang Ayyas, kamu pasti langsung mengalihkan pembicaraan. Aisyah ke rumah Jusma belajar kelompok.”


“Nggak kok ma,” elak Nisa atas tuduhan ibunya.


“Nisa, tamat sekolah nanti kamu langsung program anak ya! Mama juga mau kayak tetangga yang lain. Menimang cucu sendiri.”


Ucapan ibunya membuat Nisa semakin dilema. “Nisa kan masih muda ma. Bulan ini usia Nisa baru masuk 18 tahun. Pasti repot kalau punya anak,” tolak Nisa.


“Perempuan dulu itu rata-rata menikah di usia muda. Bahkan lebih cepat dari kamu, tamat SD langsung dinikahkan oleh orang tuanya. Anaknya banyak kok,” kukuh ibu Nisa.


“Itu kan dulu ma. Sekarang bukan zamannya lagi kayak gitu.”


Sementara di rumah kak Sinta, Juliana sudah selesai belajar.


“Hey Jul, mau kemana? Jalan pulang kan ke sana, bukan ke situ.”


“Tau kok Syam. Ini gue mau ke rumah Nisa,” balas Juliana dengan terburu-buru.

__ADS_1


“Gue ikut Jul,” desak Syam.


“Ngapain sih pakai acara mau ikut segala?” Juliana nampak kesal.


“Eh, nggak boleh marah-marah gitu Jul. Nisa kan teman sekolah kita. Ya nggak apa-apa dong saya ke rumahnya untuk silaturahmi.”


“Ya sudah, kamu boleh ikut.” Juliana sebenarnya kurang suka kalau Syam ikut.


“Jadi nggak bebas mau bahas apa aja sama Nisa kalau gini,” gerutu Juliana dalam hati.


“Ya elah. Ini cewek galak amat yak,” batin Syam.


Hanya melewati beberapa rumah, setelah lapangan. Mereka kini telah berada tepat di depan pintu rumah Nisa.


“Pakai kerudung Sa! Ada Syam,” teriak Juliana.


Nisa agak lambat membukakan pintu. Lantaran ia harus berpakaian lengkap dulu. Tadinya ia hanya akan menggunakan daster. Dan mau tidak mau ia harus berpakaian lengkap sekarang karena kehadiran Syam juga.


“Maaf yah jadi telat gini bukanya,” ucap Nisa.


“Nggak apa-apa lagi. Siapa suruh Syam ikut dadakan,” sahut Juliana.


“Dari tadi, sahabatmu ini marah-marah terus. Mulutnya itu nyerocos terus kayak Mak Lampir.” Syam mengadukan semua perlakuan kasar Juliana pada Nisa.


“Bahas gue muluk perasaan,” ucap Juliana kesal.


“He he maaf Ndoro Putri. Baiklah, Ndoro Putri dan Ki Sanak silakan masuk. Ayam rica-rica sedari tadi sudah menunggu di meja makan untuk disantap!” ucap Nisa dibarengi dengan senyum manisnya.


“Ya ampun, segila ini ternyata mereka kalau di luar sekolah.” Syam membatin melihat sisi lain dari Nisa dan Juliana.


“Eh, anak sholihah sudah datang. Ada teman sholihnya juga toh. Siapa namanya, Nak?” tanya bu Arni ramah.


“Saya Syam, Tante. Temannya Nisa dan Juliana di sekolah,” jawab Syam.


“Hello, sejak kapan kita berteman?” tanya Juliana sewot.


“Eh Mak Lampir bisa diam gak sih? Mau makan aja masih sewot gitu!” ucap Syam kesal.


“Kalian ini, dari tadi bertengkar terus. Ayo makan!” ucap Nisa.

__ADS_1


“Iya, daripada bertengkar lebih baik kalian makan. Makan yang banyak yah, nggak usah malu-malu di sini. Anggap saja seperti di rumah sendiri. Tante ke belakang dulu, mau petik tomat.”


“Iya tante,” ucap Juliana dan Syam berbarengan.


“Cieee, jawabnya barengan gitu. Ha ha ha.” Nisa tertawa lepas karena tingkah Juliana dan Syam yang menggemaskan baginya.


Setelah makan, Syam dan Juliana langsung mengangkat piring yang telah digunakan untuk dicuci.


“Ihhh, kalian ngapain sih? Biar saya yang angkat. Kalian ke ruang tamu saja dulu. Ada keripik ubi gula merah di meja.”


Juliana bersikukuh untuk membantu Nisa di dapur. Sementara Syam, ia berjalan ke ruang tamu. Setelah selesai, Nisa dan Juliana menyusul Syam di ruang tamu.


“Syam, kamu ada keturunan Mandar nggak sih?” tanya Nisa penasaran.


“Iya, ada. Kok tahu?” tanya Syam dengan mengernyitkan alisnya.


“Orang Mandar tuh gitu. Selesai makan, piringnya pasti langsung diangkat. Kayak Juliana,” balas Nisa.


“He he sudah terbiasa,” ucap Syam.


“Yang orang Mandar apanya kamu?” tanya Juliana mulai bersahabat.


“Bapak gue,” jawab Syam singkat.


“Tinggalnya dimana?” tanya Juliana lebih jauh.


“Polewali,” balas Syam lagi.


“Wah, wah, wah. Bisa gini ya. Ayah Juliana juga asli Polewali. Tepatnya di Mata Kali,” sahut Nisa.


“Kalau saya di desa Batetangnga,” ujar Syam.


“Keren dong. Yang banyak pohon duriannya itu kan?” tanya Nisa.


“Yup. Kapan-kapan saya ajak kalian ke sana. Bagusnya sih pas musim durian. Supaya kalian bisa puas makan durian. Nanti sekalian saya bawa ke Salu Paja’an juga.”


“Gue catet janji lu di memori otak gue. Awas saja kalau lu bohong,” ancam Juliana.


“Catet aja! Sorry ya. Gue bukan tipikal orang yang suka ingkar janji,” balas Syam.

__ADS_1


“Tuh kan mulai lagi. Baru saja kalian baikan. Eh ngegas lagi,” keluh Nisa.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2