My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Ajakan Mertua


__ADS_3

“Kamu ada kegiatan hari ini?” tanya Bu Arni.


“Tidak bu, kenapa ya?” tanya Pak Ayyas balik.


“Ibu mau ke Enrekang, kalian mau ikut tidak?” tanya Bu Arni lagi.


“Boleh bu,” jawab Pak Ayyas.


“Ajak ibumu juga kalau mau ikut,” tambah Bu Arni.


“Nanti saya jemput mama juga bu. Setelah itu ke rumah ibu,” Pak Ayyas menjelaskan.


“Ya sudah, ibu tunggu yah nak. Assalamu ‘alaykum,” ucap Bu Arni mengakhiri telponnya.


“Wa’alaykumsalam warahmatullah bu.”


“Ada apa pak?” tanya Nisa.


“Ini...Ibu mengajak kita jalan-jalan ke Enrekang,” jawab Pak Ayyas.


“Hari ini?” tanya Nisa lagi.


“Iya. Buruan mandi! Setelah itu kita ke rumah mama dulu,” titah Pak Ayyas.


Dengan senang hati Nisa melakukan arahan Pak Ayyas. Diambilnya peralatan minum tadi, lalu dibawa ke dapur. Setelah itu, ia bergegas ke kamar mandi.

__ADS_1


Pak Ayyas masih duduk di taman. Dibukanya list kontak di gawainya. Ia lalu menelpon kontak yang disimpan dengan nama Mamaku Sayang.


“Halo, assalamu ‘alaykum ma,” sapanya.


“Wa’alaykumsalam warahmatullah sayang. Ada apa kamu nelpon pagi-pagi?” tanya Bu Tiara pada anak semata wayangnya itu.


“Ini ma, ibunya Nisa ngajak kita ke Enrekang. Kalau mama mau ikut mama siap-siap saja. Nanti Ayyas jemput,” ujar Pak Ayyas.


“Mau dong,” ucap Bu Tiara bersemangat.


“Okay ma, kalau begitu Ayyas mau mandi dulu ya. Assalamu ‘alaykum ma.”


“Wa’alaykumsalam warahmatullah sayang.”


Setelah mematikan gawainya, Pak Ayyas bergegas ke kamar mandi. Sementara Nisa sudah ada di kamar, ia mulai memilih baju apa yang akan dikenakannya.


“Pak mandi bebek aja!” teriak Nisa.


“Tunggu sebentar napa,” balas Pak Ayyas dari arah toilet.


“Yeee, badan doang kekar. Giliran mandi lama bet kek cewek,” ledek Nisa dengan suara pelan.


Tak lama Pak Ayyas keluar dari kamar mandi, lalu menuju ke kamar untuk berpakaian.


“Lah, kenapa pakai baju kuning pak?” tanya Nisa kesal saat melihat Pak Ayyas keluar dari kamar.

__ADS_1


“Memangnya kenapa? Bagus kok bajunya,” jawab Pak Ayyas.


“Bukan masalah bagusnya pak. Di sana tuh nggak boleh pakai baju kuning,” Nisa menjelaskan.


“Tapi kenapa?” tanya Pak Ayyas semakin diambang kebingungan.


“Itu sudah menjadi aturan di acara maccera’ manurung pak. Katanya sih pernah ada yang pakai baju kuning ke acara maccera’ manurung. Karena pakai baju kuning itulah dia kesurupan. Setelah kejadian itu pengunjung tidak diperbolehkan lagi mengenakan pakaian berwarna kuning ke acara maccera’ manurung,” Nisa menjelaskan panjang lebar.


“Gimana kalau kita coba pakai baju kuning aja Sa. Saya penasaran hal itu benar atau tidak,” saran Pak Ayyas.


“Maaf-maaf nih ya pak. Saya ini perempuan, nggak ada tuh sistem coba-coba di kamus perempuan. Perempuan tuh sukanya yang pasti-pasti pak. Kalau nggak pasti ya dilupain,” balas Nisa sewot.


“Tapi nggak apa-apa sih pak. Kalau bapak mau pakai baju kuning, pakai saja! Kan seru kalau bapak kesurupan di sana. Bapak menjadi hiburan bagi pengunjung yang lain. Orang yang membahagiakan orang lain kan berpahala pak,” tambah Nisa sembari terbahak-bahak.


“Enak aja. Ya sudah saya ganti baju dulu,” balas Pak Ayyas. Setelah Pak Ayyas mengganti baju, mereka ke garasi.


“Pak, ngapain sih lama banget?” tanya Nisa pada Pak Ayyas yang belum juga menghidupkan mobilnya.


“Kamu Sa orang lagi khusyuk berdoa diganggu,” kata Pak Ayyas kesal.


“Oh baca doa berkendara to. Ya maaf pak,” balas Nisa santai.


“Bismillahirrahmanirrahim. Subhanalladzi sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamungqolibuun,” Nisa ikutan berdoa.


Setelah Pak Ayyas berdoa, dilajukannya mobilnya ke rumah ibunya. Lalu ke rumah mertuanya.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2