
Hari ini siswa pulang lebih awal karena guru akan mengadakan rapat untuk membahas tentang persiapan Ujian Nasional siswa kelas tiga pekan depan nanti. Nisa memutuskan untuk pulang duluan.
“Kenapa cepat pulang? Suamimu mana? Kenapa dia tidak mengantarmu?” tanya ibu Nisa pada anaknya yang baru saja tiba di rumah.
“Pak Ayyas ikut rapat ma,” ucap Nisa sembari duduk untuk melepaskan sepatunya.
Setibanya di kamar, Nisa langsung mengganti seragam sekolahnya. Kemudian mengambil sebungkus Fito Green untuk diseduh. Ia langsung ke dapur untuk menuangkan air hangat ke cangkir yang telah berisi Fito Green. Nisa lalu mengaduknya dengan berlawanan arah jarum jam. Setelah selesai, Nisa menghampiri ibunya untuk bercengkerama.
Sepekan ini, ia terlalu sibuk dengan aktivitas sekolahnya. Hingga tidak meluangkan waktunya untuk bercerita dengan ibunya.
“Bagaimana kondisi mama sekarang? Udah baikan?"
“Alhamdulillah, makan ubi jalar membuat cacar mama berangsur-angsur sembuh. In Syaa Allah mama juga akan rutin minum habbatussauda yang kamu kasih tadi malam. Kamu kan harus banyak-banyak belajar untuk persiapan Ujian Nasional. Kamu pulang lagi saja ke rumah suamimu. Di sana yang kamu urus cuma suamimu, jadi kamu bisa lebih fokus untuk belajar. Beda sama di sini, adik-adikmu juga kamu urusi semua. Kamu jadi tidak bisa fokus untuk belajar.”
“Habbatussauda itu Pak Ayyas yang belikan. Nisa justru tidak fokus belajar kalau ada Pak Ayyas ma,” curhat Nisa.
“Loh kenapa begitu? Ayyas kan baik sekali. Dia pasti tidak akan mengganggu kamu kalau lagi belajar. Kamu seharusnya senang bisa belajar di dekat suamimu. Ada yang support, bisa bikin kamu jadi lebih semangat untuk belajar.”
“Pak Ayyas memang baik sekali. Tidak hanya ke Nisa, tapi juga ke semua orang. Terutama ke Bu Susan.”
“Kamu ngomong apa sih? Susan itu kan mantannya. Mana mungkin menantu kesayangan mama itu peduli ke mantannya. Sementara ia sudah punya istri. Oh ya, itu kamu minum apa sih nak?”
__ADS_1
“Nisa serius ma, Pak Ayyas tu memang terlalu perhatian ke Bu Susan. Pak Ayyas bahkan lebih perhatian ke Bu Susan dibandingkan ke Nisa. Ini Fito Green ma.”
“Ya wajarlah dia perhatian ke Susan. Mereka kan rekan kerja di sekolah. Itu khasiatnya apa sih?”
“Kata Fina minum Fito Green ini bisa bikin awet muda ma.” Nisa kembali meneguk Fito Green hangat itu.
“Kamu kan masih muda nak, baru SMA loh. Kenapa sudah kepikiran minum begituan?” tanya ibu Nisa penasaran.
“Justru karena masih muda ma. Kalau minumnya setelah tua, ya jamunya nggak ngefek dong ma.”
“Kamu ini, ngomongnya sudah seperti emak-emak anak tiga saja. Mama dulu tidak begitu setelah menikah dengan papamu. Setelah menikah, mama justru tidak terlalu memikirkan penampilan lagi. Mama kan sudah laku.”
“Istri-istri dulu jarang kok yang pakai make up. Tidak ada tuh kasus suami selingkuh.” Ibu Nisa bersikukuh mempertahankan pendapatnya.
“Tidak ada yang selingkuh atau tidak ada yang ketahuan selingkuh? Nisa sudah sering mendapati kasus yang seperti itu ma. Banyak istri yang merasa bersyukur sekali memiliki suami yang baik. Katanya suaminya setia. Yang istri tidak ketahui adalah kelakuan suaminya di luar seperti apa. Suaminya genit-genit ke perempuan lain, padahal punya istri yang sangat baik di rumah. Melarang istrinya memajang wajahnya sebagai foto profil. Tapi fotonya sendiri berkeliaran dimana-mana,” ucap Nisa sewot.
“Itu bukan istrinya yang kurang merawat diri. Suaminya saja yang gatal. Lagipula kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu semua, karena In Syaa Allah suami kamu tidak seperti lelaki-lelaki yang kamu ceritakan itu.”
“Jangan terlalu naif menilai Pak Ayyas ma. Mama itu ketemu sama Pak Ayyas hanya beberapa kali. Yang serumah dengan dia, itu Nisa. Selain dari orang tuanya, Nisa lah yang paling tahu betul sifat Pak Ayyas seperti apa. Asal mama tahu saja, menantu yang selalu mama bangga-banggakan itu sama sekali bukan lelaki setia. Sampai sekarang Pak Ayyas masih terus saja berhubungan dengan Bu Susan ma. Bayangin perasaan Nisa bagaimana ma. Pak Ayyas tidak mencintai Nisa sama sekali. Ia lebih mencintai Bu Susan. Nisa cerita ini ke mama, karena Nisa muak mendengar mama membangga-banggakan Pak Ayyas terus. Selama ini Nisa diam karena Nisa pikir semuanya akan menjadi lebih baik. Nisa kira Pak Ayyas akan berubah, tapi kenyataannya dia tidak berubah sama sekali. Jujur, Nisa sudah sangat muak dengan pernikahan yang penuh kepalsuan ini ma. Nisa maunya menikah dengan lelaki yang benar-benar cinta sama Nisa. Nggak kayak Pak Ayyas yang selalu menyakiti hati Nisa. Lebih baik kami cerai saja ma. Percuma kami bersama terus kalau Pak Ayyas tidak cinta sama Nisa. Hu hu hu.”
Nisa menumpahkan semua keluh kesah yang dipendamnya selama ini di hadapan ibunya. Ia menangis sekeras-kerasnya. Ibunya merasa sangat shock sekaligus merasa bersalah.
__ADS_1
Ibu Nisa tidak menyangka, menantu yang dibangga-banggakan selama ini ternyata bukan lelaki yang baik. Selama ini, Pak Ayyas bersikap begitu baik padanya. Pak Ayyas juga sangat sayang pada Wahdah dan Aisyah. Pak Ayyas juga terlihat sangat perhatian ke Nisa.
Tapi siapa sangka, selama ini ibu Nisa ternyata tertipu oleh sikap baik Pak Ayyas. Tangis putrinya membuat hatinya terasa diiris-iris.
Hampir setahun putrinya menderita karena rumah tangganya tanpa sepengetahuannya. Bodohnya, ia malah berpikir kalau anaknya sangat bahagia hidup bersama Pak Ayyas.
“Kamu sudah menegurnya?” tanya Bu Arni sembari memberikan tisu pada Nisa.
“Nggak ma. Dari dulu Pak Ayyas kalau ditanya tentang kedekatannya dengan Bu Susan, jawabannya selalu sama. Katanya sudah tidak mencintai Bu Susan, tapi tetap saja ketemuan tanpa sepengetahuan Nisa ma.”
“Jadi sekarang mau kamu bagaimana?” Bu Arni benar-benar bingung harus berbuat apa untuk putri sulungnya itu.
“Nisa akan menjauhi Pak Ayyas secara perlahan-lahan. Biar dia sendiri yang mentalak Nisa nanti. Nisa yakin, Pak Ayyas pasti akan langsung melamar Bu Susan setelah perpisahan sekolah nanti. Jadi, kita pura-pura saja tidak mengetahui kalau Pak Ayyas selingkuh dengan Bu Susan ma. Nisa butuh bantuan mama untuk bilang ke Pak Ayyas untuk pulang ke rumah. Mama bilang ke Pak Ayyas kalau Nisa tidak bisa fokus belajar kalau ada dia di kamar.”
“Tapi itu terdengar tidak masuk akal nak,” tolak Bu Arni.
“Masuk akal kok ma. Pak Ayyas pasti nurut saja kalau mama yang minta,” bujuk Nisa.
“Baiklah, nanti mama akan coba bicarakan ini ke dia.”
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1