
Nisa menengok ke belakang. Memastikan siapa yang memanggil namanya.
“Hey Lisna, di sini juga?” tanyanya kegirangan saat melihat Lisna yang tengah berjalan ke arahnya.
“Iya Sa. Ibuku memang selalu ngajak jalan-jalan sebulan sekali ke Makassar.”
“Wizzz keren. Oh ya Lis, kita mau beli buku nih. Mau ikut nggak?” tanya Nisa menawarkan.
“Boleh, boleh.”
Mereka bertiga pun memasuki mall, lalu ke Gramedia.
Langkah Nisa terhenti pada buku bersampulkan dua tangan yang menggenggam hati.
“Ciri Istri Idaman,” baca Nisa dalam hati. Ia lalu mengambil satu eksemplar.
“Kok beli buku gini sih Sa? Udah kayak jadi istri aja,” ucap Lisna setelah melihat judul buku yang dipilih Nisa.
“Eeh, ituu, anuuu,” balas Nisa grogi. Pertanyaan Lisna membuat ia gugup seketika.
“Kita semua kan calon istri. Nah, sebelum nikah harus belajar dulu cara menjadi istri idaman itu seperti apa. Supaya kalau nikah nanti, ilmunya bisa langsung diterapin. Tidak harus menjadi istri dulu untuk beli buku gini,” ucap Juliana untuk menutupi kegugupan Nisa.
“Kalau begitu aku mau beli juga ah.” Lisna lalu mengambil satu buku yang sama.
Setelahnya, mereka kembali berkeliling. Mencari buku-buku menarik lainnya untuk dipinang.
“Guys, saya ke kasir duluan yah. Ini ibu ternyata udah nungguin dari tadi.” Lisna memperlihatkan isi chat ibunya.
__ADS_1
“Ok, Lis. Hati-hati ya!” ucap Nisa dan Juliana bersamaan.
“Sering banget yah Sa kita ngomong bersamaan gini,” ucap Juliana lalu terkekeh.
“Kayaknya kita memang sefrekuensi Jul,” Nisa ikut terkekeh.
“Ini bukunya Bu Enny,” ucap Juliana di depan sebuah buku.
"Serius?”
“Iya Sa, buku ini ditulis Bu Enny waktu masih kuliah di UIN. Kenapa ya orang-orang introvert kayak kalian suka nulis?”
“Bu Enny keren beut dah. Sudah cantik, pintar lagi. Btw, pertanyaanmu itu harus dijawab ya?”
“Iya Sa, wajib.”
“Btw orang-orang introvert apa nggak kesepian Sa?” Juliana kembali melontarkan pertanyaan.
“Kesepian kenapa Jul?” tanya Nisa. Ia masih abu-abu dengan pertanyaan Juliana.
“Soalnya orang-orang introvert suka menyendiri Sa. Kayak kurang nyaman berada di keramaian gitu.”
“Sendiri bukan berarti sepi Jul. Orang introvert tuh pikirannya sangat aktif. Jadi, sendiri sekalipun tetap berasa ramai.”
“Oh, gitu yah Sa?"
“Iya Jul. Saya mau beli buku ini,” ucap Nisa sembari menunjuk buku yang berjudul Aisyah Kekasih yang Terindah.
__ADS_1
“Keren banget tau Jul. So sweet banget deh kisah cinta Bunda Aisyah dan Rasulullah. Fans banget aku tuh sama Bunda Aisyah. Wanita cerdas yang telah dipersiapkan Allah SWT untuk menjadi pendamping Rasulullah.”
“Kalau saya lebih fans ke Bunda Khadijah si. Cara dia mendampingi Rasulullah, mengagumkan sekaleh. Tapi ngomong-ngomong kamu ada miripnya sih sama Bunda Aisyah.”
“Hah? Masa sih?” Nisa memekik heran karena perkataan Juliana barusan.
“Iya, kamu dan Pak Ayyas terpaut beberapa tahun. Seperti Rasulullah dan Bunda Aisyah.”
“Oh yang itu toh.”
“Oh ya Sa. Ini kamu beli buku Istri Idaman beneran niat jadi istri idaman yah?”
“Ya iyalah Jul. Semua perempuan juga sudah pasti mau jadi istri idaman untuk suaminya.”
“Jadi kamu mau jadi istri idaman untuk pak Ayyas?”
“Yah tergantung Jul. Kalau ternyata nantinya dia jadi suami idaman untuk Bu Susan saya bisa apa. That is why saya belajar ini untuk diri sendiri, bukan untuk pak Ayyas. Jadi, kalau nanti pak Ayyas sama Bu Susan. Saya tetap bisa nerapin ini ke lelaki yang menikahi saya. Pertanyaan kamu gini amat. Udah kayak perempuan dewasa kita.”
“Ya nggak apa-apa kali Sa. Anggap saja kita sudah dewasa, ha ha. Lagian banyak kok yang masih sangat belia tapi udah nikah.”
“Mending gitu sih Jul, daripada free es-e-eks.”
“Yoi mbak sis. Betul sekaleh.”
Setelah mengkhitbah beberapa buku. Mereka ke kasir untuk membayarnya.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
__ADS_1