
“Nice progress pak, besok sudah bisa belajar mengayuh.”
“Alhamdulillah, ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan.”
Pak Ayyas merasa senang sekali dengan progressnya subuh ini. Mukanya yang biasanya jutek, seketika terlihat begitu ramah. Bahkan terbawa sampai ke sekolah.
“Habis lu apain tuh si Bear, jadi senyum-senyum gitu Sa?”
“I taught him riding a bike this morning, Jul.” Senyum manis menghiasi wajah Nisa.
“Pantesan selama ini dia naik mobil terus. Ada bagusnya juga sih. Jadi kamu bisa ngajarin dia, makin so sweet deh jadinya.”
“Hey, kalian lagi bahas apa sih?” Fina menepuk pundak Juliana.
“Ini, katanya Juliana mau ikut lomba ngaji di porseni nanti.” Nisa mengalihkan pembicaraan.
“Iya, saya mau ikut lomba ngaji mewakili kelas kita. Tapi tergantung Pak Syamsul juga nunjuk siapa. Bisa saja kan Pak Syamsul menunjuk Nisa, soalnya bacaan Qur’an Nisa lebih bagus.”
Bel pertanda apel pagi tiba-tiba mengusik percakapan mereka. Mereka yang tadinya asyik bercerita di taman depan kelas, harus bergegas ke lapangan untuk mengikuti apel.
Di apel pagi ini, Wakil Kepala Sekolah menginfokan kalau di porseni nanti akan ada tambahan lomba yang diadakan oleh mahasiswa yang sedang melakukan program KKN di sekolah. Lombanya adalah kelas terfavorit. Penilaiannya ada tiga aspek, yaitu bersih, rapi, dan menarik.
Setelah menyampaikan amanatnya, pak wakasek meminta siswa untuk langsung masuk ke kelas. Tidak berkeliaran di kantin karena dapat menghambat proses belajar mengajar.
Kebanyakan siswa yang ke kantin akan lambat masuk di matpel pertama. Jadi guru yang mengajar di jam pertama harus menunggu beberapa menit untuk memulai pelajaran, supaya siswa yang ke kantin tidak ketinggalan materi pelajaran.
Akibatnya rancangan pembelajaran yang telah disusun baik-baik oleh guru di rumah, akhirnya tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan terjadi. Ujung-ujungnya, PBM menjadi tidak maksimal.
Karena hal itu jugalah banyak guru yang suka mengajar di kelas Nisa. Karena hanya hitungan jari teman kelas Nisa yang tidak disiplin dalam belajar.
Sepulang sekolah, Pak Ayyas dan Nisa langsung ke pasar. Pak Ayyas menunggui Nisa di mobil. Mereka tidak membeli barang bersama karena takut berpapasan dengan orang yang dikenal di pasar.
“Masih ada lagi?” tanya Pak Ayyas yang sedari tadi menunggui Nisa di parkiran pasar.
“Sudah semua pak,” jawab Nisa ngos-ngosan.
“Kalau begitu tunggu di sini dulu ya. Saya mau beli sesuatu di dalam.”
Setelah beberapa menit, Pak Ayyas kembali dengan membawa dua pop ice rasa permen karet tanpa susu.
__ADS_1
“Minum dulu! Saya kasih kamu uang untuk dibelanjakan. Jangan terlalu hemat! Memanjakan diri juga penting. Belilah apa yang kamu sukai, selama itu dalam batas wajar. Kalau kamu bahagia, saya juga ikut bahagia.”
Ucapan Pak Ayyas bahkan lebih adem daripada pop ice yang diberikan ke Nisa.
“Kamu tidak salah, beli bayam saja? Biasanya kamu beli sayuran yang lain juga.”
“Sengaja pak, bayam kan rendah kalori dan seratnya juga tinggi. Jadi bisa lebih cepat kenyang. Lumayan kan untuk menghindari berat badan yang berlebih. Biar bisa kayak Popeye si pelaut, kurus dan sehat.”
“Makan bayam terus tiba-tiba bisa jadi kuat kayak Popeye itu hanya mitos Nisa. Waktu itu Erich Von Wolf melakukan kesalahan saat menyalin jumlah nutrisi bayam. Jumlah zat besi pada bayam yang seharusnya hanya 3,5 miligram ditulis menjadi 35 miligram. Karena hasil riset inilah sehingga bayam dibanggakan selama 60 tahun. Sampai ada studio yang meluncurkan kartun Popeye si pelaut, kartun yang identik dengan makan bayam langsung jadi kuat gitu.”
“Yaaahhh, gagal deh jadi kayak Popeye.”
“Ngapain kamu mau jadi Popeye? Kamu kan cewek. Yang benar itu kamu jadi Olive, saya yang jadi Popeye.”
“Bapak malah lebih mirip Bluto. Suka mengganggu Olive.”
“Tapi kamu suka kan?” Dan lagi, Pak Ayyas memasang wajah mesumnya.
“Iyuhhh, the king of kePDan.”
Setelah menyimpan bahan makanan di kulkas, Nisa dan Pak Ayyas lalu ke kamar untuk beristirahat.
“Tadi saya lihat pulpen ini, cantik banget tau pak. Jadi, saya beli dua. Satu untuk saya dan satu untuk bapak. Biar couple kita.”
“Sama-sama pak.” Nisa kegirangan melihat Pak Ayyas memasukkan pulpen yang ia beli tadi ke dalam tas.
Adzan asar berkumandang, Pak Ayyas langsung ke mesjid untuk shalat asar di sana.
“Sudah lama saya tidak membuka HPnya. Cek ah mumpung dia ke mesjid.”
Nisa mengambil gawai Pak Ayyas. Ia senang sekali saat membuka gawai Pak Ayyas yang sudah tidak memakai sandi sama sekali. Tapi keceriaan itu tiba-tiba berubah menjadi lara ketika membaca chat dari Bu Susan.
“Saya tidak yakin kalau lewat chat. Kita harus ketemu langsung untuk bicara empat mata. Saya tunggu di taman kota sore ini.”
“Jangan harap bisa bicara empat mata dengan suami saya bu,” batin Nisa. Ia kesal sekali membaca chat dari Bu Susan.
Nisa bergegas menyembunyikan kunci mobil Pak Ayyas agar tidak bisa menemui Bu Susan
di taman kota nanti.
__ADS_1
“Nisa, lihat kunci mobil tidak?” Pak Ayyas langsung mencari-cari kunci mobilnya sepulang shalat asar.
“Kenapa tanya saya pak? Saya kan tidak bisa bawa mobil."
"Siapa lagi yang akan saya tanya selain kamu? Di rumah ini kan cuman ada kita berdua."
"Iya juga yah. Cari baik-baik pak! Mungkin kuncinya tercecer.”
Hingga pukul lima, kunci mobil tidak berhasil Pak Ayyas temukan. Dengan berat hati ia meminta maaf ke Bu Susan karena tidak bisa menemuinya sore ini. Ia berjanji akan menemui Bu Susan segera kalau kunci mobilnya sudah ketemu.
Pak Ayyas lalu memutuskan untuk ke mesjid dulu, karena adzan magrib sudah berkumandang.
Dengan cepat Nisa menyimpan kunci mobil di
bawah buku. Ia takut ketahuan jika kelamaan menyembunyikannya. Di pikirannya, Bu Susan dan Pak Ayyas tidak akan ketemu hari ini. Karena janjiannya sore, sedangkan ini sudah masuk waktu magrib.
“Di sini rupanya. Perasaan saya simpannya di tas. Kenapa jadi di bawah buku ya? Mungkin saya kurang minum. Jadi tidak fokus gini,” batin Pak Ayyas yang berhasil menemukan kunci mobilnya ketika akan membaca buku.
Pak Ayyas memang sering membaca buku sepulang shalat isya di mesjid.
“Mau kemana pak?” tanya Nisa pada Pak Ayyas yang akan melangkah keluar rumah dengan membawa kunci mobil di tangannya.
“Ada urusan penting di luar.”
“Saya ikut ya pak. Saya takut sendirian di rumah,” rengek Nisa.
“Saya cuman sebentar kok. Kamu di rumah saja
ya!”
“Sepenting apa sih urusan bapak di luar? Sampai-sampai saya tidak boleh ikut. Berapa kali harus saya bilang pak, kalau saya takut ditinggal sendirian di rumah.”
Nisa menjadi emosi melihat Pak Ayyas bersikukuh untuk menemui Bu Susan.
“Kalau kamu mau ikut, lebih baik saya tidak keluar.” Pak Ayyas masuk ke kamar dengan perasaan kecewa.
Nisa mematikan lampu. Malam ini ia tidak memainkan gawainya karena kelelahan berkeliling di pasar tadi siang.
Dengan sengaja ia memeluk Pak Ayyas, agar tak ada kesempatan lagi bagi Pak Ayyas untuk menemui Bu Susan saat ia sudah terlelap nanti.
__ADS_1
“Anak ini sudah tahu betul dengan sikapku. Tahu saja dia kalau saya ada niat untuk keluar rumah setelah ia terlelap,” batin Pak Ayyas.
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak