My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Eps 56


__ADS_3

Sahabat-sahabat Nisa ikut bergabung dengan Nisa dan Juliana.


“Dan teringat saat kepergianmu. Kutaburi bunga mawar untukmu.” Dania menyanyikan lagu ayah mengikuti suara Tegar yang diputarnya di gawainya.


“Dan berdoa untuk melepaskanmu. Ayah, berlinang air mataku.” Lanjut Aida dan Fina. Zulfitri, Saleha, Juliana, dan Nisa tidak ikut bernyanyi.


“Guys, saya ke toilet dulu ya.” Nisa melangkah cepat meninggalkan kelas, tapi tidak ke toilet.


Ia justru melangkah ke mushallah untuk melakukan shalat dhuha. Mengadukan semua pedih pada Sang pemberi ketenangan hati, Allah.


“Maksud kamu apa sih Dan menyanyikan lagu ayah di dekat Nisa?” tanya Juliana sedikit emosi.


“Apa sih Jul marah-marah? Nggak ada maksud apa-apa. Kita cuman pengen nyanyi aja.”


“Nyanyi sih nyanyi tapi jangan lagu ayah. Nisa kan masih dalam kondisi berduka. Kalian tidak lihat matanya masih sembab?”


“Paling habis nangis karena melepas rindu ke kamu,” balas Aida. “Iya, beberapa hari ini Nisa baik-baik aja kok. Nggak sedih,” tambah Zulfitri.


“Nggak mungkin kan Nisa ngumumin ke kalian kalau dia lagi sedih,” ucap Juliana.


Ucapan Juliana membuat suasana tiba-tiba hening. Untung saja bell masuk berbunyi, jadi mereka kembali ke tempat duduknya masing-masing.


Pak Jafar, guru biologi memasuki kelas. Setelah berdoa, ia mulai mengabsen siswa. “Annisa . . .”

__ADS_1


“Ke toilet pak,” sahut Juliana cepat.


Setelah mengabsen siswa, Pak Jafar mulai menjelaskan tentang materi genetika. Nisa mengucap salam di tengah-tengah pembelajaran. Pak Jafar yang baik hati mempersilakan Nisa untuk masuk.


“Kondisi fisik anak cenderung diturunkan oleh gen ayahnya. Contohnya bentuk dan ukuran gigi anak didominasi oleh gen ayahnya. Gen ayah juga mempengaruhi tinggi badan anak lebih dari gen ibu. Ayah yang tinggi biasanya akan memiliki anak yang lebih tinggi. Sedangkan gen yang mempengaruhi kecerdasan didominasi oleh gen ibu. Jadi, kalau kalian ingin memiliki anak yang tinggi, bisa kalian usahakan dengan menikahi lelaki yang tinggi. Jika ingin memiliki anak yang giginya bagus, juga bisa kalian usahakan dengan menikahi lelaki yang giginya bagus. Jika ingin memiliki anak yang cerdas, maka nikahilah perempuan yang cerdas. Tapi ingat, ini semua hanya hasil riset. Manusia bisa berusaha, tapi hasilnya tetap Allah yang menentukan. Sebagus apapun fisik ayahnya dan secerdas apapun ibunya, jika Allah berkehendak lain maka bisa saja anaknya lahir dengan kondisi kurang gagah dan kurang cerdas. Tapi tenang saja, anak yang kurang gagah bisa kalian ajari untuk berpenampilan menarik sehingga enak dipandang. Anak yang kurang cerdas bisa kalian siasati dengan banyak belajar.”


“Pantas saja Aisyah dan Wahdah tinggi, tapi kenapa saya pendek ya? Anak angkat? Ya kali anak angkat, muka saya kombinasi muka mama dan papa. Papa jelek, mama juga jelek. Hasilnya ya jelek kuadrat, ha ha. Tapi kenapa Wahdah dan Aisyah cantik sih? Jeleknya mentok di saya semua. Huh, kezzel. Kecerdasan? Bisa jadi sih. Papa waktu sekolah sering jadi juara kelas, mama juga. Yeyyy, smart kuadrat. Hadeh Nisa, lu kebanyakan muji diri sendiri.” Nisa bermonolog dalam hati.


Bell pulang menyadarkan Nisa dari lamunannya. Pak Jafar keluar kelas. Siswa kembali berkumpul untuk belajar kelompok.


Kali ini Nisa memilih untuk duduk sendiri, menunggu Pak Anwar datang. Sahabatnya yang lain merasa tidak enak untuk mendekati Nisa setelah kejadian di jam istirahat tadi. Kecuali Juliana, ia tetap duduk di samping Nisa.


“Wizzz para alpha girl lewat,” ucap Hafidz saat melihat Firda dan teman gengnya lewat.


“Alpha girl apaan kayak gitu. Suka cari masalah dan merendahkan orang lain. Merasa gengnya paling waw. Mana ada dari mereka yang jadi coach. The real alpha girl tu mereka,” tunjuk Syam pada Juliana dan Nisa.


“Entahlah. Kalau gue nikah nanti. Gue bakal nikahin cewek yang bentukannya kayak mereka.”


“Benar juga ya kata orang-orang. Seburuk apapun lelaki, pasti akan memilih perempuan yang baik-baik juga untuk dinikahi.”


“Hah? Lu ngehina gue buruk? Parah lu Fidz. Tapi secara tidak langsung lu ngakuin mereka perempuan yang baik-baik. Kemakan lu sama omongan lu sendiri.”


“Nggak ada, nggak ada. Lu salah denger. Gue sih tetap mau nikahin salah satu dari gengnya Firda.”

__ADS_1


“Serah lu dah Fidz. Ora urus.” Syam berlalu meninggalkan Hafidz. Ia lebih memilih untuk bergabung bersama Ridwan. Selain karena Ridwan anaknya sopan, juga karena menurutnya Ridwan akrab dengan Nisa.


Setelah selesai belajar kelompok, Nisa dan Juliana pulang bersama. Ternyata Pak Ayyas belum pulang, ia ada di parkiran menunggui Nisa.


“Kalian berdua cepat masuk! Sebelum dilihat yang lain,” perintah Pak Ayyas. “Nggak pulang ke rumah kan? Soalnya nanti malam mau bacakan dongeng sebelum tidur untuk Wahdah.”


“Iya bawel.” Nisa dan Juliana memasuki mobil. Segera Pak Ayyas mengantar Juliana pulang.


“Pak, kita mau kemana sih? Ini bukan jalan ke rumah,” tegur Nisa. “Kita ke Taman Kota, menikmati sunset sambil minum jus.”


Sesampainya di Taman Kota, mereka langsung memesan makanan dan minuman.


“Jus melon 1. Tela-tela 1,” tulis Nisa di atas kertas kecil di hadapannya. Ia lalu mengoper kertas itu ke Pak Ayyas. Pak Ayyas menulis jus melon dan menghapus pesanan tela-tela Nisa. Diganti menjadi piscok.


“Kenapa dihapus pak? Saya kan sukanya tela-tela bukan piscok.”


“Moodmu lagi tidak bagus. Jadi makannya coklat. Coklat itu bisa memperbaiki mood,” ucap Pak Ayyas.


“Darimana ya Bear tahu kalau saya lagi bad mood?” Nisa bertanya-tanya dalam hati.


Nisa tidak tahu kalau waktu shalat dhuha tadi, Pak Ayyas juga mau shalat dhuha. Tapi karena melihatnya menangis sejadi-jadinya di saat shalat, Pak Ayyas memutuskan untuk kembali ke mushallah setelah Nisa ke kelas.


Kalau Pak Ayyas masuk, terus dilihat Nisa. Nisa pasti malu untuk berdoa sambil menangis. Sementara Pak Ayyas tahu kalau menangis bisa melegakan hati Nisa.

__ADS_1


Pak Ayyas tidak tahu cara yang paling tepat untuk menghibur Nisa. Yang dia tahu cara mengembalikan mood perempuan ya dengan makan. Selama ini, cara itulah yang dia terapkan ke Nisa. Makanya dia bela-belain menunggu Nisa pulang untuk diajak makan-makan di Taman Kota. Dengan harapan mood Nisa akan membaik setelahnya.


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2