
Sepekan berlalu, Iren tak kunjung pulang. Bu Filsa dan pak Radit kini dirundung kekhawatiran. Mereka takut terjadi apa-apa pada putri bungsunya.
Mereka kemudian membuat berita orang hilang. Di situ tertera “Barang siapa yang berhasil menemukan orang ini akan diberi uang sebesar 100 juta.”
Iren terharu atas usaha kedua orang tuanya. Sempat terbesit di benaknya kalau ayah dan ibunya tidak peduli sama sekali. Tapi sekarang sudah tidak lagi.
Bersama Juliana, Nisa, dan pak Ayyas, ia pulang. Kedua orang tua dan kakaknya menyambut haru.
Mata Mirna semakin berkaca, melihat yang datang membawa adiknya adalah orang yang paling ia benci di kelas.
“Maafkan kami sayang, sudah gagal menjadi orang tua yang baik. Mulai saat ini mama dan papa janji tidak akan mengabaikan kamu lagi nak. Apa pun masalahmu, kami akan selalu bantu untuk menyelesaikannya.” Pak Radit dan bu Filsa lalu memeluk Iren.
“Iren juga minta maaf ma, tidak bisa menjaga diri. Iren juga sudah lancang membentak mama dan papa.” Air mata berlinang membasahi pipinya.
Tiba-tiba mereka semua menjadi panik saat Iren memegangi perutnya yang semakin kram. Paha dan punggungnya juga terasa semakin nyeri. Sudah dari tadi juga M*ss Vag-nya mengeluarkan lendir seperti keputihan.
Iren kemudian dibawa ke gedung bertingkat, yang selalu identik dengan warna putih atau hijau itu. Tiga puluh menit pun berlalu.
Ayah dan ibu Iren sujud syukur ketika mendengar suara tangis bayi dari ruang bersalin. Dokter keluar dan mengizinkan mereka masuk.
Segera, pak Radit mengadzani cucunya. Seharusnya ini dilakukan oleh Abdur. Tapi apa boleh buat, mantan pacar anaknya itu tak ingin bertanggungjawab.
Pak Radit benar-benar kesal anaknya diperlakukan seperti itu. Setelah tiga hari kelahiran cucunya, ia mendatangi kediaman Abdur.
Dengan tegas ia meminta Abdur menikahi anaknya. Bahkan sampai mengancam akan membawa masalah ini ke ranah hukum jika tidak mau. Tapi tetap saja orang tua Abdur tidak mengizinkan anaknya untuk menikah muda.
“Saya sudah bicara baik-baik. Tapi bapak masih menolak. Baiklah, kita selesaikan ini di pengadilan.”
Pak Radit melangkah keluar, dari rumah yang tak seberapa mewah jika dibandingkan dengan rumahnya. Segera ia mengunjungi kantor pengacara handal di Bandung.
Pengacara di kantor ini berhasil mendesak Abdur untuk melakukan tes DNA. Hasilnya menunjukkan kalau anak yang dilahirkan Iren memang darah daging Abdur.
Karena tetap tak ingin bertanggungjawab, Abdur dijatuhi hukuman 15 tahun penjara. Keluarganya yang selama ini kebal hukum, kini tak berdaya di tangan pak Radit. Uang bekerja jauh lebih baik daripada jabatan.
Di sisi lain, pak Ayyas dan Nisa berbincang-bincang. “Kasihan sekali Iren, anaknya lahir tanpa ayah. Ini bisa berdampak buruk bagi kondisi psikologis anaknya nanti.”
“Iya. Kasihan,” tutur Nisa tidak karuan. Ia memegangi perutnya yang kian sakit.
Pak Ayyas langsung membawa Nisa ke rumah sakit yang sama, tempat Iren melahirkan. Bedanya, anak Iren perempuan. Sedangkan Nisa melahirkan bayi lelaki.
Pak Ayyas mengadzani jagoan kecilnya, Ayyas kedua. Anak dan ayah ini benar-benar mirip dari segi fisik. Yang tak sama hanyalah warna kulit mereka, sang putra agak lebih putih dibanding ayahnya.
__ADS_1
“Terima kasih sayang. Kamu telah membuatku menjadi pria, suami, bahkan seorang ayah. I have a new request, will you?"
“Apa?” tanya Nisa dengan sedikit lemas.
“Izinkan saya berbagi cinta.” Pak Ayyas berujar dengan ekspresi tanpa dosa.
Hal ini membuat Nisa geram sekali. Baru saja melahirkan, dengan entengnya suaminya meminta izin untuk berbagi cinta.
“Terserah bapak saja. Toh saya sudah melakukan semua yang terbaik untuk hubungan kita. Kalau ternyata itu tidak cukup, silakan ke perempuan lain yang lebih bisa membuat bapak bahagia. Tapi sebelum melakukan itu, ceraikan saya dulu. Anak kita juga saya yang ambil hak asuhnya.”
Kali ini tekad Nisa benar-benar bulat. No excuse bagi pak Ayyas untuk mempermainkan perasaannya.
Sudah tak ada kesempatan kedua buat lelaki dewasa ini berbagi cinta pada perempuan lain. Seperti yang pernah ia lakukan padanya dan bu Susan dulu.
“Maksud kamu apa bicara seperti itu sayang?”
“Apa ucapan saya tidak cukup jelas? Mau berbagi cinta ke Iren kan? Silakan saja pak! Tapi ceraikan saya dulu!”
“Iya berbagi cinta, tapi bukan ke Iren sayang.”
“Stop panggil sayang! Simpan saja sayang itu untuk perempuan lain yang telah berhasil membuat bapak jatuh cinta. Sampai ingin berbagi cinta di saat istri baru saja melahirkan. Asli, bapak adalah lelaki terjahat yang pernah saya temui.”
“Apa lelaki yang memilih berbagi cinta pada anak dan istri itu jahat?” tanyanya dengan nada lembut.
“Saya ingin berbagi cinta, ke kamu dan anak kita. Bukan ke kamu dan perempuan lain.”
“Oh ya? Kalau begitu, kenapa bapak terlalu perhatian pada Iren? Apalagi coba kalau bukan karena cinta?” Tak ada kata sayang lagi yang keluar dari mulutnya.
“Kamu ingat foto perempuan di kamar yang kamu buang dulu?”
“Foto bu Susan.”
“Bukan hanya Susan, di foto itu juga ada perempuan lain. Saya tidak membuangnya bukan karena Susan, tapi karena ada perempuan itu. That is the reason kenapa saya perhatian sekali ke Iren.”
“Apa kaitannya Iren dengan perempuan itu?”
“Perempuan itu adiknya Rahman. Persis seperti Iren, dia hamil dan pacarnya tidak ingin bertanggungjawab. Akhirnya dia depresi, lalu bunuh diri. Saya hanya tidak ingin hal yang sama terjadi ke Iren. Orang-orang yang depresi selalu merasa hidupnya tidak berarti. Makanya, kita yang ada di sekitarnya harus selalu menunjukkan kalau dia begitu penting.”
Nisa yang tadinya sangat emosi, kini terdiam. Di saat yang sama gawainya berdering tanpa henti. Pak Ayyas mendekat ke gawai itu, kemudian mengangkat panggilan masuk dari nomor baru.
“Ini atas nama siapa?” tanya kurir.
__ADS_1
“Ayyas, ada urusan apa kamu menelpon nomor istri saya?” ucapnya dengan nada meninggi.
“Ini ada paket atas nama Nisa dan pak Ayyas. Dari tadi saya ketuk pintu tapi tidak ada jawaban. Paketnya saya titip dimana pak?”
Pak Ayyas menjauhkan gawainya dari mulut. “Sayang, kamu belanja online ya?”
“Nope.” Nisa mengernyitkan alis mendengar pertanyaan suaminya.
“Salah orang dek. Saya dan istri tidak pernah membeli apa pun via online. Coba periksa kembali alamat paketnya.”
“Alamatnya benar pak, pengirimnya atas nama ibu Mirna.”
“Mirna? Kalau begitu titip saja paketnya ke ibu kost. Nanti saya ambil.”
Setelah itu, kurir tadi ke kost Juliana. Sahabat Nisa ini juga keheranan karena tidak pernah memesan apa pun. Setelah dijelaskan barulah ia mengambil paketnya.
Dengan penuh penasaran, ia membuka paketnya. Di dalamnya terdapat surat dari Iren.
Terima kasih atas tumpangannya sepekan ini. Saya belajar banyak dari kakak. Berkat nasihat-nasihat kakak, saya memutuskan untuk memakai hijab sekarang. Doakan yah supaya bisa istiqamah dengan pakaian syar’i ini. Untuk ke depannya, saya tidak akan pacaran lagi. Akan lebih selektif juga jika ada lelaki yang mendekat. Ada sedikit uang untuk kakak. Semoga bermanfaat.
“Sedikit? Uang bertumpuk-tumpuk begini dibilang sedikit? Ini mah untuk beli sawah berpetak-petak di kampung juga cukup. Ya Allah, semoga anak ini selalu bahagia dan istiqamah dalam kebaikan. Aamiin.”
Sesampainya di kost, pak Ayyas menuju ke kamar ibu kost. Mengambil paket yang katanya dari Mirna itu. Ia membukanya di samping Nisa.
Di dalam terdapat beberapa buku parenting dan perlengkapan bayi. Ada secarik kertas juga. Pak Ayyas memberikannya pada istrinya.
Dear Nisa. Terima kasih yang sebesar-besarnya telah mencegah adik saya untuk bunuh diri. Maaf juga karena telah menuduh kamu yang bukan-bukan. Pelet lah, perusak hubungan orang, kampungan. Maaf ya, saya menyesal sekali. Karena kamu saya jadi sadar, kalau Adam bukan laki-laki yang baik. I hope kamu suka buku parentingnya.
Orang tua Mirna membawa serta anak dan cucunya ke Belanda untuk menetap di sana.
Jangan lupa tinggalkan jejak kakak
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih ya readers sudah berkenan membaca novel yang tidak sempurna ini. Terima kasih juga sudah memberikan like, comment, bahkan votenya. Author minta maaf yang sebesar-besarnya kalau ceritanya tidak memuaskan readers. Jika berkenan mohon jangan dibatalkan favoritnya, karena jumlah favorit sangat mempengaruhi minat readers lain untuk membaca novel author. Untuk yang ketiga kalinya author menginformasikan, author punya novel baru. Judulnya Terlambat Menikah, silakan diintip. Semoga suka, thanks a lot and have a nice day~