My Teacher My Mate

My Teacher My Mate
Tak Perlu Izin


__ADS_3

Nisa terus memperhatikan layar gawainya. Menunggu dua centang biru dari chat yang dikirimnya ke Bu Susan.


Hanya beberapa menit menunggu, hal yang Nisa inginkan benar-benar berjalan sesuai kehendaknya. Bu Susan telah membaca chat dari Nisa.


“Astaghfirullah. Maaf yah bu, saya salah kirim.” Nisa menambahkan emot sungkem pada chatnya. Padahal niatnya memang sengaja untuk memanas-manasi Bu Susan.


“Iya. Tidak apa-apa Nisa,” balas Bu Susan cepat.


“Sepertinya Kak Ayyas sudah jatuh cinta pada Nisa. Mereka kan serumah, sudah terbiasa bersama. Lama-lama mereka akan saling jatuh cinta karena sering bersama. Padahal, Nisa mah kalah jauh sama kecantikanku. Kalau begini terus, bisa-bisa mereka saling suka. Terus punya anak. Haahh, saya tidak bisa membayangkannya. Saya tidak boleh tinggal diam. Bagaimanapun, Nisa dan Kak Ayyas tidak boleh saling cinta.”


“Salah sendiri sih bu. Jika saja ibu tidak mengusik kehidupan saya. Saya tidak akan bertindak sekonyol ini ke ibu.” Nisa bermonolog dalam hati.


Malam ini hujan turun dengan derasnya. Air hujan yang mengalir deras membawa serta perasaan possessive Nisa ke Pak Ayyas.


“Ini saya pak bukan guling,” ucap Nisa sembari mendorong tubuh besar Pak Ayyas yang tengah memeluknya.


“Saya kedinginan. Sebentar saja Nisa,” bujuk Pak Ayyas.

__ADS_1


“Pembalasan untuk Bu Susan sudah berhasil. Seru nih kalau si Bear kubalas juga. Baperin dia, terus tinggalin pas lagi sayang-sayangnya.” Pikiran licik kembali hadir di otak Nisa.


Nisa tidak melanjutkan ocehannya. Ia justru mendekat ke Pak Ayyas. Membiarkan suami yang dibencinya itu memeluknya.


“Keasyikan meluk nih si Bear. Biasanya kalau sudah shalawat gini dia pasti sudah bangun. Teruslah merasa nyaman pak. Semakin bapak cinta ke saya. Semakin sakit juga perasaan bapak nanti,” batin Nisa.


“Bangun pak! Sudah shalawat ini. Bapak tidak ke mesjid?”


“Astaghfirullah.” Nisa berhasil membangunkan Pak Ayyas yang tampak begitu lelap. Dengan terburu-buru Pak Ayyas melangkahkan kaki ke mesjid.


Sepulangnya dari mesjid, mereka kembali bersiap-siap untuk ke sekolah.


“Iya pak ganteng,” gombal Nisa. Pak Ayyas hanya diam. Tapi terpancar jelas di wajahnya kalau ia sangat bahagia dengan ucapan Nisa.


“Perlahan-lahan si Bear mulai baper. Teruslah seperti ini pak. Supaya misiku berhasil.” Nisa membatin. Selang beberapa menit mereka tiba di sekolah.


“Yang lain mana Jul?” tanya Nisa pada Juliana yang duduk hanya seorang diri di gazebo depan kelas. “Ke mushallah Sa.”

__ADS_1


“Astaghfirullah. Iya ya hari ini kan hari Jumat, saya lupa. Kamu menstruasi lagi Jul? Bukannya bulan ini sudah ya?"


"Iya Sa. Saya itu menstruasi dua kali sebulan."


"Wah, berat juga yah Jul. Btw kamu lagi ngapain sih? Kelihatan sibuk bet.”


“Ini lagi daftar SNMPTN. Di UPI bagus loh Sa. Tembak di sana yuk! Ridwan juga mau kuliah di sana. Eh sorry sorry, saya lupa kalau kamu sudah bersuami Sa.”


“Apa hubungannya Jul?” tanya Nisa keheranan.


“Kamu harus minta izin dulu ke Pak Ayyas. Nanti kalau diizinin baru boleh daftar juga,” saran Juliana.


“Ngapain izin sama dia. Kalau minta izin ke dia terus tidak izinkan. Aduh, saya sendiri yang bakal rugi Jul. Sudah tidak sarjana. Jadi istri yang tak diinginkan pula. Masih mending sih kalau tidak diceraikan. Triple Gagal dong aku,” keluh Nisa.


“Iya juga sih, kalau Bu Susan dan Pak Ayyas menikah. Kamu akan jadi janda muda Sa. Kalau kamu kuliah, kamu bisa daftar jadi guru di sekolah. Terus menikah sama lelaki yang jauh lebih baik dari Pak Ayyas. Auto nyesal deh dia menceraikan kamu.” Juliana berandai-andai.


Percakapan mereka terdengar jelas oleh Pak Ayyas yang sedang berkeliling untuk merazia siswa yang tidak bergabung di mushallah.

__ADS_1


*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak


__ADS_2