
Pak Ayyas langsung pulang ke rumah Nisa setelah rapat.
Di perjalanan, ia melihat banyak penjual buah di pinggir jalan. Hal itu mengingatkannya pada Nisa. Ia langsung meminggirkan mobilnya di salah satu stand jualan. Dan kembali melajukan mobilnya setelah membeli buah yang diinginkannya.
Nisa tengah menggoreng siomay di depan rumah ketika pak Ayyas pulang.
Pak Ayyas tersenyum lebar ke arah Nisa. Namun Nisa membalas senyuman pak Ayyas seadanya saja.
Ia tetap tersenyum ke pak Ayyas. Walau bagaimanapun, pak Ayyas masih berstatus suaminya. Ya, lelaki yang tetap wajib ia hormati.
Pak Ayyas kemudian menyimpan sepatunya di rak. Then ke dapur untuk menyimpan buah yang dibelinya tadi ke dalam kulkas.
“Kamu belanja apa lagi? Di kulkas kan masih banyak stok makanan, Nak.” Bu Arni mencoba menyembunyikan kekesalannya dengan tetap bersikap ramah pada menantunya itu.
“Cuman beli buah, Bu. Soalnya, akhir-akhir ini, saya lihat Nisa tidak makan malam. Sepertinya dia sedang diet, sementara setiap malam dia belajar untuk persiapan Ujian Nasional. Kalau dia tidak makan, darimana dia akan dapat energi untuk belajar. Makanya saya belikan buah, supaya dia bisa makan malam tanpa khawatir gemuk.”
“Apa benar ya yang dikatakan Nisa tadi? Melihat perhatian Ayyas ke dia, saya jadi ragu pada anak sendiri. Tapi selama ini Nisa juga tidak pernah membohongi saya,” batin bu Arni.
“Mau kemana, Nak?” tanyanya kemudian.
“Ke kamar, Bu.”
“Nanti saja ke kamarnya, makan dulu. Kamu pasti lapar baru pulang dari sekolah.”
Pak Ayyas yang tadinya mau ke kamar dulu, terpaksa kembali duduk untuk makan.
Tiba-tiba bu Arni merasa tidak tega menjalankan rencana yang diberitahukan Nisa tadi. Karena faktanya, selain perhatian, pak Ayyas juga terlihat begitu penurut.
Ia menunggui pak Ayyas selesai makan. Seberesnya, dengan perasaan berat, ia mengatakan kalau Nisa tidak bisa fokus belajar kalau ada pak Ayyas di kamar. Jadi untuk sementara waktu, pak Ayyas pulang dulu ke rumah.
“Kalau begitu saya tidur di kamar tamu saja, Bu.”
Bu Arni berpikir sejenak, mencari kata yang tepat untuk ia ucapkan setelah mendengar jawaban itu.
“Nisa tetap tidak akan bisa fokus, Nak. Selama kamu berada di dekatnya, dia akan terus merasa kamu itu tanggung jawabnya.”
“Semoga saja anak ini setuju. Saya tidak tau harus mengelak dengan kata apa lagi kalau dia tidak setuju.” Ia membatin khawatir.
__ADS_1
“Kalau begitu saya tidur di rumah saja, Bu. Tapi siangnya saya tetap akan ke sini. Jujur, semakin ke sini, saya semakin tidak bisa jauh-jauh dari Nisa. Boleh kan Bu?”
“Iya, tentu saja boleh, Nak. Nisa kan istrimu.”
Bu Arni sebenarnya ingin menjawab tidak, tapi tidak tahu mau jawab apa kalau pak Ayyas bertanya alasannya. “Daripada tidak sama sekali, lebih baik begini.” Ia bermonolog dalam hati.
Raut muka pak Ayyas menunjukkan kesedihan yang mendalam. Segera, ia ke kamar untuk menghindari bu Arni. Ia tak ingin kelihatan begitu lemah di hadapan mertuanya.
Seperti biasa, Nisa akan belajar di malam hari.
“Kalau lapar, kamu makan buah ya! Buahnya enak, sudah saya coba tadi. Kamu harus makan, supaya tetap fit belajar. Semangat belajarnya sayang! Sampai jumpa besok di sekolah. Assalamu ‘alaykum.” Pak Ayyas menyempatkan diri menasehati Nisa sebelum kembali ke rumah.
“Iya. Wa ‘alaykumussalam warahmatullah.”
“Andai saja bapak tidak serakah, ingin memiliki dua perempuan sekaligus, saya pasti tidak akan berbuat setega ini pak. Semua ini saya lakukan karena ulah bapak sendiri. Saya selalu melakukan yang terbaik untuk bapak, tapi tetap saja bapak masih ingin menikahi bu Susan. What a wicked man ever.”
Bayang-bayang pak Ayyas melintas sejenak di pikirannya. Tapi tak lama, semaksimal mungkin ia tak ingin memikirkan pria itu lagi.
Keesokan harinya...
Pak Ayyas memasuki kelas Nisa untuk mengajar. Materi yang dibawakan
“Ada yang bawa mushaf?” tanyanya sebelum masuk ke inti materi.
Juliana mengacungkan tangannya.
Pak Ayyas lalu memintanya untuk membaca surat Al-Maidah ayat 114.
Sesaat kemudian...
“Terima kasih bacaannya Juliana. Semoga bernilai pahala di sisi Allah, aamiin. Jadi, ayat yang dibaca Juliana tadi merupakan doa yang dipanjatkan Nabi Isa saat meminta makanan dari langit. Ayat ini juga menunjukkan kalau Nabi Isa pernah meminta rezeki kepada Allah. Hanya Allah sajalah sebaik-baik pemberi rezeki. Saya tekankan, rezeki yang diberikan kepada kita bukan hanya yang berbentuk materi seperti makanan dan lainnya yang bisa diindra. Memiliki pasangan yang sangat perhatian juga salah satu rezeki yang patut disyukuri dalam hidup.”
Pak Ayyas memberi jeda, menatap ke Nisa saat mengatakan memiliki pasangan yang sangat perhatian.
Nisa malah menaikkan alis seolah berkata Oh ya? Pak Ayyas mengangguk lalu melanjutkan penjelasannya.
“Pasangan yang saya maksud di sini adalah pasangan yang halal ya, bukan pacar. Satu lagi, kalau rezeki harta kalian banyak, tetaplah bersikap rendah hati. Tidak bisa dipungkiri, masih banyak orang yang memperlakukan orang lain berdasarkan kekayaannya. Orang kaya dimuliakan, orang miskin dihinakan. Padahal Allah memuliakan manusia tidak berdasarkan kekayaannya, melainkan dari ketakwaannya. Sampai sini paham kan?”
__ADS_1
“Paham Pak,” teriak Fatir. Siswa lelaki yang paling heboh di kelas.
“Alhamdulillah kalau paham.” Pak Ayyas lanjut berjalan ke meja guru untuk mengambil absensi siswa.
“Saya punya satu pertanyaan, yang berhasil menjawabnya akan saya kasih nilai bonus. Siapa yang bisa menjelaskan sedikit saja tentang Abu Umamah al-Bahlili?” tantangnya.
Nisa mengacungkan tangan dengan cepat.
“Ok Nisa, tolong jelaskan siapa itu Abu Umamah al-Bahlili kepada teman-temanmu!”
“Abu Umamah al-Bahlili adalah nama kunyah dari Shudai bin Ajlan. Ia merupakan sahabat Rasulullah yang tinggal di Homs dan ikut serta dalam baiat Ridwan.”
“Benar sekali sayang. Punya istri yang cerdas itu juga termasuk rezeki ya,” ucap pak Ayyas keceplosan.
Serentak siswa menatap aneh ke arah pak Ayyas.
Tatapan mereka semua membuat pak Ayyas kebingungan. Ia bertanya-tanya dalam hati. “Apa yang salah ya? Kenapa siswa menatap saya seperti itu? Astaghfirullah, saya keceplosan tadi. Aduh, bagaimana ini?”
Nisa juga dibuat kaget dengan kata-kata pak Ayyas barusan.
“Dari dulu kan sudah saya peringatkan pak, jangan keseringan panggil sayang. Hadeh, bear, bear. Keceplosan kan jadinya.” Nisa membatin.
“Maksud saya memiliki siswa yang cerdas, ha ha. Seorang guru memang harus menyayangi semua muridnya kan? Ha ha ha, kalian ini terlalu serius memperhatikan saya. Makanya saya bercanda sedikit, biar tidak tegang.”
“Ha ha, lawakan bapak bikin melek.” Juliana berusaha mengalihkan fokus teman-temannya.
Setelah berkata seperti itu, pak Ayyas kembali ke mejanya. Duduk, lalu meminum Le Minerale agar bisa fokus.
Pisah ranjang membuatnya kesulitan untuk tidur. Ia sudah terlanjur terbiasa tidur dengan Nisa. Kurang tidur itulah yang membuatnya gagal fokus saat mengajar.
“Ok, kita lanjut. Saya membahas Abu Umamah al-Bahlili untuk memberi contoh ke kalian bahwa Allah dan Rasulnya memuliakan manusia berdasarkan ketakwaannya, bukan hartanya. Abu Umamah al-Bahlili ikut serta dalam baiat Ridwan. Meskipun pada masa itu ia berasal dari kabilah Arab yang berstatus sosial rendah (Kabilah Bahilah). Ini menunjukkan bahwa Islam tidak memandang rendah Abu Umamah al-Bahlili. Karena di dalam agama Islam yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Sampai sini, ada pertanyaan?”
“Saya, Pak.” Aida mengacungkan tangannya.
“Silakan Aida!”
“Saya mau bertanya, baiat Ridwan itu sebenarnya apa sih Pak? Saya belum tahu.”
__ADS_1
“Pertanyaan yang bagus dari Aida. Jadi gini ya, Baiat Ridwan itu adalah sumpah setia yang dilakukan oleh para sahabat kepada Rasulullah SAW di Hudaibiyah.”
*Jangan lupa tinggalkan jejak kakak